Total investasi untuk program hingga saat ini mencapai sekitar Rp35 juta, mencakup pelatihan, pendampingan intensif, pengadaan alat produksi, dan kemasan. Inovasi resep dan proses produksi dikembangkan bersama anggota kelompok melalui uji coba berkelanjutan.

Dalam program pemberdayaan UMKM ini, PT S2P menerapkan model kerja kolektif berbasis gotong royong untuk efisiensi operasional dan menumbuhkan semangat kebersamaan.
Sebanyak empat pekerja aktif, di mana salah satu di antaranya termasuk masyarakat penerima Program Keluarga Harapan (PKH), bertugas pada proses marinasi, penyiangan bahan baku, produksi, pengemasan, dan pemasaran. Model kerja kolektif berbasis gotong royong menumbuhkan kebersamaan dan efisiensi operasional. Untuk memastikan keberlanjutan, PT S2P menerapkan Standard Operating Procedure (SOP) yang ketat pada produksi, pelatihan lanjutan, dan evaluasi rutin terhadap produk serta kemasan.
Dampak nyata program ini telah dirasakan oleh anggota UMKM, seperti adanya tambahan penghasilan setiap bulannya, dari yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan. Omzet kelompok Yankizz 56 juga mengalami peningkatan, mencapai Rp21,6 juta pada semester II 2024 dan meningkat menjadi Rp22,3 juta pada semester I 2025.
“Awalnya kami hanya ibu rumah tangga yang tidak punya penghasilan. Tapi sejak dibina oleh PT S2P, kami bisa mengolah dan menjual produk sendiri. Hasilnya bisa membantu ekonomi keluarga,” cerita Imah, anggota UMKM Yankizz 56.

UMKM binaan PT S2P menghasilkan produk-produk pangan olahan hasil laut dengan cita rasa khas dan kemasan modern yang menjadi keunggulan kompetitifnya.
Program ini mendukung ketahanan pangan pesisir dengan memperkaya diversifikasi produk olahan laut dan menyediakan alternatif pangan sehat bagi komunitas lokal. Peluang inovasi produk baru terkait pemanfaatan tangkapan hasil laut masih sangat luas. Dengan mengusung pendekatan zero waste, hampir seluruh bagian ikan, mulai dari daging, tulang, hingga kulit, dimanfaatkan untuk diolah menjadi produk konsumsi atau produk yang bernilai ekonomi lainnya. Sehingga program tidak hanya berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat, tetapi juga berkontribusi terhadap pengurangan limbah dan praktik usaha berkelanjutan.
Meski telah mencetak hasil positif, UMKM di kawasan pesisir itu masih memiliki tantangan utama seperti keterbatasan jaringan distribusi, branding, dan promosi digital. Saat ini promosi dan pemasaran terbatas di media sosial dan belum merambah marketplace. Rencana pengembangan ke depan, mencakup sertifikasi halal produk olahan, digitalisasi pemasaran dan integrasi ke marketplace nasional, ekspansi pasar regional dan nasional, serta pelatihan inovasi produk lanjutan.
Tampilkan Semua
