Satire dalam Berita, Namun Punya Etika

by
Indonesia

Opini kehidupan – Bahasa yang satire dan vulgar kerap dianggap tabu, namun sejatinya bukan berarti membuka aib orang lain. Jangan-jangan malah yang mengatakan seperti itu sedang pura-pura atau malah ikut membacanya. Inilah kehidupan, sebab manusia tak ada yang sempurna terkecuali Baginda Nabi Muhammad SAW.

Suatu kisah, penulis abal-abal yang punya etika, tak serta merta menulis suatu berita tanpa adanya fakta. Ya meskipun mengutip atau mengubah kata.

Penulis itu tidak menulis keburukan orang lain atau membuka aib, itu bararti baru dugaan, menduga, dan Bahkan bisa sebaliknnya justru penulis yang dijebloskan karena mencemarkan.

Penulis punya etika begitu juga ketika ada sebuah kisah kehidupan. Selentingan kecil itu sudah biasa bagi penulis abal-abal seperti saya.

Mas kamu kan penulis, itu di sana ada tempat pelacuran, mas di sana ada dugaan korupsi kades selidiki dan beritakan saja mas. Padahal tidak segampang dan semudah itu.

Penulis enggan mengurusi orang lain mau itu benar atau tidak benar, dan beda lagi jika sebuah kasus sudah dalam penyidikan dan ada bukti serta tersangkanya.

Hegemoni dunia dalam berita, sarkastik, satire bukan berarti tak memiliki etika. Humor dan semacamnya, apabila dibaca oleh orang yang tak suka atau kurang humor dan tegangan juga bisa repot urusannya. Orang semacam itu hanya memiliki keinginannya sendiri, dan hanya bisa mengurusi orang lain, adapun masukan tetap diterima, meski yang memberikan nasihat belum tentu menasihati dirinya.

Orang terlalu berlebihan juga tidak baik, apabila ada pendapat dari orang lain, orang tersebut akan merasa kurang. Seperti mengenai informasi mengenai ucapan kematian.

Loh ko tiba-tiba dibilang sesat, malah justru dianggap seperti kaum yang teriak-teriak anti bid’ah. Bahkan perbedaan pendapat tidak hanya terjadi di tubuh yang berlainan namun juga di tubuh yang sama. Lah wong dalam kehidupan ini juga berbeda-beda orang wataknya, namun tetap hidup rukun berdampingan.

Komentar