Dari sisi internal, setidaknya pertama, ketidakmampuan partai Islam dalam menerjemahkan identitas keislaman mereka ke dalam realisasi program-program riil di masyarakat. Ketidakmampuan ini membuat partai Islam tidak memiliki diferensiasi yang jelas dengan partai-partai nasionalis! sehingga yang tampak kemudian partai Islam lebih bermain dalam wilayah simbolik daripada harus mengedepankan hal-hal yang lebih bernilai substansi. Dengan kata lain, terdapat kesenjangan antara simbol dan substansi. partai Islam tidak memperlihatkan peran yang signifikan dalam praktik politik koalisi yang mereka bangun dalam mendukung pemerintah. Keempat partai, PKS, PPP, PAN, dan PKB, saat ini berada dalam kekuasaan bersama PDI-Perjuangan.
Publik akan menilai bahwa kader-kader partai Islam yang mengusung identitas agama ternyata tidak berbeda perilakunya dengan partai yang lain. Saat itu terjadi, hukuman maupun respons publik akan lebih keras, dibanding dengan kader dari partai yang tidak membawa identitas keagamaan. partai Islam tidak memiliki pemimpin atau tokoh sentral yang mampu mengakselerasi wibawa dan pengaruhnya tidak saja di lingkungan internal, namun juga ke luar.
Untuk itu, upaya tempuh yang bisa dilakukan dalam mengejar ketertinggalan popularitas dan elektabilitas salah satunya adalah revitalisasi ideologi keislaman dengan cara mengimplementasikan ke dalam kehidupan riil di masyarakat. Agar tidak terulang kegagalan serupa pada Pemilu 2019 nanti, partai Islam hendaknya segera melakukan reposisi politiknya. Mereka harus cermat, cerdas, teliti, dan konsisten dalam mengarahkan bandul politiknya.
Partai Islam hendaknya juga tidak menjadikan paradigma kekuasaan sebagai satusatunya tujuan dan tolok ukur keberhasilan. Jika mereka belum berhasil di tingkat pusat, tingkat lokal bisa menjadi ajang kompetisi yang bermanfaat untuk membangun basis partai guna mendulang kemenangan di masa depan. Tugas utama partai Islam yang harus segera dikerjakan adalah lebih fokus pada pelaksanaan program yang mengakar dan bermanfaat bagi rakyat banyak, jadi tidak bergantung pada kampanye lima tahunan menjelang pemilu saja.
Partai Islam selain menggarap sektor basis pemilih tradisional yang masih kuat mengakar di kalangan kyai, pesantren pedesaan juga menggarap sektor pemilih pemula yang sangat besar jumlahnya (40%). Dengan masuk ke kelompok anak-anak muda, selain itu menghadirkan partai Islam sebagai partai old tapi kekinian. Partai lama tapi kekinian, partai old zaman now. Nanti akan ada yang menggarap pangsa pasar dan segmen generasi muda.
Dengan menggarap sektor pada media sosial, perang opini para political buzzer untuk mempromosikan jagoannya menjadikan dunia maya tak henti sebagai media kampanye tanpa mengenal waktu. Dengan kondisi semacam ini, pemilih muda atau milenial sesungguhnya merupakan lumbung suara jenis pemilih yang dalam literatur politik disebut sebagai pemilih rasional.
Tampilkan Semua
