Mandala Mata Bumi, Situs Megalitik Miliki Banyak Pintu, Unik, dan Monumental

Mandala Mata Bumi; Situs Megalitik Unik Monumental
Mandala Mata Bumi; Situs Megalitik Unik Monumental

Adapun fungsi utama punden berundak terkait erat dengan kepercayaan lokal, animisme dan dinamisme, yang merupakan local genuine, sistem kepercayaan orang asli Nusantara, bukan agama dalam pengertian sekarang.

“Fungsi punden berundak digunakan sebagai sarana pemujaan roh nenek moyang. Masyarakat prasejarah percaya bahwa arwah leluhur bersemayam di tempat yang tinggi (gunung atau bukit), sehingga mereka membangun struktur bertingkat sebagai media komunikasi ritualnya,” jelasnya.

Ketika agama-agama masuk ke Nusantara, konsep bangunan berundak ini kemudian berasimilasi, untuk selanjutnya berpadu dengan unsur-unsur arsitektur keagamaan baru.

Dia mencontohkan, Budha-Hindu, bahkan Islam sekalipun, dengan candi-candi seperti Candi Borobudur, Prambanan, Masjid Menara Kudus, Masjid Indrapuri Aceh dan lainnya itu memiliki struktur yang menyerupai punden berundak, menunjukkan adanya kesinambungan budaya dari masa prasejarah ke masa sejarah.

“Dengan demikian, adanya punden berundak beserta stuktur kawasannya, dan unsur lainnya, kompleksitas arsitektur, dan adanya batu relief, adalah bukti fisik adanya sistem kepercayaan dan peradaban yang berkembang di masa lalu, jaman prasejarah di Gunung Subang ini, situs ‘Mandala Mata Bumi’ ini ada dan berkembang, jauh sebelum ‘agama-agama formal’ datang,” pungkasnya.

Dia menambahkan, adapun terkait adanya dugaan perkampungan purba yang berkaitan dengan situs megalitik ini belum tereksplorasi secara menyeluruh,

“Sehingga kawasan warisan budaya purbakala ini harus dipahami sebagai satu kesatuan lanskap budaya yang kompleks dengan layar kebudayaannya yang luas, bukan hanya satu titik atau satu struktur saja,” imbuhnya.

Diketahui bahwa situs megalitik yang kaya nilai tradisi budaya dan unik, bahkan keutuhannya masih terjaga hingga kini. Situs Mandala Mata Bumi berada di puncak pegunungan Subang dengan ketinggian sekitar 1.210 meter di atas permukaan laut, dengan luasan sekitar 150 Ha, berada di kawasan hutan primer wilayah Desa Kuta Agung.

Selain situs tertutup oleh vegetasi hutan yang lebat, keberadaannya yang tidak biasa, hampir tidak tersentuh aktivitas manusia selama berabad-abad, demikian akses menuju lokasi pun betapa ekstrem, dan begitu sangat sulit, maka sangat disarankan untuk menggunakan jasa pemandu lokal.

Pemandu lokal tidak hanya memberikan jasa layanan pendampingan atau informasi sejarah, tetapi juga konteks budaya dan adat istiadat setempat yang penting untuk dihormati saat mengunjungi situs sakral ini. (IHA)

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait