Saat ini potensi batu akik sungai Klawing sedang booming, setelah pesona batu pancawarna dan nagasui menjadi juara internasional di majalah Gamstone. Selain potensi batu pancawarna Klawing, ada juga potensi batu akik Bahkan batu warna yang ada di Kecamatan Karanganyar, Mrebet, Karangmoncol dan Rembang serta sepanjang sungai Pekacangan.
Menyusuri hutan, sungai-sungai mencari jejak akan pesona alam dengan berjalan-jalan di pinggir sungai Daerah Kaliori sampai Bungkanel, kec Karanganyar masih Kab Purbaligga Jawa Tengah.
Di musim kemarau, warna jernihnya air dan arus sungai ada yang menarik diambil, ya batu berwana hijau dan merah. di kemudian hari batu berwarna warna itu menjadi trade mark batu akik dari Klawing Purbalingga yakni jenis nagasui dan pancawarna, yang secara mengejutkan menjadi juara internasional kontes batu.
Di Kabupaten Purbalingga ada terdapat banyak industri, seperti industri bulu mata palsu dan wig yang merupakan industri rambut terbesar kedua di dunia setelah kota Guangzo (Cina).Industri rambut ini mampu menyerap sekitar 100 ribu pekerja perempuan yang ada di Kabupaten Purbalingga.
Sejarah awal mula adanya rambut sambung atau rambut palsu seperti sanggul, wig dan bulu mata itu dimulai di Desa Karangbanjar, Kecamatan Bojongsari sekitar tahun 1950-1951.
Orang yang memulai adalah eyang Tarmawi yang dikumpulkan dari potongan rambut itu menjadi sanggul. Rambut sanggul atau rambut tambahan itu kebanyakan digunakan saat hajatan pengantin. Peminat rambut untuk dibuat sanggul terus meningkat saat itu, hingga kerajinan membuat sanggul menurun ke anak-anak eyang Tarmawi.
Kemudian para tetangga sekitar mulai melirik usaha itu dan mulai ikut membuat rambut palsu. Hingga kini sudah ada ratusan pengrajin di Desa Karangbanjar dan menjadi sentra kerajinan rambut di Purbalingga.
Sekitar tahun 1980, kata Maryoto mulai dilakukan ke Inggris yang melihat kualitas rambut dari Indonesia sangat baik. Hingga kini, Desa Karangbanjar menjadi sentra rambut untuk dipasok ke pabrik-pabrik pembuat wig dan bulu mata dari Korea yang masuk Purbalingga sekitar tahun 2000-an.
Orang luar negeri tahu kalau rambut dari Indonesia itu bagus jadi kualitasnya tidak sama dengan India. Kemudian setelah ada pabrik wig, buku mata palsu dan aksesoris rambut lainnya.
Kehadiran industri baik industri Pabrik Besar maupun Kelompok menengah di tengah pengrajin rambut tradisonal sangat membantu karena semakin meningkat. Pengrajin juga bisa meniru desain dari pabrik modern. Banyak karyawan yang ke luar dari pabrik terus kerja di tempatnya dan mulai menerapkan model-model yang baru-baru.
Tampilkan Semua
