Jadi kunci dari semua itu, adalah keikhlasan untuk selalu berbaik sangka. Kepada Allah, wajib. Kepada manusia berbaik sangka juga sama. Luar biasa, jadi berbaik sangka itu harus kepada alloh dan manusia serta semuanya harus sama, berbaik sangka tiada akhir. Mungkin ini bisa menyembuhkan di tengah hiruk pikuk banyak warna-warni kehidupan. Ada yang dominan, ada yang minoritas. Ada yang berimbang ada yang njomplang, yang penting bukan tirani.
Kemana saja engkau, wahai sang burung malam yang lama tidak berkicau indah, kini engkau memekak sunyi, bertembang sepi dalam kesyahduan cinta tak bertepi. Wahai mahluk malam, sunyi seperti kiamat, membuatku lebih tenang menulis, untuk membayar kontan semua hutang-hutangku dengan orang yang kutemui.
Bagiku ketemu orang serasa orang punya hutang, dikira masih menulis nulis orang. Aku bukan orang penting bagimu, ucapanku adalah kalam manusia biasa, yang sangat lemah dan tak bisa membohongi diri sendiri.
Menjadi hiperbolis dan menganak sungai, bersayap-sayap kata-kata itu mampu menyihir dan merubah keadaan. “what meaning full? ” Kebermaknaan dari kata-kata itu tidak bisa diberangus apapun! Sekalipun engkau bakar dan musnahkan buku-buku dari laci sejarah, kata-kata akan terus teringang dan terbenam dalam memori otak manusia!
Apalagi kata-kata yang punya arti dan bukti konkrit, tentu penuh kejujuran sehingga arsip-arsip yang menyejarah itu menjadi warisan terbaik bagi anak cucu yang siap disimpan dan dibaca di laci peradaban dan gudang-gudang perpustakaan bergengsi di republik ini, untuk dibaca dari generasi ke generasi selanjutnya, diharapkan menjadi contoh dan teladan dalam kehidupan sehari-hari.Engkau akan menemukan kata-kataku..Engkau akan temukan mutiara-mutiara kata-kataku yang kukemas dalam lautan sastra dan bahasa elok dibaca dan enak dikenang.
Aku tidak sedang mengeroyokmu dan menjajahmu..engkau boleh memilih apa saja…
Kembali aku baca koran yang dibawa Tedy, gaya tulisannya memang penuh talenta. Corak puitis dan sastrawi, aku lebih suka menyebutnya gaya naratif atau literair.
“Yuk temani aku ke bundaran UGM!” Ajaknya sembari menggenggam tanganku. “Yuppp!”
Kami berdua dengan sepeda motorku, melaju kencang di ujung sore. Bundaran UGM tampak sepi.
“Di sini sepi, yuk ke gedung Ekonomi!” Tapi, teman yang dicari Kang Tedy tidak ketemu. Masuk sebentar ke bag kantor. Ketemu juga, sebentar, ngobrol dengan Prof Karseno pakar ekonomi UGM.
Wawancara sebentar, cerita tentang tempe. Aku tak habis pikir.Di negeri krisis ekonomi berpuncak reformasi yang dikupas soal tempe. Entahlah, aku berkelana, karena di kampus ini juga aku ketemu Popi Ismelina, pakar anti utang Indonesia.

