4. di Indonesia banyak terdapat parpol-parpol Islam yang mengusung “politik demokrasi liberal”, padahal itu yang paling ditakuti oleh Dinasti Saud.
Kalau semangat demokrasi menular ke rakyat Arab Saudi, hancur itu kerajaan, dan anggota Dinasti Saud akan dibunuhi seperti Saddam Husein dan Moammar Khadafi… Maka Arab Springs berhenti di depan pintu Arab Saudi.
5. di Indonesia ada Ahok dan Sembilan Naga, justeru orang-orang seperti itu yang disukai para Kapitalis Saudi. Mereka pekerja keras, pebisnis ulung, pandai membuat perkongsian…
Industri pabrikasi, konstruksi dan perdagangan di Arab Saudi sangat maju karena bekerja sama dengan para pebisnis China. di pasar Ternate (pelosok Utara Maluku) toko-toko Arab dan China berdampingan sejak lama, begitu juga di Ambon.
Di Surabaya, Malang, Gresik, Pekalongan (pusat industri batik), Bogor (Empang), Palembang, Makassar… pebisnis Arab dan pebisnis China, dengan gaya berkongsi masing-masing, mereka berdagang bersama-sama di pasar, membangun pabrik, klinkk, apotik, toko kelontong… gak pernah mereka konflik…
Travel Haji/Umrah di Indonesia pun banyak dikelola bersama oleh pebisnis Arab/Saudi dgn China.
6. Raja Salman datang bukan untuk memberesi banjir Jakarta… justeru mereka sangat menyukai hujan lebat, krn capek hidup di gurun kering.
Juga bukan untuk menyelesaikan macet Jakarta, karena orang Saudi tidak banyak tinggal di Jakarta, senangnya di kawasan Puncak, Batu/Malang, daerah yang sejuk-sejuk tapi banyak hidangan hangatnya…
6. Jadi untuk apa Raja Salman datang ke Indonesia? Untuk dagang, Bro… Untuk investasi, ya Akhii al-kiraam…
Pokoknya, kalau umat Islam Indonesia tidak punya *semangat kemandirian*, sibuk mengagungkan Turki dan Erdogan, sibuk berteriak soal Palestina dan Suriah, bergantung pada duit Kapitalis Saudi dan RRT… serta tidak membangun *ENTREPRENEURSHIP* yang kuat, maka bersiaplah:
Kemarin menjadi kuli dan jongos Arab di Saudi, menjadi kuli dan jongos China di Hong Kong – besok anak-cucu menjadi *kuli dan jongos Saudi dan China di NKRI…*
Silahkan terus teriak-teriak NKRI, Pancasila, Demokrasi dan Kebhinekaan… selama masih ada yang bayar untuk berteriak… para Kapitalis akan membayarimu terus, agar kamu tidak merecoki kerja dan investasi mereka…
Aku hanya terdiam saat mereka tertawa menikmati hasilnya, karna aku pun tidak sangup merasakan betapa perih tanah Pertiwi terinjak kaum kapitalis dinasty.

