Aku tidak sedang mengeroyokmu dan menjajahmu..engkau boleh memilih apa saja…
Kembali aku baca koran yang dibawa Tedy, gaya tulisannya memang penuh talenta. Corak puitis dan sastrawi, aku lebih suka menyebutnya gaya naratif atau literair.
“Yuk temani aku ke bundaran UGM!” Ajaknya sembari menggenggam tanganku. “Yuppp!”
Kami berdua dengan sepeda motorku, melaju kencang di ujung sore. Bundaran UGM tampak sepi.
“Di sini sepi, yuk ke gedung Ekonomi!” Tapi, teman yang dicari Kang Tedy tidak ketemu. Masuk sebentar ke bag kantor. Ketemu juga, sebentar, ngobrol dengan Prof Karseno pakar ekonomi UGM.
Wawancara sebentar, cerita tentang tempe. Aku tak habis pikir.Di negeri krisis ekonomi berpuncak reformasi yang dikupas soal tempe. Entahlah, aku berkelana, karena di kampus ini juga aku ketemu Popi Ismelina, pakar anti utang Indonesia.
Akhirnya, kami berdua kembali ke markas lembaga pers yang ada di pusat kota, di Jl Cik di Tiro. Hari mulai larut. Secangkir kopi, teman yang selalu setia menemani setiap malam. Rasanya memang tidaklah nikmat jika nongkrong bersama saat malam tanpa ditemani secangkir kopi di pojok kampus, angkringan Pak Tri. Ada yang bilang “Di dalam sebuah rasa kopi terkandung sebuah perasaan nikmat yang dapat dirasakan setelah bekerja seharian.”.
Tapi pernahkah kamu merasakan kopi tanpa ada sesuatu yang kamu kerjakan hari itu? Hanya rasa kopi saja yang kamu rasakan tanpa adanya makna mendalam yang kamu dapat pikirkan.
Teuku Umar, pahlawan asli Aceh pernah berujar,”Andai aku masih hidup esok hari.
Kita masih bisa minum kopi lagi.” Kopi yang warnanya hitam, membangunkan ide-ide segar yang bersemayam dalam alam bawah sadar.
Mengajak berkelana untuk menyemai cerita malam panjang sebelum pagi. (***)
Penulis: Aji Setiawan, mantan wartawan Majalah alKisah Jakarta, alumni Teknik Manajemen Industri, UII Yogyakarta dan mantan ketua PWI Reformasi Korda Jogjakarta…
Tampilkan Semua

