<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Kumpulan Pos Situs Keramat &#8211; Cilacap.info</title>
	<atom:link href="https://www.cilacap.info/tag/situs-keramat/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.cilacap.info</link>
	<description>Media Online Masa Kini, Akurat, Mengedepankan Etika</description>
	<lastBuildDate>Wed, 07 Jan 2026 02:32:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	
<image>
<url>https://img.cilacap.info/images/cilacapinfo.png</url><title>Kumpulan Pos Situs Keramat &#8211; Cilacap.info</title>
<link>https://www.cilacap.info</link>
<width>144</width><height>19</height><description>Media Online Masa Kini, Akurat, Mengedepankan Etika</description>
</image>
	<item>
		<title>TACB Cilacap Menilai Gamelan Batu Salebu Warisan Kearifan Lokal yang Harus Dilestarikan</title>
		<link>https://www.cilacap.info/ci-85011/tacb-cilacap-menilai-gamelan-batu-salebu-warisan-kearifan-lokal-yang-harus-dilestarikan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Imam Hamidi Antassalam]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2026 16:06:41 +0000</pubDate>
				
		
		<category><![CDATA[Berita Cilacap]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Jawa Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[cagar budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Khazanah]]></category>
		<category><![CDATA[Situs Keramat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.cilacap.info/ci-85011/tacb-cilacap-menilai-gamelan-batu-salebu-warisan-kearifan-lokal-yang-harus-dilestarikan</guid>

