Covid-19 itu Nyata

119940480 1815540745266276 5356102479008082499 n
119940480 1815540745266276 5356102479008082499 n

Alhamdulillah hari demi hari selama di ruang isolasi kondisi saya semakin membaik, tensi darah semakin stabil normal, demam sudah turun, dan saturasi oksigen saya juga sudah dalam angka normal, akhirnya di hari ke lima atau ke enam infus saya pun dilepas, obat minum juga dikurangi. Tapi meski sudah dinyatakan sehat pada hari ke lima, saya belum boleh pulang, harus menunggu hasil swab, yang katanya baru ke luar setelah 10 hari sejak pengambilan sampel.

Kog lama sekali hingga 10 hari?, Iya, sebenarnya pada bulan² sebelumnya hasil swab bisa diketahui hanya dalam waktu sehari atau dua hari, tapi semakin hari semakin lama seiring dengan semakin banyaknya sampel yang harus diteliti di laboratorium, harus antri.
Karena saya terhitung pasien dari Kabupaten Malang, bukan Kota Malang, maka sampel saya dikirim ke laboratorium di Tulungagung, bukan di Malang sendiri. Mungkin itu yang menyebabkan antrian semakin lama, karena tentunya tidak hanya sampel yang dikirim dari Kabupaten Malang saja yang harus diteliti di laboratorium itu.
Di sini saya berfikir tentang ramai isu “dicoronakan oleh dokter” yang membuat banyak masyarakat takut untuk memeriksakan diri ke rumah sakit itu. Tiap ada yang berkata pada saya “Jangan² sampean dicoronakan?”, saya katakan “Tidak mungkin, saya percaya pada dokter”.
Kenapa?, karena vonis positif atau negatif Corona bukan ditangan dokter, tapi ditangan peneliti yang ada di laboratorium Tulungagung sana, dokter di RS hanya mengabarkan hasil lab di sana saja. Jadi sangat aneh menurut saya ada istilah “dicoronakan dokter”, setidaknya pada kasus saya.

Hari yang dinanti pun tiba. Setelah sepuluh hari dikarantina, tanggal 24 Agustus, hasil swab keluar. Dua kali swab menunjukkan saya positif covid-19. Mendengar kabar positif covid-19 itu sebenarnya saya sama sekali tidak merasa kaget ataupun terpukul, mungkin karena saya sudah menduga akan demikian hasilnya, mengingat gejala² yang saya rasakan sebelumnya. Saya kuat tapi ternyata istri saya yang tidak kuat menahan tangisnya, mendengar vonis positif covid-19 itu istri saya menangis, khawatir akan kondisi dan keselamatan saya. Namun dokter dan para perawat yang baik dan selalu ramah sejak awal isolasi saya itu lalu memberi penjelasan ke istri saya, mensupport dan menguatkan kami, sehingga saya pun semakin optimis segera sembuh dan sehat kembali, dan istri saya pun tidak begitu takut dan khawatir lagi.

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait