Keunikan Model Pendidikan Pesantren

cilacap info featured
cilacap info featured

a. Tradisi perguruan agama berasrama atau nyantri, di mana para cantrik dan begawan atau pandhita hidup dalam satu komplek, sudah ada sejak jaman pra islam, yang tercermin dalam tradisi mandala, ashram, padepokan dan sebagainya. Namun begitu, para penyebar Islam generasi permulaan adalah para muballigh keliling, yang mengajarkan agamanya dari kampung ke kampung, atau dari masjid ke masjid.

b. Tradisi pengajaran ala pesantren tradisional (ada kiai, santri, masjid, asrama dan pengajian kitab kuning) tidak lazim di Timur Tengah, di mana yang tumbuh dari awal adalah tradisi sekolah formal atau madrasah dan universitas, seperti madarasah Hanafiyah dan Univesitas Nizhamiyyah di Baghdad pada masa Dinasti Seljuk, Perguruan Al-Azhar di Kairo yang berdiri pada masa Dinasti Fatimiyyah, atau Madrasah Shaulatiyyah di Makkah yang didirikan Pemerintah Turki Utsmani sekitar abad 18-19.

c. Tradisi pendidikan mirip pesantren yang ada di Timur Tengah adalah zawiyyah-zawiyyah (perguruan dan perkumpulan tarekat sufi) di mana ada santri yang tinggal untuk waktu tertentu, ada asrama atau rubath, ada majelis dan kegiatan pembelajaran ilmu (atau zikir), ada syaikh yang mengajar dan mengawasi perkembangan pengetahuan dan pengamalan para santri, baik secara langsung maupun melalui para pembantunya (badal/khadam). Pelajaran yang diberikan di zawiyyah lebih banyak yang terkait dengan fiqih dan tauhhid dasar dan lebih banyak tentang tasawuf, berbeda dengan yang diajarkan di madrasah-madrasah timur tengah yang lebih banyak mengeksplorasi ilmu alat, fiqih, tafsir, hadits dan ilmu kalam. Ini juga terlihat dipesantren-pesantren generasi awal yang banyak mengkaji tasawuf.

d. Pesantren baru marak pertumbuhannya di akhir abad 18, bersamaan dengan berbondong-bondongnya orang Jawi naik haji, sebagai dampak positif semakin mudahnya perjalanan ibadah haji. Seperti kita ketahui, sembari berhaji, jamaah asal nusantara biasanya juga bermukim untuk waktu yang cukup lama guna memperdalam ilmu agama. Baik kepada syaikh-syaikh lokal, maupun syaikh-syaikh pendatang dari jawa atau santri-santri senior yang telah lebih dulu bermukim. yang kedua ini lebih banyak, karena kebanyakan santri Jawah memiliki keterbatasan dalam berbahasa Arab. Selain mendalami ilmu-ilmu agama secara umum, kebanyakan santri jawa juga secara khusus mengambil bai’at satu dua tarekat sufi, dan beberapa di antaranya pulang dengan mengantongi ijazah kemursyidan.
Bukti lain dari kaitan antara tradisi sufi, madrasah formal, dan tradisi pembelajaran asli Indonesia akan penulis paparkan di bagian selanjutnya tentang kurikulum pesantren.

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait