Harlah PPP ke 48, Kembali ke Khittah

oleh

USAI sudah Muktamar IX PPP 2020 yang digelar di Makassar dan diikuti oleh 10 Zone wilayah se-Indonesia. Tim Formatur yang berjumlah 13 orang akhirnya menduetkan ketum DPP PPP masa bakti 2021-2025. Dr .H. Suharso Monoarfa yang terpilih secara aklamasi dengan H. Arwani Thomafi,MH sebagai Sekretaris Jenderal DPP PPP Pusat.

Pada sambutan terpilihnya sebagai Ketum DPP PPP, Dr. Suharso Monoarfa berjanji akan menaikan suara PPP setidaknya seperti masa jaya PPP masa lalu. Dengan kerja elektoral, one man one vote dengan cara datangi konstituen dari rumah ke rumah. Menjaga suara satu per satu suara dengan kerja-kerja elektoral untuk meraih target suara maksimal pada Pemilu 2024.

Masa depan PPP setidaknya banyak ditentukan oleh peran sentral warna politik Islam dalam konteks ke Indonesian. Pemilihan partai karena berbasis idiologi, tentu berbeda dengan pilihan umum yang sangat marak transaksional. Setidaknya dengan memperkuat kalangan berbasis idiologi, bisa mempertahankan basis suara. Yang sudah barang tentu, untuk memperbesar PPP perlu memperluas basis suara lainnya seperti kalangan milenial, perempuan, buruh, pemuda, santri dan lainnya.

Untuk meraih itu paska muktamar ke IX PPP dan Harlah PPP ke 48 Tahun. Arti 48 Tahun mendekati 50 Tahun atau hampir setengah abad, bisa jadi disebut sebagai masa keemasan. Ini harus menjadi momentum yang strategis di dalam upaya kembali ke khittah perjuangan PPP dengan melakukan revitalisasi implementasi visi dan misi perjuangan PPP diantaranya adalah dengan 3 hal.

Pertama, mengembalikan nilai-nilai orientasi 5 khidmat dan 6 prinsip perjuangan partai dalam sikap prilaku akhlak para kader.

Kedua adalah mengembalikan khittah partai kepada PPP tahun 1971 secara struktural dimana ada sistem presidensial dan di dalam sistem tersebut ada perwakilan-perwakilan fusi partai sebagai pengawas.