Berita tentang kejadian ini pada tahun 1950-an menyebar luas keberbagai tempat. Mungkin karena inilah maka para kyai dan santri banyak yang berkeyakinan as-Syaikh as-Sayyid Mahfudz al-Jailani al-Hasani masih hidup. Demikian pula Kyai Lukman bin Ibrahim, Lirap serta satu satuan kompi yang dipimpin oleh Abdur Rasyid. Karena apa yang diperbuat Allah Subhanahu wa ta’ala terhadap para kekasih-Nya adalah tidak ada sesuatu yang tidak mungkin.
Beberapa tahun sesudah tahun 50-an itu, khabar masih hidupnya as-Syaikh as-Sayyid Mahfudz al-Jailani al-Hasani sempat membuat “gerah” mabes APRIS. Mereka meminta izin pada keluarga untuk membongkar makam as-Syaikh as-Sayyid Mahfudz al-Jailani al-Hasani dengan tujuan yang untuk meyakinkan benar atau tidaknya jika Syaikh as-Sayyid Mahfudz al-Jailani al-Hasani telah syahid. Karena peristiwa kesyahidan beliau tidak diketahui oleh kalangan pasukan APRIS.
Dengan disaksikan oleh dua putera as-Syaikh as-Sayyid Mahfudz al-Jailani al-Hasani yaitu Sayyid Hanifuddin al-Jailani al-Hasani dan Syarifah Hunaifiyah, dibongkarlah tempat yang semula pernah untuk memakamkan jasad beliau. Hasilnya, jasad beliau nampak masih ada dan utuh tak kurang satu apapun seperti saat baru syahidnya. Bahkan selimut yang disertakan juga tidak mengalami kerusakan. Dokumentasi diambil oleh pihak mabes APRIS. Namun ketika hasil dokumentasi beberapa waktu kemudian diserahkan pada pihak keluarga, semuanya menjadi terkejut. Menurut keluarga (termasuk Sayid Hanifuddin dan Syarifah Hunaifiyah) Foto yang tercetak itu bukanlah wajah dari as-Syaikh as-Sayyid Mahfudz al-Jailani al-Hasani. Akan tetapi foto orang lain, sekalipun postur mirip dengan beliau dan selimut yang dipakai juga sama dengan yang dikenakannya. Bahkan para mantan anggota AOI ketika melihat foto itu, meyakini bahwa foto tersebut adalah foto rekan mereka yang syahid ketika peristiwa pertempuran melawan Belanda dan dimakamkan didesa Bandung, Kebumen.
Teka–teki tentang misteri as-Syaikh as-Sayyid Mahfudz al-Jailani al-Hasani, Kyai Lukman dan satu satuan kompi pimpinan Abdur Rasyid ini baru terkuak pada tahun 2007 kemaren. Setelah melaksanakan apa yang diarahkan oleh KH Ahmad Abdul Haq Watucongol, ayah penulis berhasil bertemu dengan kakeknya yaitu as-Syaikh as-Sayyid Mahfudz al-Jailani al-Hasani. Pertemuan ini adalah pertemuan nyata dan bukan pertemuan halusinasi atau pertemuan dengan ritual ghoib. Benar kata KH Ahmad Abdul Haq dan para sesepuh ulama bahwa Syaikh as-Sayyid Mahfudz al-Jailani al-Hasani ternyata masih hidup. Beliau kini tinggal di kota Syihr, Provinsi Hadhramaut, Yaman. Sepeninggalnya dari Indonesia, Syaikh as-Sayyid Mahfudz al-Jailani al-Hasani membangun sebuah pesantren di Syihr. Tepatnya di komplek Masjid peninggalan sahabat Mus’ab bin ‘Umair. Beliau juga mursyid Thariqah As-Syadzaliyyah terkemuka di kota tersebut. Banyak ulama–ulama khawas timur tengah yang sempat berguru pada beliau sampai dengan saat ini. Diantaranya adalah Syaikh Ibrahim Al-Asfihani yang tinggal di Suriah. Beliau adalah mursyid As-Syadzaliyyah terkenal di Suriah yang mengambil sanad silsilah thariqah dari as-Syaikh as-Sayyid Mahfudz al-Jailani al-Hasani setelah beliau tinggal di Syihr, Hadhramaut, Yaman.
Tampilkan Semua
