<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Kumpulan Pos Tokoh &#8211; Cilacap.info</title>
	<atom:link href="https://www.cilacap.info/tag/tokoh/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.cilacap.info</link>
	<description>Media Online Masa Kini, Akurat, Mengedepankan Etika</description>
	<lastBuildDate>Sat, 19 Aug 2023 15:47:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	
<image>
<url>https://img.cilacap.info/images/cilacapinfo.png</url><title>Kumpulan Pos Tokoh &#8211; Cilacap.info</title>
<link>https://www.cilacap.info</link>
<width>144</width><height>19</height><description>Media Online Masa Kini, Akurat, Mengedepankan Etika</description>
</image>
	<item>
		<title>Gus Abdul Hakim Ingatkan Pentingnya Dakwah Melalui Media Sosial</title>
		<link>https://www.cilacap.info/ci-54720/gus-abdul-hakim-ingatkan-pentingnya-dakwah-melalui-media-sosial</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 19 Aug 2023 15:47:24 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Gus]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.cilacap.info/ci-54720/gus-abdul-hakim-ingatkan-pentingnya-dakwah-melalui-media-sosial</guid>

					<description><![CDATA[ aria-label="Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Sebagai putra dari almarhum KH Maslahudin Jaelani, seorang ulama terkemuka yang pernah menjabat sebagai Wakil Rais Syuriah PCNU Cilacap, Gus Abdul Hakim membawa beban berat.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.cilacap.info" aria-label="Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Sebagai putra dari almarhum KH Maslahudin Jaelani, seorang ulama terkemuka yang pernah menjabat sebagai Wakil Rais Syuriah PCNU Cilacap, Gus Abdul Hakim membawa beban berat.</p>
<p>Selain untuk melanjutkan tradisi keagamaan juga harus siap berkontribusi dalam keberlangsungan ajaran Islam.</p>
<p>Namun, ia telah menerjemahkan tugas suci ini ke dalam bentuk yang sesuai dengan zaman kita: berdakwah melalui media sosial.</p>
<p>Gus Abdul Hakim percaya bahwa dakwah adalah ujung tombak dalam keberlangsungan dan penyebaran ajaran Islam. Pemandangan ini didasarkan pada hadis Nabi yang menyatakan bahwa dakwah dapat dilakukan dengan tangan (bi al-yad), dengan lisan (bi al-lisan), dan dengan hati (bi al-qalb).</p>
<p>Meskipun dasarnya sederhana, dalam perkembangannya, tiga metode dakwah ini telah memunculkan beragam interpretasi, beberapa di antaranya sangat berbeda, seperti dakwah kultural dan struktural yang sering kali diinterpretasikan secara radikal.</p>
<p>Namun, perkembangan dakwah tidak hanya mencakup metode, tetapi juga teknik berdakwah yang telah mengalami perubahan drastis. Ini terjadi karena peran teknologi yang semakin besar dalam kehidupan manusia, termasuk dalam urusan berdakwah.</p>
<p>Teknologi adalah salah satu kekuatan terpenting yang telah mengubah cara kita berinteraksi, berkomunikasi, dan berbagi informasi.</p>
<p>Di era ini, media sosial telah menjadi wahana utama dalam upaya berdakwah. Gus Abdul Hakim memahami bahwa eksistensi media sosial adalah salah satu faktor yang paling efektif dalam mendukung berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk pendidikan, ekonomi, politik, ideologi, budaya, dan sosial.</p>
<p>Ini juga merupakan alat yang paling banyak dimanfaatkan oleh para pelaku dakwah sebagai media untuk menyebarkan pesan-pesan agama.</p>
<p>Namun, seperti koin yang memiliki dua sisi, pemanfaatan media sosial dalam dakwah membawa dampak positif dan negatif bagi umat Islam.</p>
