<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Berita &#8211; Cilacap.info</title>
	<atom:link href="https://www.cilacap.info/topic/kesehatan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.cilacap.info</link>
	<description>Media Online Masa Kini, Akurat, Mengedepankan Etika</description>
	<lastBuildDate>Sun, 17 Dec 2023 05:15:41 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	
<image>
<url>https://img.cilacap.info/images/cilacapinfo.png</url><title>Berita &#8211; Cilacap.info</title>
<link>https://www.cilacap.info</link>
<width>144</width><height>19</height><description>Media Online Masa Kini, Akurat, Mengedepankan Etika</description>
</image>
	<item>
		<title>Sequis Ingatkan Obesitas Banyak Ruginya</title>
		<link>https://www.cilacap.info/ci-57176/sequis-ingatkan-obesitas-banyak-ruginya</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 Dec 2023 05:15:41 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Obesitas]]></category>
		<category><![CDATA[Sequis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.cilacap.info/ci-57176/sequis-ingatkan-obesitas-banyak-ruginya</guid>

					<description><![CDATA[JAKARTA,  aria-label="Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Kasus dua pasien obesitas ekstrem warga kota Tangerang, Banten yang mencapai berat ratusan kilogram sempat heboh diberitakan pada Juni 2023 lalu. Disebutkan pula pada Mei 2023 berdasarkan catatan dinas Kesehatan Kota Tangerang, bahwa di kota ini, kasus obesitas termasuk tinggi.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA</strong>, <a href="https://www.cilacap.info" aria-label="Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Kasus dua pasien obesitas ekstrem warga kota Tangerang, Banten yang mencapai berat ratusan kilogram sempat heboh diberitakan pada Juni 2023 lalu. Disebutkan pula pada Mei 2023 berdasarkan catatan dinas Kesehatan Kota Tangerang, bahwa di kota ini, kasus obesitas termasuk tinggi.</p>
<p>Obesitas adalah kondisi tubuh yang memiliki tumpukan lemak berlebih akibat ketidakseimbangan antara asupan energi (energy intake) dengan energi yang digunakan (energy expenditure) dalam waktu yang lama.</p>
<p>Fenomena obesitas meningkat terjadi karena banyak faktor, termasuk riwayat keluarga. Lebih banyak karena faktor gaya hidup, yakni sedentary living (kurang bergerak), dan banyak mengonsumsi makanan dan minuman tinggi gula dan lemak. Kondisi ini kerap terjadi pada masyarakat modern dan urban yang semakin sedikit kesempatan dan keinginan melakukan aktivitas fisik.</p>
<p>Mengingat obesitas menjadi salah satu masalah kesehatan yang belum mendapatkan perhatian penuh dari kita maka mengakhiri tahun 2023, Head of Department Underwriting Sequis dokter Fridolin Seto mengajak masyarakat menjadikan kesehatan menjadi prioritas dalam resolusi akhir tahun. Terutama berkaitan dengan pencegahan terjadinya obesitas, yakni menurunkan berat badan jika berat mulai berlebih dan menjaga berat badan jika sudah ideal.</p>
<p>Dr. Fridolin mengingatkan bahwa orang dengan obesitas mudah terkena sindrom metabolik, yakni peningkatan trigliserida, menurunkan kolesterol HDL, mengalami peningkatan tekanan darah sehingga orang dengan obesitas sangat mudah terserang berbagai penyakit.</p>
<p>Penyakit yang seringkali menyerang orang obesitas antara lain asma, infertilitas, osteoartritis lutut dan pinggang, henti nafas saat tidur, nyeri pinggang, fatty liver, hipertensi, diabetes dan memicu terbentuknya batu empedu. Penyakit kritis lainnya juga berpotensi mengganggu kesehatan. Bahkan dapat menyebabkan kematian, seperti stroke, penyakit jantung koroner.</p>
<p>Semakin usia bertambah tua maka metabolisme akan menurun sehingga mudah terjadi obesitas. Selain itu, obesitas tahap awal sering tidak disadari hingga pakaian mulai terasa sempit dan berat badan terus bertambah hingga Indeks Massa Tubuhnya (BMI) di atas 30 atau lebih. Itu sebabnya, kita perlu mendorong keluarga Indonesia agar memberi perhatian pada berat badan anggota keluarga termasuk untuk anak dan remaja karena kelebihan berat badan hingga kegemukan biasanya dimulai sejak usia muda.</p>
<p>&#8220;Anda dapat mulai dengan mengurangi kebiasaan ngemil, batasi jumlah makanan tinggi asupan gula, garam dan lemak. Sering dan banyak mengonsumsi makanan tinggi kalori dan processed food bisa meningkatkan obesitas. Saat makan, perbanyak sayur, buah, dan biji-bijian. Jika sudah terlanjur kegemukan hingga obesitas dan sudah memiliki riwayat gangguan kesehatan, segera konsultasikan kondisi Anda dengan dokter gizi untuk mendapatkan saran diet dan perawatan yang sesuai kondisi tubuh&#8221;, sebut dr. Seto.</p>
<p>Selain soal asupan, dr. Seto juga memberikan tips untuk membantu membakar kalori, yakni membatasi screen time (penggunaan gawai), membiasakan aktivitas fisik dan kegiatan luar ruang. Kebiasaan ini baik ditanamkan sejak usia anak.</p>
<p>&#8220;Jadikan olahraga sebagai gaya hidup. Setidaknya dijalankan 3 kali seminggu atau olahraga bersama keluarga pada Sabtu atau Minggu. Cukup istirahat dan tidur berkualitas juga penting untuk mencegah kenaikan berat badan. Jangan lupa lakukan pemeriksaan kesehatan (medical checkup) setidaknya satu tahun sekali untuk mengetahui kondisi kesehatan,&#8221; sebut dr Seto.</p>
<h2>Asuransi Kesehatan Sebagai Langkah Preventif Kesehatan</h2>
<p>Selain mencegah kenaikan berat badan dan mengubah gaya hidup. Masyarakat juga sebaiknya melengkapi keluarga dengan asuransi kesehatan. Dengan memiliki asuransi kesehatan maka saat memerlukan perawatan medis, asuransi kesehatan akan menanggung biaya pengobatan selama sesuai dengan ketentuan polis. Asuransi kesehatan sangat berguna untuk membantu kondisi finansial saat memerlukan biaya pengobatan medis.</p>
<p>Bagi Anda yang masih sehat dengan berat badan ideal dan berusia muda sebaiknya berasuransi karena banyak yang berminat pada asuransi, tetapi belum tentu bisa mendapatkan perlindungan asuransi atau akan dikenakan premi lebih mahal karena masalah berat badan.</p>
<p>&#8220;Tidak banyak yang tahu bahwa berat badan juga menjadi pertimbangan underwriting asuransi selain faktor riwayat medis. Hal ini karena kelebihan berat badan terkait dengan masalah kesehatan. Artinya, jika sudah obesitas akan cenderung lebih banyak membutuhkan perawatan medis,&#8221; imbuh dr. Seto.</p>
<p>Selamat mempersiapkan diri memasuki tahun baru 2024. Jadikan hidup sehat sebagai resolusi akhir tahun dan miliki asuransi kesehatan untuk mendukung rencana Anda meraih hari esok yang lebih baik.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2023/12/17/Sequis-Image-Obesitas.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Sequis Image Obesitas]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2023/12/17/Sequis-Image-Obesitas-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Sequis Image Obesitas]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Mengenal Resistensi Obat Tuberkulosis</title>
		<link>https://www.cilacap.info/ci-57121/mengenal-resistensi-obat-tuberkulosis</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 Dec 2023 06:54:21 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Mitigasi Penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[TBC]]></category>
		<category><![CDATA[Tuberkulosis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.cilacap.info/ci-57121/mengenal-resistensi-obat-tuberkulosis</guid>

					<description><![CDATA[JAKARTA,  aria-label="Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; 12 Desember 2023, Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh bakteri TB atau dikenal sebagai <em>Mycobacterium Tuberculosis</em>. Sebagian besar bakteri TB menyerang paru, tetapi terdapat pula yang menyerang organ tubuh lainnya.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA</strong>, <a href="https://www.cilacap.info" aria-label="Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; 12 Desember 2023, Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh bakteri TB atau dikenal sebagai <em>Mycobacterium Tuberculosis</em>. Sebagian besar bakteri TB menyerang paru, tetapi terdapat pula yang menyerang organ tubuh lainnya.</p>
<p>TB paru adalah penyakit yang dapat menular melalui udara (<em>airborne disease</em>). Bakteri TB menular dari orang ke orang melalui percikan dahak (<em>droplet</em>) ketika penderita TB paru aktif batuk, bersin, bicara atau tertawa.</p>
<p>Bakteri TB cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh, bakteri ini dapat tertidur lama selama beberapa tahun (Kemenkes RI, 2012).</p>
<p>Gejala umum yang ditimbulkan oleh TB adalah batuk yang berlangsung lebih dari 3 minggu, batuk darah atau dahak, sakit dada, mudah lelah dan lemah, demam, panas dingin, keringat saat malam, dan kehilangan nafsu makan. Kurangnya pengetahuan tentang gejala TB membuat pasien merasa kurang paham dalam melakukan pengobatan ketika muncul gejala-gejala tersebut.</p>
<p>Menurut data WHO tahun 2022, angka kematian akibat TB pada tahun 2021 juga mencapai angka yang sangat tinggi, setidaknya 1,6 juta orang yang meninggal akibat TB dan meningkat dari tahun sebelumnya yaitu sekitar 1,3 juta orang.</p>
<p>Beberapa negara telah berhasil mengurangi beban TB dengan tingkat yang signifikan, namun Indonesia masih menempati posisi kedua dengan jumlah penderita TB terbanyak di dunia setelah India. Pada tahun 2021, diperkirakan terdapat sekitar 969.000 kasus TB di Indonesia, yang menunjukkan peningkatan sebesar 17% dari tahun 2020.</p>
<p>Salah satu upaya dalam menanggulangi TB adalah pengobatan yang dikonsumsi selama periode 6 hingga 12 bulan. Obat-obatan yang digunakan dalam pengobatan TB paru mengandung agen antituberkulosis, yakni antibiotik yang dirancang khusus untuk mengatasi infeksi bakteri TB.</p>
<p>Pengobatan ini terbagi menjadi dua tahap, yaitu tahap intensif dan tahap lanjutan. Permasalahan muncul ketika penggunaan obat yang tidak tepat atau tidak sesuai dengan pedoman pengobatan dapat menyebabkan resistensi atau kekebalan terhadap obat itu sendiri.</p>
<p>Jika pengobatan tidak dilakukan sesuai prosedur, hal ini menjadi rantai penyakit yang tidak terputus sehingga sangat berisiko menularkan kepada orang terdekat termasuk keluarga. Selain itu, kondisi yang semakin parah akan menimbulkan komplikasi atau bahkan dapat menyebabkan kematian.</p>
<p>Proses pengobatan yang berlangsung lama, membuat pasien merasa bosan dan tidak jarang sebagian dari mereka berhenti minum obat saat merasa sudah sedikit membaik. Walaupun masa pengobatan belum selesai, hal tersebut menyebabkan waktu pengobatan yang terhenti dan menimbulkan resisten obat tuberkulosis terhadap pasien atau biasa disebut tuberkulosis resisten obat.</p>
<p>Tuberkulosis Resisten Obat (TB-RO) adalah kondisi dimana bakteri sudah kebal terhadap obat lini 1 (periode pengobatan 6 bulan), sehingga pasien harus mendapatkan kombinasi obat lini 2 dengan periode waktu pengobatan yang lebih lama (9-12 bulan).</p>
<p>Berdasarkan Global TB Report 2020, diperkirakan terdapat 24.000 kasus TB-RO di Indonesia setiap tahunnya. Dari jumlah ini, berdasarkan data rutin program Nasional Penanggulangan TB, pada tahun 2019 baru ditemukan 11.463 kasus TB-RO, atau terdapat perbedaan 52,5% dari perkiraan kasus yang ada.</p>
<p>Dari 11.463 kasus tersebut, hanya 5.531 atau 48,3% pasien yang sudah memulai pengobatan, dengan angka keberhasilan pengobatan berkisar di antara 49-51% dan angka putus pengobatan 24% sampai dengan 26% per tahun. Angka putus pengobatan ini terbilang tinggi, mengingat hasil cakupan keberhasilan yang dicapai masih jauh dari target keberhasilan pengobatan global yaitu sebesar 86%.</p>
<p>Tingginya angka putus pengobatan menjadi salah satu indikator rendahnya kepatuhan pasien untuk menyelesaikan pengobatan. Ketua Yayasan Pejuang Tangguh (PETA) menyatakan bahwa kesadaran diri pasien akan kesehatannya sangat penting dalam meningkatkan kepatuhan terapi TB-RO untuk menjaga atau mencegah penularan lebih lanjut kepada orang-orang yang disekitar.</p>
<p>Selain itu, efek samping dari obat yang timbul sangat beragam sehingga perlunya peran keluarga sebagai orang terdekat pasien untuk selalu mendukung dan menemani proses pengobatan hingga dinyatakan sembuh sepenuhnya.</p>
<p>Dukungan keluarga dalam mendampingi pasien terapi TB-RO dimulai dari ikut dalam proses konsultasi rutin dan sosialisasi. Selain itu, keluarga serta organisasi atau LSM juga ikut mengawasi kepatuhan pasien dalam pengobatannya Sehingga, sangat penting untuk menjalin kerja sama lintas sektor antara pemerintah, tenaga kesehatan serta organisasi terkait dalam menjalankan program-program guna mendukung pasien TB-RO.</p>
<p><strong>Referensi</strong></p>
<p>1. Kementerian Kesehatan RI. (2012). Petunjuk Teknis Tata Laksana Klinis Ko-Infeksi TB-HIV. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.</p>
<p>2. Kementerian Kesehatan RI. (2020). Petunjuk Teknis Penatalaksanaan Tuberkulosis Resistan Obat 2020. Jakarta : Kementerian Kesehatan RI Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit.</p>
<p>3. World Health Organization. (2022). Global tuberculosis report 2022. Geneva: World Health Organization; 2022. License: CC BY-NC-SA 3.0 IGO.</p>
<p>4. <a href="https://www.antaranews.com/berita/2228206/mengenal-tbc-resisten-obat-dan-kendala-penanganan" rel="noopener nofollow" target="_blank">Mengenal TBC resisten obat dan kendala penanganan</a> [diakses pada 17 Oktober 2023 pukul 14.03]</p>
<p>5. <a href="https://www.instagram.com/p/CKXqUr_AJm_/?img_index=2" rel="noopener nofollow" target="_blank">Instagram: @tbc.indonesia</a> [diakses pada 17 Oktober 2023 pukul 15.08]</p>
<p><strong>Oleh: Alifia Hanika Geren, Ratih Dwi Puspitasari (Universitas Indonesia)</strong>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2023/12/12/penanganan-dan-pencegahan-tuberkulosis.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[penanganan dan pencegahan tuberkulosis]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2023/12/12/penanganan-dan-pencegahan-tuberkulosis-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[penanganan dan pencegahan tuberkulosis (sumber: Instagram/TB Indonesia)]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
	</channel>
</rss>
