Tidakkah pernah terlintas fanatisme lokal itu bisa berbahaya karena melahirkan fanatisme sempit dan alih-alih tidak menguntungkan PPP. Memang dalam jangka pendek, duet Capres-Cawapres PPP ketika diduetkan dengan partai lain, elektibilitas PPP bisa naik 7,67%. Apabila tujuannya hanya untuk mendongkrak elektibilitas partai, itu sangat banyak memakan energi, bukan sinergi dan berbiaya mahal hanta tujuan jangka pendek. Karena itu perlu langkah bagaimana merancang masa depan PPP yang saat patut disyukuri bisa lolos dari verifikasi faktual, tinggal verifikasi administrasi saja.
Dengan demikian, PPP saat ini perlu membaca ulang, character generasi milenial, sebagai harapan baru bisa membesarkan PPP. Terhadap kehidupan politik, generasi milenial mempunyai karakter, pertama, mereka lebih melek teknologi tetapi cenderung apolitis terhadap politik. Mereka tidak loyal kepada partai, sulit tunduk dan patuh instruksi.
Generasi milenial cenderung tidak mudah percaya pada elite politik, terutama yang terjerat korupsi dan mempermainkan isu negatif di media sosial.
Kedua, generasi milenial cenderung berubah-ubah dalam memberikan hak politiknya. Mereka cenderung lebih rasional, menyukai perubahan dan antikemapanan.
Mereka cenderung menyalurkan hak politik kepada partai yang menyentuh kepentingan dan aspirasi mereka sebagai generasi muda.
Menurut Alexis de Toqcueville (2013), di negara demokrasi, setiap generasi adalah manusia baru. Generasi baru ini pun mengisi kekosongan gerakan politik Indonesia pasca-Orde Baru.
Generasi milenial adalah satu-satunya generasi yang disebut “digital native”, lahir dan tumbuh berbarengan dengan berkembangnya teknologi. Generasi ini lebih berpendidikan, terbuka pada perubahan terutama pada perubahan iklim, hingga kebijakan pelayanan kesehatan.
Mereka menggunakan media sosial dan internet untuk berkomunikasi yang selangkah lebih maju dari generasi sebelumnya. Sebagai bagian dari perjalanan berbangsa dan bernegara, generasi milenial menjadi bagian dari anak bangsa yang penting.
Selain mereka kelak akan melanjutkan kepemimpinan bangsa ini, populasi mereka yang besar tidak dapat diabaikan dalam perhelatan pilkada dan pemilu. Agar generasi milenial melek politik dan mau terlibat dalam kehidupan politik, mereka harus mendapatkan pendidikan politik.
Perilaku pemilih muda umumnya cenderung rasional. Dalam diri kaum muda memiliki kemampuan mengakses beragam media guna memperoleh informasi. Demokratisasi dewasa ini pun lebih banyak digerakkan oleh internet.
Tampilkan Semua