<p>Efek positif yang paling mencolok adalah kemudahan akses yang diberikan oleh media sosial, memungkinkan masyarakat untuk mempelajari ajaran Islam kapan saja dan di mana saja. Tetapi, ada juga efek negatif yang sangat mengkhawatirkan.</p>
<p>Dakwah dapat dilakukan dengan tangan (bi al-yad), dengan lisan (bi al-lisan), dan dengan hati (bi al-qalb). Meskipun dasarnya sederhana, dalam perkembangannya, tiga metode dakwah ini telah memunculkan beragam interpretasi, beberapa di antaranya sangat berbeda, seperti dakwah kultural dan struktural yang sering kali diinterpretasikan secara radikal.</p>
<p>Namun, perkembangan dakwah tidak hanya mencakup metode, tetapi juga teknik berdakwah yang telah mengalami perubahan drastis. Ini terjadi karena peran teknologi yang semakin besar dalam kehidupan manusia, termasuk dalam urusan berdakwah.</p>
<p>Teknologi adalah salah satu kekuatan terpenting yang telah mengubah cara kita berinteraksi, berkomunikasi, dan berbagi informasi.</p>
<p>Di era ini, media sosial telah menjadi wahana utama dalam upaya berdakwah. Gus Abdul Hakim memahami bahwa eksistensi media sosial adalah salah satu faktor yang paling efektif dalam mendukung berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk pendidikan, ekonomi, politik, ideologi, budaya, dan sosial.</p>
<p>Ini juga merupakan alat yang paling banyak dimanfaatkan oleh para pelaku dakwah sebagai media untuk menyebarkan pesan-pesan agama.</p>
<p>Namun, seperti koin yang memiliki dua sisi, pemanfaatan media sosial dalam dakwah membawa dampak positif dan negatif bagi umat Islam.</p>
<p>Efek positif yang paling mencolok adalah kemudahan akses yang diberikan oleh media sosial, memungkinkan masyarakat untuk mempelajari ajaran Islam kapan saja dan di mana saja. Tetapi, ada juga efek negatif yang sangat mengkhawatirkan.</p>
<p>Dakwah melalui media sosial sering kali tidak memiliki pengawasan yang ketat, dan ini menghasilkan dakwah yang bebas sensor dan tanpa kualifikasi da&#8217;i atau mubaligh.</p>
<p>Dalam arti lain, siapa pun, terlepas dari latar belakang keagamaannya, dapat dengan bebas melakukan dakwah. Ini menghadirkan potensi serius untuk penyebaran informasi yang tidak benar atau bahkan menyesatkan.</p>
<p>Gus Abdul Hakim, dengan bijaknya, mengingatkan bahwa umat Islam dalam peran ganda mereka sebagai khalayak, konsumen, dan objek dakwah melalui media sosial, harus memiliki kecerdasan dalam mengolah dan mengonsumsi materi dakwah yang disampaikan.</p>
<p>Tidak semua konten yang tersebar di media sosial adalah &#8220;vitamin serta nutrisi&#8221; yang diperlukan dan bermanfaat bagi umat Islam.</p>
<p>Sebagai panduan, Gus Abdul Hakim menawarkan tiga hal yang harus diperhatikan dalam berdakwah melalui media sosial.</p>
<p>Pertama, konten harus bermanfaat dan mencerminkan Islam yang damai, sebuah pesan yang sangat penting di tengah banyaknya konten kontroversial di media sosial. Kedua, konten dakwah harus dikemas dengan cara yang menarik agar lebih efektif menjangkau audiens yang lebih luas. Terakhir, dakwah harus responsif dan dapat menyesuaikan dengan tren saat ini.</p>
<p>Dengan bijak dalam menerima dan memberikan informasi dakwah melalui media sosial, kita dapat memastikan bahwa pesan suci Islam tetap murni dan tujuan dakwah yang sejati tercapai: kebahagiaan di dunia dan akhirat.</p>
<p>Gus Abdul Hakim, dengan visinya yang jelas dan pemahamannya yang dalam tentang dinamika media sosial, adalah sosok yang membimbing umat Islam menuju cahaya kebijaksanaan dalam berdakwah di era digital ini.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2023/08/19/Gus-Abdul-Hakim.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Gus Abdul Hakim]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2023/08/19/Gus-Abdul-Hakim-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Gus Abdul Hakim]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Membongkar Tabir Keagamaan: Teks Bait Dua Belas Karya Syekh Moch Noer</title>
		<link>https://www.cilacap.info/ci-53941/membongkar-tabir-keagamaan-teks-bait-dua-belas-karya-syekh-moh-nur</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Jun 2023 11:16:37 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Karya Tulis]]></category>
		<category><![CDATA[Sufisme]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.cilacap.info/ci-53941/membongkar-tabir-keagamaan-teks-bait-dua-belas-karya-syekh-moh-nur</guid>

					<description><![CDATA[PADANG,  aria-label="Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Bait Dua Belas, sebuah karya monumental, merupakan sebuah teks keagamaan yang bukan hanya berkutat pada aspek sejarah, tetapi juga membeberkan gagasan, ajaran, dan pengalaman spiritual yang menjadi panduan bagi mereka yang berusaha mencapai puncak kebenaran tertinggi dan menjelajah misteri Sang Wujud melalui jalur ma&#8217;rifat.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PADANG</strong>, <a href="https://www.cilacap.info" aria-label="Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Bait Dua Belas, sebuah karya monumental, merupakan sebuah teks keagamaan yang bukan hanya berkutat pada aspek sejarah, tetapi juga membeberkan gagasan, ajaran, dan pengalaman spiritual yang menjadi panduan bagi mereka yang berusaha mencapai puncak kebenaran tertinggi dan menjelajah misteri Sang Wujud melalui jalur ma&#8217;rifat.</p>
<p>Di dalam teks Bait Dua Belas terdapat makna dan juga mempertimbangkan konteks sosial dan sejarah dalam pemahamannya. Artikel ini adalah penghormatan kepada keagungan Teks Bait Dua Belas dan upaya untuk menafsirkan pesan yang mendalam.</p>
<p><strong>Siapa itu Moeh. Noer?</strong></p>
<p>Moeh. Noer, dengan nama asli Abu Bakar, lahir di Desa Patalangan, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Seorang sufis dan juga penulis, beliau belajar agama di berbagai pesantren salah satunya di Pesantren Nahdhatul Arifin dan dia juga melakukan perjalanan spiritual ke berbagai tempat sebelum akhirnya menetap di Kemuningsari Lor, Panti.</p>
<p>Karya Moeh. Noer, Bait Dua Belas, tidak hanya merepresentasikan pengalaman dan pengetahuan spiritual beliau, tetapi juga menawarkan interpretasi yang mendalam dan berlapis tentang hubungan antara manusia, alam semesta, dan Tuhan.</p>
<p>Bait Dua Belas penting untuk diteliti karena bukan hanya sekadar teks keagamaan, tetapi juga memuat kekayaan simbolisme dan makna filosofis yang luas. Karya ini menawarkan perspektif unik dan menantang tentang kebenaran spiritual dan jalan menuju ma&#8217;rifatullah yang dapat menambah wawasan kita tentang cara pandang dan pemahaman kehidupan.</p>
<p>Karya ini juga unik karena penggunaan bahasa Arab Pegon (Arab-Jawa Ngoko), yang menambah kekayaan dan kompleksitas teks.</p>
<p>Dalam konteks sastra Indonesia, Bait Dua Belas menonjol karena pendekatan spiritualnya yang mendalam dan penuh simbolisme. Ini mencerminkan latar belakang budaya dan religius Indonesia yang kaya dan beragam, serta memberikan sudut pandang baru tentang hubungan antara sastra, keagamaan, dan spiritualitas.</p>
<p>Analisis teks seperti ini bukan hanya memperluas pemahaman kita tentang karya sastra dalam konteks keagamaan dan budaya, tetapi juga membantu kita memahami bagaimana makna dan nilai dibentuk dan dikomunikasikan melalui sastra.</p>
<p>Dalam konteks Bait Dua Belas karya Moeh. Noer, memungkinkan kita untuk memahami bagaimana pesan keagamaan dan spiritual dikonstruksi melalui simbol dan makna. Misalnya, penggunaan angka dalam teks, seperti 1-7-4 untuk Tuhan dan 1-15-7-4 untuk manusia, bukan hanya sebagai tanda numerik, tetapi juga sebagai simbol dari konsep-konsep yang lebih besar dan lebih kompleks.</p>
<p>Bait Dua Belas merupakan karya luar biasa yang menggunakan simbol-simbol khusus untuk mengkomunikasikan pesan keagamaan yang mendalam. Kita dapat membuka lapisan makna yang tersembunyi di balik simbol-simbol ini, yang memberikan kita pemahaman yang lebih dalam tentang cara pandang Moeh. Noer tentang Tuhan, manusia, dan jalan menuju ma’rifatullah.</p>
<p>Angka-angka dalam teks, khususnya 1-7-4 untuk Tuhan dan 1-15-7-4 untuk manusia, masing-masing memiliki makna simbolis yang signifikan. Angka 1 dalam kedua rangkaian angka ini merepresentasikan zat, baik zat Tuhan maupun zat manusia. Ini mencerminkan ajaran monoteistik yang melihat Tuhan sebagai satu dan tunggal.</p>
<p>Sementara itu, angka 7 dan 4 dalam rangkaian angka Tuhan merepresentasikan sifat Tuhan dan ciptaan-Nya, memberikan gambaran tentang hubungan Tuhan dengan alam semesta.</p>
<p>Untuk manusia, angka 15, 7, dan 4 merepresentasikan struktur tubuh manusia, anggota tubuh, dan kewajiban ma’rifat kepada Allah. Ini menggambarkan pandangan holistik tentang manusia, bukan hanya sebagai makhluk fisik, tetapi juga sebagai makhluk spiritual yang memiliki kewajiban dan tujuan spiritual.</p>
<p>Selain simbolisme numerik, penggunaan bahasa juga menjadi elemen penting dalam teks. Arab Pegon, sebuah bentuk bahasa Arab-Jawa Ngoko, digunakan sepanjang teks.</p>
<p>Penggunaan bahasa ini bukan hanya tentang komunikasi, tetapi juga menunjukkan identitas budaya dan keagamaan pengarang.</p>
<p>Bahasa ini memainkan peran penting dalam mendukung pesan-pesan keagamaan dalam teks, dan juga menunjukkan posisi unik pengarang dalam tradisi sastra Jawa dan Islam.</p>
<p>Dalam Bait Dua Belas, pesan keagamaan tersemat dalam simbol-simbol dan bahasa yang digunakan. Angka-angka 1-7-4 dan 1-15-7-4, sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, menggambarkan pandangan holistik tentang Tuhan dan manusia, dan menghubungkan keduanya dalam konteks pencarian spiritual ma&#8217;rifatullah.</p>
<p>Pesan keagamaan ini bukan hanya tentang teologi dalam pengertian yang sempit, tetapi juga tentang bagaimana manusia seharusnya hidup dan berinteraksi dengan dunia di sekitar mereka. Pesan keagamaan ini adalah relevan dalam konteks sosial dan budaya yang lebih luas karena mereka menawarkan panduan tentang bagaimana mencapai harmoni antara dunia fisik dan spiritual.</p>
<p>Salah satu pesan penting yang dapat kita ambil dari teks ini adalah bahwa pencarian spiritual bukanlah upaya yang terisolasi, tetapi adalah bagian dari kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Hal ini tercermin dalam bagaimana angka-angka yang digunakan untuk merepresentasikan manusia mencakup struktur tubuh dan anggota tubuh, menunjukkan bahwa setiap aspek dari kehidupan fisik manusia memiliki relevansi spiritual.</p>
<p>Pesan lainnya adalah tentang pentingnya mengenali dan memahami peran kita sebagai ciptaan Tuhan dalam dunia ini. Angka 4 dalam rangkaian angka yang merepresentasikan manusia melambangkan kewajiban ma&#8217;rifat kepada Allah.</p>
<p>Ini menggambarkan pandangan bahwa setiap manusia memiliki tanggung jawab spiritual untuk mencari pengetahuan tentang Tuhan dan mengenal-Nya lebih dekat.</p>
<p>Dengan memahami pesan-pesan ini, kita dapat melihat bagaimana Bait Dua Belas tidak hanya memberikan gambaran tentang konsep keagamaan, tetapi juga panduan hidup yang relevan dalam berbagai konteks sosial dan budaya.</p>
<p>Melalui perjalanan penelitian, kita telah melakukan perjalanan mencari makna melalui Teks Bait Dua Belas, sebuah karya monumental dari Moeh. Noer.</p>
<p>Pengaruh kuasa penulis, pembentukan citra Tuhan, manusia, dan jalan menuju ma’rifatullah, dan penggunaan angka serta bahasa Arab Pegon sebagai simbol telah kita telaah dengan teliti.</p>
<p>Teks Bait Dua Belas membawa kita ke dalam perjalanan spiritual yang merujuk pada konsep metafisik dalam tradisi mistik Islam. Simbolisasi Tuhan dan manusia melalui kode angka mencerminkan kekayaan dan kompleksitas pandangan dunia penulis dan membantu kita memahami bagaimana dia merangkai dan menyampaikan pesan-pesan keagamaannya.</p>
<p>Inti dari analisis ini adalah mengakui betapa kaya dan berlapis-lapisnya pesan yang dapat disampaikan melalui simbol dan tanda. Kita belajar bahwa dalam membaca teks sastra, penting untuk melihat di balik kata-kata dan melihat bagaimana makna dibangun melalui simbol.</p>
<p>Dalam konteks Teks Bait Dua Belas, ini memungkinkan kita untuk memahami pesan-pesan keagamaan dalam teks secara lebih mendalam dan berarti.</p>
<p><strong>Oleh: Indah Aprilika Tanjung, mahasiswi Sastra Minangkabau, Universitas Andalas</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2023/06/15/Pondok-Pesantren-Syekh-Haji-Moh-Nur.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Pondok Pesantren Syekh Haji Moh Nur]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2023/06/15/Pondok-Pesantren-Syekh-Haji-Moh-Nur-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Pondok Pesantren Syekh Haji Moh Nur]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Ternyata Abuya Said Aqil Siradj Keturunan Rasulullah SAW</title>
		<link>https://www.cilacap.info/ci-52485/ternyata-abuya-said-aqil-siradj-keturunan-rasulullah-saw</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 31 Mar 2023 18:51:54 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Kiai Said Aqil Siradj]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.cilacap.info/ci-52485/ternyata-abuya-said-aqil-siradj-keturunan-rasulullah-saw</guid>

					<description><![CDATA[ aria-label="Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Sabtu, 01 April 2023, Pembahasan mengenai Keturunan Baginda Nabi Muhammad SAW beberapa pekan terakhir ini sedang ramai diperbincangkan di dunia maya, seperti disejumlah kanal Youtube.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.cilacap.info" aria-label="Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Sabtu, 01 April 2023, Pembahasan mengenai Keturunan Baginda Nabi Muhammad SAW beberapa pekan terakhir ini sedang ramai diperbincangkan di dunia maya, seperti disejumlah kanal Youtube.</p>
<p>Namun berdasarkan tayangan-tayangan yang beredar tampaknya ada suatu polemik yang menyebabkan masing-masing pendukung saling bela atau justru saling serang.</p>
<p>Oleh sebab itu, Cilacap.info berlepas diri dari suatu polemik atau kegaduhan dan menjadi tertarik membahas mengenai Keturunan Nabi Muhammad SAW di Indonesia.</p>
<p>Keturunan Nabi Muhammad SAW di Indonesia dikenal Masyarakat sebagai Habib / Habaib yang berasal dari Hadramaut, Yaman dengan Jalur Sayyidina Husain.</p>
<p>Namun di Indonesia juga ada Keturunan Baginda Nabi Muhammad dari Jalur Sayyidina Hasan. Ada juga yang melalui Jalur Walisongo atau ber fam Azmatkhan al Husaini, meski demikian Walisongo juga ada yang dari Sayyidina Hasan.</p>
<p>Bangsa persia dan dataran arab kerap menyebut keturunan Nabi Muhammad dengan sebutan Sayyid atau Syarif.</p>
<p>Mungkin tidak banyak yang mengetahui, bahwa banyak Ulama-Ulama di Indonesia yang Nasabnya tersambung kepada Baginda Nabi Muhammad seperti Buya KH Said Aqil Siradj.</p>
<p>Mengutip jurnal.cilacap.info, Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Luhur Al Tsaqafah dan mantan Ketua Umum PBNU 2 Periode, KH Said Aqil Siradj ternyata memiliki silsilah atau nasab yang tersambung kepada Rasulullah Muhammad SAW.</p>
<p>Kiai Said Aqil tersambung kepada baginda Nabi melalui Jalur Walisongo, yakni Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.</p>
<p>Perihal silsilah beliau pernah dipublikasi di akun Media Sosial Ala_NU dan dibeberapa media massa online seperti Muslim Okezone dan Bangkitmedia.</p>
<p>Adapun silsilah Prof Dr KH Said Aqil Siradj tersambung kepada Rasulullah SAW, yakni sebagai berikut:</p>
<p>KH Aqil
KH Siradj
KH Said (Gedongan)
KH Murtasim
KH Nuruddin
KH Ali bin Tubagus Ibrahim bin Abul Mufakhir (Majalengka)
Sultan Maulana Mansur (Cikaduen)
Sultan Maulana Yusuf (Banten)
Sultan Maulana Hasanuddin (Banten)
Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)
Syeik Abdullah bin Ali Nurul Alam
Syeik Jumadil Kubro
Syeik Jamaludin Akbar Khan
Syeik Ahmad Jalaludin Khan
Syeik Abdullah Khan
Syeik Abdul Malik al-Muhajir (Nasrabad India)
Syeik Alawi Ammil Faqih (Hadrulmaut)
Sayyid Muhammad Shohib Mirbat Ali Kholi’ Qosam
Sayyid Alawi atsani
Sayyid Muhammad Shohibus Saumi’ah
Sayyid Alawi Awwal
Sayyid Ubaidillah
Sayyid Ahmad Al Muhajir
Sayyid Isa Ar-Rumi
Sayyid Muhammad an-Naqib
Sayyid Ali ‘Uraidhi
Sayyid Ja’far as-Shodiq
Sayyid Muhammad al-Baqir
Sayyid Ali Zaenal Abidin
Sayyidina Husein As-Sibth
Sayyidina Ali bin Abi Thalib wa Sayyidah Fathimah Az-Zahra
Rasulullah Muhammad SAW.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2020/07/31/Buya-KH-Said-Aqil-Siradj.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Buya KH Said Aqil Siradj]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2020/07/31/Buya-KH-Said-Aqil-Siradj-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Buya KH Said Aqil Siradj]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Kisah dan Biografi Ulama KH Abdul Hadi Zahid</title>
		<link>https://www.cilacap.info/ci-51566/kisah-dan-biografi-ulama-kh-abdul-hadi-zahid</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Aji Setiawan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Feb 2023 01:42:27 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Biografi Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Kiai]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.cilacap.info/ci-51566/kisah-dan-biografi-ulama-kh-abdul-hadi-zahid</guid>

					<description><![CDATA[ aria-label="Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Pada awalnya, Pondok Pesantren Langitan dibangun di atas tanah ladang di tepi sebelah utara Bengawan Solo.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.cilacap.info" aria-label="Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Pada awalnya, Pondok Pesantren Langitan dibangun di atas tanah ladang di tepi sebelah utara Bengawan Solo.</p>
<p>Karena merupakan daerah yang sering terkena dampak banjir. Lokasi pesantren dipindahkan di sebelah utara Tangkis bagian utara di tepi jalan provinsi yang menghubungkan Tuban dan Babat dengan Surabaya. Pemindahan lokasi dilakukan pada 1904 M.</p>
<p>Tuban sendiri adalah kota di Pantai Utara Jawa Timur yang ramai dan penting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia.</p>
<p>Selain sebagai bandar berpengaruh, juga merupakan pusat pengembangan agama Islam selain di Sedayu, Gresik, Surabaya, dan lainnya. Daerah Widang, letak Pondok Pesantren Langitan berada, adalah daerah yang ramai.</p>
<p>Lokasinya yang dekat dengan Bengawan Solo merupakan jalur lalu lintas perdagangan dan penambangan potensial bagi masyarakat dan para pedagang dari kota-kota besar menuju kota-kota.</p>
<p>Dan tempat perdagangan yang terletak di sepanjang perairan tersebut, baik yang ada di daerah pedalaman maupun yang ada di tepi pantai.</p>
<p>Sejarah nama Pondok Pesantren Langitan memiliki beberapa versi. Namun, satu sama lainnya saling melengkapi.</p>
<p>Pertama, Langitan merupakan perubahan dari kata Ngelangitan, gabungan dari kata Ngelangi (Jawa) yang berarti berenang dan Wetan (Jawa) yang berarti Timur.</p>
<p>Hal ini dikaitkan dengan cerita adanya seseorang yang bermaksud tirakat dengan berenang di Sungai Bengawan Solo dalam tujuh kali putaran dari arah Barat ke Timur.</p>
<p>Pada putaran terakhir ia keluar dari air dan bertemu dengan Syeikh Muhammad Nur. Sejak saat itulah dinamai dengan Pesantren Ngelangitan.</p>
<p>Saat pertama kali berdiri, Pondok Pesantren Langitan hanya sebuah surau kecil di daerah Kabupaten Tuban, Jawa Timur.</p>
<p>Sang pendiri, KH Muhammad Nur, mengajar keluarga dan tetangga dekat untuk meneruskan perjuangan dalam mengusir penjajah dari tanah Jawa. KH Muhammad Nur mengasuh pondok sekitar 18 tahun mulai tahun 1852 hingga 1870.</p>
<p>Ponpes Langitan berpegang teguh pada kaidah &#8220;Al-Muhafadhotu Alal Qodimis Sholih Wal Akhdu Bil Jadidil Ashlah&#8221;. Yakni memelihara budaya-budaya klasik yang baik dan mengambil budaya-budaya yang baru yang konstruktif.</p>
<p>Itu membuat ponpes itu tidak sampai terombang-ambing oleh derasnya arus globalisasi.</p>
<p>Namun justru sebaliknya dapat menempatkan diri dalam posisi yang strategis, dan bahkan kadang-kadang dianggap sebagai alternatif.</p>
<p>Meski berawal dari surau kecil, dalam rentang satu abad Ponpes Langitan menjadi saksi sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.</p>
<p>Pondok ini ternyata pernah menjadi tempat belajar pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.</p>
<p>KH Hasyim Asy’ari, menghabiskan 3 tahun di pondok tersebut pada akhir tahun 1900-an.</p>
<p>Ada pula tokoh-tokoh NU yang pernah belajar di pesantren tersebut. Seperti KH Syamsul Arifin (ayah KH As’ad Syamsul Arifin), KH Shiddiq (ayah KH Ahmad Shiddiq), KH Wahab Hasbullah.</p>
<p>Selepas diasuh KH M Nur Estafeta berlanjut ke KH Abdul Hadi yang lahir di Desa Kauman Kecamatan Kedungpring Kabupaten Lamongan pada tanggal 17 Rabi’ul Awwal 1309 H.</p>
<p>Sejak berusia sebelas tahun beliau sudah mulai belajar di Pondok Pesantren Langitan hingga usia sembilan belas tahun.</p>
<p>Dan atas saran KH. Muhammad Khozin beliau melanjutkan studi di Pesantren Kademangan Bangkalan Madura di bawah asuhan KH. Kholil selama tiga tahun.</p>
<p>Pada usia 13 tahun, beliau belajar di Pesantren Jamsaren Solo asuhan KH. Idris. Setelah itu kembali lagi nyatri di Pondok Pesantren Langitan hingga pada usia 25 tahun, dan diambil menantu oleh KH. Muhammad Khozin, dijodohkan dengan Ning Juwairiyah.</p>
<p>Pada usia yang relatif muda, 30 tahun beliau sudah menerima tugas berat sebagai pengasuh Pondok Pesantren Langitan.</p>
<p>Namun meskipun begitu, di bawah asuhannya Pondok Pesantren Langitan saat itu mengalami peningkatan yang cukup signifikan.</p>
<p>Terbukti mulai periode ini (tahun 1949 M) mulai dikembangkan sistem pengajaran klasikal yang dahulu belum dikenal, dengan cara mendirikan madrasah ibtida’iyah dan madrasah muallimin.</p>
<p>Serta kegiatan ekstra kurikuler seperti bahsul masail lil waqiah, jamiyatul muballighin, jamiyatul qurro wal khuffadz dan lain-lain.</p>
<p>Di samping itu kegiatan rutinitas berupa pengajian kitab baik sistem sorogan maupun weton terus dilestarikan dan dikembangkan.</p>
<p>Terlebih sholat berjamaah, karena beliau adalah seorang ulama yang bertipikal sangat disiplin waktu dan terkenal keistiqomahannya.</p>
<p>Sebagaimana yang diceritakan oleh KH. M. Ihya’ Ulumuddin (seorang alumni ponpes Langitan dan pengasuh Pondok Pesantren Nurul Haromain Malang) bahwa, dia dan para santri yang lain yang bertugas jaga malam.</p>
<p>Ketika mendengar suara kriek dari pintu belakang rumah yang terbuat dari bambu karena KH. Abdul Hadi keluar untuk mengambil air wudlu itu menunjukkan jam yang tepat kira-kira jam 2 malam.</p>
<p>Waktu pun terus bergulir, bergerak menuju suratan taqdir. Mendung duka menyelimuti atmosfir Pondok Pesantren Langitan.</p>
<p>Air mata sebagai kesaksian atas cinta kepada sang guru besar jatuh menetes tak tertahankan.</p>
<p>Hari itu, 9 Shofar 1391 H. atau bertepatan dengan tanggal 5 April 1971 M. kiai panutan umat, pengemban amanat, telah kembali ke haribaan ilahi Rabbi setelah mengasuh Pondok Pesantren Langitan dalam masa yang cukup lama, 50 tahun (1921-1971 M.). Ribuan umat kehilangan tongkat, orang bijak kehilangan hikmat.</p>
<p>Dalam perkembangannya, Ponpes Langitan terus berupaya melakukan perbaikan dan kontekstualitas dalam merekonstruksi bangunan-bangunan sosio kultural, khususnya dalam hal pendidikan dan manajemen.</p>
<p>Usaha-usaha ke arah pembaharuan dan modernisasi memang sebuah konsekuensi dari sebuah dunia yang modern.</p>
<p>Namun Pondok Pesantren Langitan dalam hal ini mempunyai batasan-batasan yang konkret, pembaharuan dan modernisasi tidak boleh merubah atau mereduksi orientasi dan idealisme pesantren.(****)</p>
<p><strong>Artikel ini Merupakan Kiriman dari Penulis aslinya kepada Cilacap.info, Sehingga jika ada Kesamaan Konten diberbagai media merupakan hal wajar, terkait Klaim Konten yang dipublish di sini tidak bisa dijadikan klaim bahwa konten ini berasal dari website Anda.</strong>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2023/02/12/Makam-KH-Abdul-Hadi-Zahid.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Makam KH Abdul Hadi Zahid]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2023/02/12/Makam-KH-Abdul-Hadi-Zahid-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Makam KH Abdul Hadi Zahid]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
	</channel>
</rss>
