Eks HTI Berbicara : Keracunan Nalar Radikal

cilacap info featured
cilacap info featured

Secara singkat alur berpikir yang benar adalah sbb: Islam kaffah terdiri dari aqidah dan syariah. Pengamalan syariah dibebankan kepada individu bukan kepada daulah/nizham sesuai dengan definisi syariah. Penerapan syariah harus berdasarkan al-Qur’an dan hadits bukan berdasarkan daulah/nizham. Penerapan syariah yang sesuai al-Qur’an dan hadits dirumuskan dalam fiqih, kaidah fiqih ushul fiqih dan maqashid syariah. Daulah/nizham bukan syarat dan rukun penentu keabsahan dalam penerapan syariah.

Daulah/nizham merupakan instrumen penyempurna dalam penerapan syariah. Bentuk dan sistemnya (kaifiyatnya) tidak dirinci dalam al-Qur’an dan hadits. Kaifiyat bentuk negara dan sistem pemerintahan diserahkan kepada ulama. NKRI, ISIS, Khilafah ala HTI, Khilafah versi Al-Qaeda, NII, dll semuanya produk ijtihad. Semuanya absah secara syar’i. NKRI ajaran Islam karena lahir dari proses ijtihad syar’i.

NKRI negara kesepakatan (ijma). Tujuan NKRI yang termaktum di dalam Pembukaan UUD 45 alinea terakhir, mencerdaskan kehidupan bangsa mewujudkan kehidupan yang adil, makmur dan sejahtera serta menjaga perdamaian dunia. Tujuan-tujuan NKRI adalah syariah Islam. Semua pendiri NKRI bersepakat akan hal itu. Bukankah bersepakat kepada kebaikan itu ajaran Islam.

Hidup, menjadi warga negara Indonesia, taat dan loyal kepada pemerintah sesuai dengan syariah Islam. Hukum, peraturan dan undang-undang yang berlaku adalah hukum syariah. Mendirikan daulah di wilayah NKRI termasuk bughat hukumnya haram. Selain itu juga melanggar kaidah ijtihad yang berbunyi al-ijtihadu la yanqushu bil ijtihadi ‘suatu ijtihad tidak bisa dianulir oleh ijtihad yang lain.

Dengan demikian kekusutan nalar kaum radikal bisa terurai.

Bandung, 3 Maret 2019

Penulis adalah Eks HTI yang kini menjadi Pengurus LD PWNU Jabar (Ayik Heriansyah)

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait