Bedah Buku dan Cerita Unik Pencarian Naskah Tua Babad Banyumas Wirasaba

Kang Nass saat memperlihatkan foto Mbah Mad Marta dalam buku Babad Banyumas Wirasaba yang ditulisnya (Foto Asep)
Kang Nass saat memperlihatkan foto Mbah Mad Marta dalam buku Babad Banyumas Wirasaba yang ditulisnya (Foto Asep)

“Dari mana kita tahu naskah Babad Wirasaba ditulis tahun 1858 itu ada pada naskahnya,” katanya.

Setelah naskah itu tidak disimpan Mbah Mad Marta, naskah itu diberikan ke juru kunci Makam Wirasaba, disimpan di atas meja kecil di dalam peti kayu mirah. Yang menurutnya sangat rawan hilang.

Naskah yang memiliki sembilan puluh halaman tersebut langsung ia foto menggunakan smartphone dan dicetak.

“Meskipun hasil foto saya cetak masih lumayan terbaca. Banyak yang meragukan terjemahan saya, saya bukan ahli bahasa. Saya sangat terbuka untuk menerima masukan teman-teman ikut menerjemahkan ini nanti jadi sumber pelatinan dari naskah huruf Jawa ke pelatinan terjemahan. Jadi bisa saling mengoreksi,” pintanya.

Naskah Turunan Sejarah Wirasaba ditulis huruf jawa ketebalan sembilan puluh halaman dalam empat belas tembang macapat.

Pertama ditulis Candra Sengkala Swara Naga Giri Sangi. Kata-kata Sangi menurut Prof. Sugeng seharusnya Swara Naga Giri Nabi, yang berarti 1784 Jawa atau 1858 Masehi. Ia menilai ada kemiripan naskah Wirasaba dengan Naskah Martadirejan.

“Jadi ada kemiripan naskah Wirasaba dengan naskah Martadirejan. Naskah Martadirejan yang ditulis oleh suruhan Adipati Martadireja satu kemungkinan ditulis tahun 1816 atau 1826. Dua naskah ini termasuk naskah tua,” ungkapnya.

Dalam naskah Babad Banyumas Wirasaba terdapat pupuh macapat beserta artinya.

Ada lima pantangan yang diucapkan oleh Bupati Wirasaba Wargoutomo 1 dalam serat babad Banyumas Wirasaba dalam Metrum Megatruh. Berikut isi dari pantangannya:

1. “Anak putu aja anak kang met mantu wong ing Toyareka” yang artinya orang wirasaba tidak boleh menikah dengan orang toyareka.

2. “Lan ojo nganggo ing mbesuk jaran dawuk abrit” yang artinya jangan menaiki kuda yang berbulu dawuk abang (perpaduan warna merah dan hitam).

3. “Lawang ojo nganggo bale bapang” yang artinya jangan membangun balai bapang atau balai malang.

4. “Lan ojo ono kang mangan iwak banyak” yang artinya jangan masak ikan daging angsa.

5. “Aja lunga dina paing” yang artinya jangan bepergian hari pasaran Pahing.

“Larangan keempat dan kelima saya masih mencari dan melacak sumber mana yang menyebutkan pindang iwak banyak dan Sabtu Pahing karena dalam naskah babad Mertadiredjan menyebut hari Pahing dan ternyata babad Wirasaba hari Pahing,” ungkap Kang Nass.

Diakhir naskah dikisahkan siapakah yang menulis naskah babad, yaitu Nyai Wiramantri Wirasaba nurunaken Wiramantri loro nurunaken Wirapada nurunaken Wiracandra nurunaken Wiratirta Lurah Wirasaba nurunaken Mulyadikrama Lurah Wirasaba nurunaken Pensiunan Mantri Pensiun Mulyareja. Mulyareja lair Senen Kliwon 21 Desember 1894 tahun 46 ngili ing Wirasaba terus manggon ing Wirasaba. Ditulis 24 Agustus 1956.

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait