Iluminasi yang digunakan mushaf ini, lebih padat dari mushaf yang pertama namun, tetap memiliki frame persegi. Warna dalam iluminasi yang digunakan adalah merah, cokelat, biru, hijau, dan kuning, dengan motif kawung, srimpedan (geometris), dan sulur.
Sayangnya mushaf ini sudah tidak lengkap, bagian akhir mushaf telah hilang dan hanya sampai surah al-Gasyiyah. Menariknya, setiap awal surat menyertaka jumlah ayat, kalimat, huruf dan waktu turunnya yang diletakkan di baris kedua setelah kepala surah.
Peneliti Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an yaitu (Ali Akbar) pernah mencatat spesifikasi mushaf-mushaf yang ada di museum tersebut (Mushaf Kuno Nusantara Jawa, 2019). Ia menyebut bahwa mushaf-mushaf ini merupakan wakaf dari masyarakat.
Sementara dilihat dari fisiknya, mushaf-mushaf yang berbentuk manuskrip itu ternyata memiliki iluminasi yang menawan. Salah satunya adalah Al-Qur’an yang ditulis Raden Maulana Makdum Ibrahim atau yang akrab dipanggil Sunan Bonang dengan tangannya sendiri.
Tulisan Al-Qur’an tersebut di tulis pada saat terbitnya matahari (waktu duha) hari Sabtu, tanggal 20 bulan Sya’ban tahun 1000 H. Terdiri dari beberapa juz, mulai dari juz 15 hingga juz 30.
Kitab Suci umat Muslim itu bisa dilihat oleh pengunjung Museum Masjid Agung Demak. di Museum Masjid Agung Demak yang paling terkenal memang Al-Qur’an yang ditulis Sunan Bonang menggunakan tangan sendiri.
Penulis:
1. Linda Duwinta Listiyani
2. Nova Ria Anggraeni
3. Vera Minchatun Nisa’
(Mahasiswa Kampus IAIN Kudus Prodi IQT/IH)
Tampilkan Semua
