BNPB: Jawa Tengah Beresiko Tinggi Terhadap Bencana Hidrometeorologi, Tingkatkan Mitigasi

Deputi V BNPB Andi Eviana saat meninjau Huntara (Hunian Sementara) bagi korban bencana longsor Cibeunying di Desa Jenang, Majenang, Cilacap. Selasa, (27/1/2026).
Deputi V BNPB Andi Eviana saat meninjau Huntara (Hunian Sementara) bagi korban bencana longsor Cibeunying di Desa Jenang, Majenang, Cilacap. Selasa, (27/1/2026).

CILACAP.INFO – Berdasarkan Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) cuaca ekstrem menyebabkan 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah terdampak bencana, demikian dikemukakan oleh Deputi V BNPB Andi Eviana saat Peresmian Huntara (Hunian Sementara) bagi korban bencana longsor Cibeunying di Desa Jenang, Majenang, Cilacap. Selasa, (27/1/2026).

Dijelaskan berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan dokumen inaRISK, seluruh 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah memiliki tingkat risiko tinggi terhadap bencana hidrometeorologi, terutama cuaca ekstrem, banjir, dan tanah longsor.

“Wilayah ini didominasi oleh topografi rentan serta dampak perubahan iklim. Cuaca ekstrem, tanah longsor, dan banjir mendominasi terjadinya bencana,” ujarnya

Akumulasi bencana pada awal 2025 menunjukkan tingginya dampak terhadap warga,

“Tanah longsor terjadi karena gundulnya lingkungan pegunungan, oleh karena alih fungsi lahan yang tadinya hutan, dan adapun dengan banjir mendominasi di wilayah rendah,” terangnya

Pentingnya upaya pemerintah daerah melakukan pemetaan dengan mitigasi kebencanaan karena potensi memiliki tingkat risiko tinggi berdasarkan kajian inaRISK dan renstra BPBD Jawa Tengah.

“Dengan kondisi ini maka Pemerintah terus berupaya meningkatkan mitigasi melalui pemetaan risiko yang lebih baik,” ungkapnya.

Adapun terkait Huntara yang dalam rencana menjadi Huntap (Huniwn Tetap) dibMajenang Cilacap menurutnya perlu regulasi yang jelas untuk mengayomi kepastian hukum bagi warga yang menghuni.

“Terkait hunian tetap, perlu dibuat aturan agar rumah tersebut tidak disewakan dan benar-benar diperuntukkan bagi 56 KK yang berhak,” tegasnya.

Sementara itu, Bupati Cilacap Syamsul Auliya Rachman (SAR) menyatakan bahwa penanganan bencana di Kabupaten Cilacap berjalan dengan pendekatan pentahelix, melibatkan berbagai pemangku kepentingan secara kolaboratif.

Pemerintah Kabupaten Cilacap, kata dia, bergerak cepat menyiapkan lahan seluas 3,5 hektare untuk pembangunan huntara dan huntap, termasuk melengkapi administrasi serta kajian teknis dari PVMBG.

“Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada BNPB, BPBD Provinsi Jawa Tengah, Forkopimda, serta seluruh pihak yang terlibat sejak masa tanggap darurat hingga proses penempatan Huntara Majenang ini,” terang SAR kepada Wartawan.

Acara peresmian penempatan huntara tersebut selain dihadiri oleh Kepala BNPB yang diwakili Deputi V Bidang Logistik dan Perlengkapan Andi Eviana, hadir dari OPD Provinsi Jawa Tengah dan unsur Forkopimda, TNI, Polri, Kepala Desa Se-Majenang, Tokoh agama,

Turut hadir juga para Rektor/Ketua Perguruan Tinggi di Majenang, Tenaga Pendamping Profesional Kemendesa Kabupaten Cilacap yang terdiri dari Tenaga Ahli Pendamping Desa maupun Lokal Desa Se Dawamancung, serta jajaran relawan dari berbagai ormas keagamaan maupun pemuda, seperti NU Peduli, Lazisnu, LPBINU, Bagana, Reawan Baznas, GP Ansor, Lesbumi, serta hadir juga awak media dari berbagai portal seperti NUCOM, NU Online, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Harian Cilacap, dan lainnya.

Pada kesempatan tersebut, juga diserahkan piagam penghargaan kepada sejumlah pihak yang terlibat dalam penanganan bencana.

Kegiatan diakhiri dengan pemotongan tumpeng dalam dilanjut pengguntingan pita, dan peninjauan langsung unit huntara oleh jajaran pejabat dan undangan. (IHA)

Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait

кракен даркнет ссылкакракен даркнет ссылкакракен даркнеткракен даркнет