Bedah Buku dan Cerita Unik Pencarian Naskah Tua Babad Banyumas Wirasaba

Kang Nass saat memperlihatkan foto Mbah Mad Marta dalam buku Babad Banyumas Wirasaba yang ditulisnya (Foto Asep)
Kang Nass saat memperlihatkan foto Mbah Mad Marta dalam buku Babad Banyumas Wirasaba yang ditulisnya (Foto Asep)

“Sayangnya, karena Mad Marta sudah tidak bisa diajak komunikasi, anaknya juga tidak tahu tentang naskah itu. Saya minta foto buat kenang-kenangan akhirnya dipakaikan sarung, tapi setelah di foto sarungnya dilepas lagi,” kenang Kang Nass sambil menunjukkan foto di halaman depan buku Babad Banyumas Wirasaba.

Kang Nass merasa sia-sia, karena tidak bisa mendapatkan naskah itu, yang ternyata naskahnya sedang dipinjam.

Tahun 2020, ia diundang Dinas Arpusda (Arsip dan Perpustakaan Daerah) menjadi pembicara untuk festival pameran Dinas Arpusda seluruh Jawa Tengah di Purwokerto.

Saat ia berkeliling ke semua stand sampailah di stand Dinas Arpusda Kabupaten Purbalingga, ia langsung teringat naskah yang pernah ia minta kepada Mbah Mad Marta.

“Saya langsung ingat naskahnya Mad Marta, katanya dalam proses pengembalian tapi pengembaliannya bukan ke Mad Marta tapi ke Carik Desa,” ungkap Kang Nass.

Dari Dinas Arsip Daerah ia mendapatkan buku. Yang ternyata itu adalah naskah milik Mbah Marta sudah dijadikan buku. Judulnya Turunan Sejarah Wirasaba.

Maksud dari turunan ialah salinan, menurun. Judul aslinya Sejarah Wirasaba. Buku tersebut merupakan salinan ke 6, jadi disebut Turunan Sejarah Wirasaba.

“Di tahun 2021, saya sowan ke cariknya, ternyata naskahnya sudah dikembalikan ke Mad Marta tapi pada waktu itu ternyata Mad Marta sudah meninggal. Pihak keluarga tidak ada yang mau menyimpan, karena menurut mitos yang dipercaya oleh mereka bahwa, kalau tidak bisa membaca naskah babad tersebut dan tidak selesai dalam satu malam itu akqn mendapatkan bencana marabahaya dan untuk membacanya juga butuh biaya. Jadi Senen Kliwon, Jumat Kliwon kalau yang tidak punya uang bikin slametan tumpeng tapi dagingnya harus ayam bulu putih, kalau punya uang cukup menyembelih daging kambing putih,” jelas Kang Nass.

Menurut Kang Nass, semenjak Mad Marta menyimpan naskah sampai kemudian meninggal ternyata tidak ada satu orang pun di Desa Wirasaba yang pernah membacanya.

Saat ia sedang melakukan proses menerjemahkan dan ingin mencocokkan terjemahannya dengan orang Wirasaba yang sudah membacanya.

Dengan cara melacak 7 orang yang itu adalah teman-teman Mad Marta yang sering datang ke rumahnya.

“Dari pengakuan tujuh orang tersebut tidak ada yang pernah membacanya,” tuturnya.

Alasan tersebut membuat ia menulis di belakang buku Babad Banyumas Wirasaba: Di Desa Wirasaba tersimpan sebuah naskah tua yang ditulis tahun 1858 dan disalin tahun 1956, sayang di tempat naskah tersebut di simpan belum ada satu orang pun yang telah membacanya.

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait