Kriminolog Apresiasi Polda Jateng Intensifkan Mitigasi Karhutla di Musim Kemarau 2026

ilustrasi Karhutla
ilustrasi Karhutla

SEMARANG, CILACAP.INFO – Polda Jawa Tengah mencatat ada 16 kebakaran lahan di berbagai wilayah di provinsi Jawa Tengah selama 10 hari pertama Juli 2026. Berbagai peristiwa kebakaran tersebut sebagian besar terjadi pada rentang waktu antara pukul 09.00 hingga 16.00 WIB.

Memasuki puncak musim kemarau 2026, Polda Jawa Tengah memperkuat berbagai langkah mitigasi serta antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui patroli di wilayah rawan, pemantauan hotspot, edukasi kepada masyarakat, koordinasi lintas instansi, hingga penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran.

Kriminolog alumni Universitas Indonesia (UI), Hardiat Dani mengapresiasi Langkah Polda Jateng tersebut. Langkah tersebut menunjukkan bahwa pendekatan yang ditempuh tidak lagi berfokus pada pemadaman semata, melainkan mulai mengedepankan aspek pencegahan.

Jika ditinjau dari kajian ilmiah mengenai Integrated Fire Management (IFM) dan kerangka Disaster Risk Reduction (DRR), strategi tersebut layak diapresiasi karena sejalan dengan prinsip bahwa mencegah kebakaran jauh lebih efektif dan lebih murah dibandingkan menangani kebakaran yang sudah meluas.

“Aspek yang paling layak mendapatkan apresiasi adalah perubahan orientasi dari pendekatan yang bersifat reaktif menuju pendekatan preventif. Kehadiran Bhabinkamtibmas untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, pemantauan titik panas atau hotspot, serta peningkatan kesiapsiagaan personel menunjukkan bahwa Polda Jawa Tengah memahami pentingnya membangun kewaspadaan sebelum kebakaran terjadi. Dari perspektif manajemen bencana modern, upaya tersebut merupakan bagian dari fase preparedness dan prevention yang direkomendasikan oleh berbagai organisasi internasional seperti Food and Agriculture Organization,” kata Kriminolog alumni Universitas Indonesia (UI), Hardiat Dani, di Semarang, Jawa Tengah, Minggu (19/07/2026).

Hardiat menambahkan, berdasarkan perspektif green criminology, masih terdapat sejumlah ruang penguatan agar strategi pencegahan menjadi lebih efektif.

Perspektif green criminology mengkaji bahwa sebagian besar kebakaran hutan dan lahan, khususnya di Indonesia dipicu oleh aktivitas manusia, baik karena pembukaan lahan, kelalaian, maupun faktor sosial-ekonomi lainnya.

Dengan demikian, keberhasilan mitigasi tidak hanya bergantung pada intensitas patroli, tetapi juga pada kemampuan mengubah perilaku masyarakat.

“Edukasi yang berkesinambungan, pemberian alternatif pembukaan lahan tanpa bakar, pemberdayaan kelompok masyarakat peduli api, hingga pendekatan ekonomi kepada petani merupakan bagian penting dari strategi jangka panjang. Pencegahan yang berpusat pada manusia atau human-centered prevention, justru menjadi salah satu faktor yang banyak direkomendasikan dalam berbagai studi internasional mengenai pengelolaan kebakaran lahan,” imbuh Hardiat.

Hardiat berpendapat, perkembangan teknologi juga membuka peluang besar untuk meningkatkan efektivitas mitigasi.

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait