JOMBANG, CILACAP.INFO – Tanah keramat Tambakberas kembali berdenyut. 12–14 Juni 2026, Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia Nahdlatul Ulama – LESBUMI NU – menggelar Muktamar Kebudayaan Indonesia I . Perhelatan ini bukan sekadar forum. Ia lahir sebagai jawaban ketika politik kehilangan kebijaksanaan, ekonomi menjauh dari adil, teknologi melampaui etika, dan manusia perlahan kehilangan empati.
“Barangkali yang kita perlukan bukan sekadar jawaban, melainkan kejernihan. Dan kejernihan itu seringkali tidak lahir dari ruang kekuasaan, melainkan dari kebudayaan,” tulis maklumat yang dihasilkan.
380 Kader dari Sabang sampai Merauke Rumuskan “Maklumat Tambakberas 2026”
Ratusan pengurus LESBUMI NU sejagat tumpah ruah di Jombang. Mereka mengikuti sidang-sidang intensif, lalu merumuskan manifesto kebudayaan Islam Nusantara berjudul “Maklumat Tambakberas 2026”.
“Alhamdulillah responnya luar biasa. Yang mengikuti Muktamar Kebudayaan Indonesia Lesbumi NU sekitar 380-an dari se-Nusantara. Dari cabang-cabang di Jawa, wilayah-wilayah, tapi juga dari luar Jawa – Palembang ada, Balikpapan ada, Lampung, Madura, dan bahkan dari India dan Lebanon pun ada,” ungkap panitia penyelenggara, KH M. Jadul Maula, Ketua Lesbumi PBNU.
Muktamar ini jadi ruang temu: kiai, budayawan, seniman, aktivis muda NU. Satu meja, satu tujuan: merawat akar agar peradaban tidak tercerabut.
Harapan Besar: Strategi Kreatif untuk Generasi Muda
Di tengah gempuran budaya asing yang destruktif, Muktamar menitipkan harapan besar pada LESBUMI. Para peserta sepakat: generasi muda harus tetap mencintai budaya khas Indonesia yang santun, islami, dan membumi.
“Harapan kami Muktamar Lesbumi ini menjadi wadah kreativitas kader-kader NU untuk lebih mencintai budaya khas Indonesia, dengan norma-norma agama Islam,” ujar Ahmad Jazuli, Asisten 3 Pemprov Jatim yang hadir.
Muktamar tak mau berhenti di refleksi. Targetnya jelas: melahirkan program nyata yang memfasilitasi karya seni muslim kontemporer, tapi tetap berpijak pada tradisi pesantren. Seni yang “menusuk kesadaran”, seperti kata Asrul Sani, salah sayu pendiri Lesbumi NU, mengatakan: seni adalah nurani yang berduri.
Maklumat Tambakberas: Doa dalam Bentuk Lain
Maklumat yang lahir dari Jombang ini tidak ditempatkan sekadar sebagai seruan. “Dia adalah doa. Doa dalam bentuk yang lain. Ikhtiar untuk mengingat kembali nilai-nilai yang tersimpan di kedalaman tradisi, ilmu, kesenian, dan pengalaman hidup bangsa. Sebagai nusa dan antara,” tegas dokumen.
Isinya mengajak seluruh elemen bangsa kembali ke nilai Pembukaan UUD 1945, mengembalikan jati diri NU sebagai kebangkitan ulama, menggelorakan jihad kebudayaan, merekayasa ulang Aswaja untuk menjawab AI, dan membangun paradigma ekologi berbasis budaya. Poin paling “nendang”: dorongan moratorium konsesi tambang NU sampai ada kajian komprehensif yang transparan dan bisa diaudit publik.
Komentar Publik: “Dari Tambakberas Lahir Harapan Baru”
Gaung Maklumat Tambakberas langsung disambut hangat warganet. Komentar positif mengalir:
1. “Maklumat Tambakberas adalah ikhtiar merawat akar kebudayaan bangsa.”
2. “Luar biasa, gagasan yang relevan untuk Indonesia hari ini.”
3. “Kebudayaan harus menjadi fondasi pembangunan bangsa.”
…sampai ke-100: “Dari Tambakberas, untuk Indonesia yang lebih berbudaya, beradab, dan bermartabat.”
Kembali ke Akar, Menguatkan Langkah
Muktamar Kebudayaan Indonesia 2026 menutup sidangnya dengan satu pesan kuat: Kembali ke akar bukan nostalgia, tapi strategi peradaban. Dari akar yang kuat lahir inovasi yang sehat. Dari budaya yang hidup lahir peradaban yang kuat.

