Pondok ini ternyata pernah menjadi tempat belajar pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.
KH Hasyim Asy’ari, menghabiskan 3 tahun di pondok tersebut pada akhir tahun 1900-an.
Ada pula tokoh-tokoh NU yang pernah belajar di pesantren tersebut. Seperti KH Syamsul Arifin (ayah KH As’ad Syamsul Arifin), KH Shiddiq (ayah KH Ahmad Shiddiq), KH Wahab Hasbullah.
Selepas diasuh KH M Nur Estafeta berlanjut ke KH Abdul Hadi yang lahir di Desa Kauman Kecamatan Kedungpring Kabupaten Lamongan pada tanggal 17 Rabi’ul Awwal 1309 H.
Sejak berusia sebelas tahun beliau sudah mulai belajar di Pondok Pesantren Langitan hingga usia sembilan belas tahun.
Dan atas saran KH. Muhammad Khozin beliau melanjutkan studi di Pesantren Kademangan Bangkalan Madura di bawah asuhan KH. Kholil selama tiga tahun.
Pada usia 13 tahun, beliau belajar di Pesantren Jamsaren Solo asuhan KH. Idris. Setelah itu kembali lagi nyatri di Pondok Pesantren Langitan hingga pada usia 25 tahun, dan diambil menantu oleh KH. Muhammad Khozin, dijodohkan dengan Ning Juwairiyah.
Pada usia yang relatif muda, 30 tahun beliau sudah menerima tugas berat sebagai pengasuh Pondok Pesantren Langitan.
Namun meskipun begitu, di bawah asuhannya Pondok Pesantren Langitan saat itu mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
Terbukti mulai periode ini (tahun 1949 M) mulai dikembangkan sistem pengajaran klasikal yang dahulu belum dikenal, dengan cara mendirikan madrasah ibtida’iyah dan madrasah muallimin.
Serta kegiatan ekstra kurikuler seperti bahsul masail lil waqiah, jamiyatul muballighin, jamiyatul qurro wal khuffadz dan lain-lain.
Di samping itu kegiatan rutinitas berupa pengajian kitab baik sistem sorogan maupun weton terus dilestarikan dan dikembangkan.
Terlebih sholat berjamaah, karena beliau adalah seorang ulama yang bertipikal sangat disiplin waktu dan terkenal keistiqomahannya.
Sebagaimana yang diceritakan oleh KH. M. Ihya’ Ulumuddin (seorang alumni ponpes Langitan dan pengasuh Pondok Pesantren Nurul Haromain Malang) bahwa, dia dan para santri yang lain yang bertugas jaga malam.
Ketika mendengar suara kriek dari pintu belakang rumah yang terbuat dari bambu karena KH. Abdul Hadi keluar untuk mengambil air wudlu itu menunjukkan jam yang tepat kira-kira jam 2 malam.
Waktu pun terus bergulir, bergerak menuju suratan taqdir. Mendung duka menyelimuti atmosfir Pondok Pesantren Langitan.
Air mata sebagai kesaksian atas cinta kepada sang guru besar jatuh menetes tak tertahankan.
Tampilkan Semua