					<description><![CDATA[ aria-label="Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8212; Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Cilacap menilai Gamelan Batu Salebu memiliki nilai penting sebagai warisan kearifan lokal yang harus dilestarikan. Mewakili TACB Cilacap, Arkeolog Luthfi Eka Bhagaskara menegaskan dalam laporan identifikasi awal terkait temuan benda budaya tersebut di Balai Desa Salebu, Majenang, Cilacap. Selasa, (6/1/2026)]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.cilacap.info" aria-label="Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8212; Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Cilacap menilai Gamelan Batu Salebu memiliki nilai penting sebagai warisan kearifan lokal yang harus dilestarikan. Mewakili TACB Cilacap, Arkeolog Luthfi Eka Bhagaskara menegaskan dalam laporan identifikasi awal terkait temuan benda budaya tersebut di Balai Desa Salebu, Majenang, Cilacap. Selasa, (6/1/2026)</p>
<p>&#8220;Gamelan batu Salebu adalah satu-satunya yang ditemukan di Wilayah Cilacap. Sebagai warisan kearifan lokal budaya masyarakat Desa Salebu, maka perlunya upaya pelestarian, sekaligus perlindungan terhadap Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) ini, kedepan TACB Cilacap, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, beserta instansi yang terkait akan mendorong untuk ditetapkan sebagai Peringkat Kabupaten,&#8221; akunya usai melakukan identifikasi awal dan kunjungan lokasi temuan.</p>
<p>Status tersebut diperlukan untuk memastikan adanya perlindungan hukum dan upaya konservasi yang komprehensif terhadap warisan budaya masyarakat Salebu tersebut.</p>
<p>Adapun <a href="https://daerah.cilacap.info/ci-84236/warisan-budaya-gamelan-batu-salebu-ditemukan">identifikasi Gamelan Batu Salebu</a> yang dilaporkan sebagai benda cagar budaya (BCB) masih merupakan dugaan.</p>
<p>&#8220;Gamelan Batu Salebu ini masih berstatus dugaan sebagai BCB karena merupakan temuan tunggal. Maka perlu kerja keras dalam rangka membuka tabir peradaban masa lalu,&#8221; ungkapnya</p>
<p>Diketahui Batu Gamelan Salebu ini ditemukan di sungai yang alirannya dari hulu gunung padang Salebu, berjenis batuan andesit yang pada umumnya masyarakat pada masa lalu memilihnya untuk digunakan membuat bangunan-bangunan megalitik, candi, piramida, begitu juga perkakas-perkakas.</p>
<p>&#8220;Jaman nenek moyang dulu, diketahui memang banyak memakai material batu berjenis andesit. Dan tidak menutup kemungkinan masyarakat masa lampau memilih batu ini untuk gamelan, sebagai sarana kesenian atau spiritual mereka,&#8221; terangnya.</p>
<p>Dia menjelaskan bahwasannya batu andesit sebagai jenis batu pilihan untuk artefak yang terdapat pada sarkofagus (peti kubur dari batu), punden berundak, lumpang batu, meja batu, menhir, arca, dan perkakas maupun alat pertanian kuno, di jaman berburu dan meramu saat itu.</p>
<p>Kendati batu berbunyi Gamelan pertama kali ditemukan di aliran sungai, hilir dari Gunung Padang Salebu ini sebesar lumpang pipih ukuran 30&#215;27 cm, mesti dugaannya beragam tafsir, karena melintasi ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu, dari masa ke masa, itu sudah menyimpulkan ada perpindahan tempat oleh kondisi alam maupun manusianya.</p>
<p>&#8220;Tidak lagi insitu, jadi perlu kerja keras lagi, untuk menemukan benda pendukung lainnya,&#8221; tegasnya.</p>
<p>Maka sementara ini pihaknya belum bisa memastikan Gamelan Batu Salebu sebagai BCB. Jadi menurutnya perlu dukungan semua pihak untuk identifikasi lebih lanjut terhadap perhatian atas temuan ini.</p>
<p>Upaya pelestarian tentunya melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan masyarakat setempat, untuk memastikan keberlanjutan warisan budaya ini bagi generasi mendatang.</p>
<p><a href="https://www.google.com/amp/s/daerah.cilacap.info/ci-84901/tacb-cilacap-akan-identifikasi-mendalam-gamelan-batu-salebu-mulai-besok/amp">Hingga berita ini diunggah temuan batu di Desa Salebu, Kecamatan Majenang, Cilacap</a>, yang dikenal sebagai Gamelan Batu Salebu, masih dalam tahap identifikasi awal oleh pihak berwenang.</p>
<p>Kepala Bidang Kebudayaan Ahmad Fatoni mengaku akan melakukan kajian mendalam terhadap warisan Budaya Masyarakat Desa Salebu ini.</p>
<p>&#8220;Nanti akan kami kaji secara akademik. Termasuk bagaimana pemajuan nilai budayanya bahkan memungkinkan mereplika gamelan batu ini agar bisa digunakan untuk tujuan edukasi,” ujarnya.</p>
<p>Ia menegaskan, dalam jangka panjang kajian gamelan batu akan membantu mengungkap potensi khazanah budaya Desa Salebu sebagai bagian dari kekayaan budaya Nusantara. Yakni dengan keberadaan kesenian khas dari gamelan batu.</p>
<p>Sementara itu, Kepala Desa Salebu, Agus Fauzi mengaku optimis keberadaan gamelan batu ini bisa menjadi aset berharga bagi identitas budaya desa bahkan bangsa. Hal ini kemudian membawa multi efek bagi warga dengan berkembangnya UMKM sampai home stay.</p>
<p>“Dengan jadi ikon, orang akan tertarik untuk datang ke Salebu,” harapnya. (IHA)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2026/01/07/TACB-Cilacap-Identifikasi-Awal-Gamelan-Batu-Salebu.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1600"
				height="1176">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[TACB Cilacap Identifikasi Awal Gamelan Batu Salebu]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2026/01/07/TACB-Cilacap-Identifikasi-Awal-Gamelan-Batu-Salebu-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[TACB Cilacap Identifikasi Awal Gamelan Batu Salebu]]></media:description>
													<media:copyright>Imam Hamidi Antassalam</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Mandala Mata Bumi, Situs Megalitik yang Tersembunyi di Balik Manuskrip Belanda</title>
		<link>https://www.cilacap.info/ci-84504/mandala-mata-bumi-situs-megalitik-yang-tersembunyi-di-balik-manuskrip-belanda</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Imam Hamidi Antassalam]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 28 Dec 2025 01:28:43 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Berita Cilacap]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Jawa Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[cagar budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Dayeuhluhur]]></category>
		<category><![CDATA[Situs Keramat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.cilacap.info/ci-84504/mandala-mata-bumi-situs-megalitik-yang-tersembunyi-di-balik-manuskrip-belanda</guid>

					<description><![CDATA[ aria-label="Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8212; Situs Mandala Mata Bumi adalah nama yang diberikan untuk sebuah situs megalitik purba yang baru-baru ini ditemukan di puncak Pegunungan Subang, wilayah Desa Kuta Agung, Dayeuhluhur, Cilacap, Jawa Tengah. Selasa (23/12).]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.cilacap.info" aria-label="Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8212; Situs Mandala Mata Bumi adalah nama yang diberikan untuk sebuah situs megalitik purba yang baru-baru ini ditemukan di puncak Pegunungan Subang, wilayah Desa Kuta Agung, Dayeuhluhur, Cilacap, Jawa Tengah. Selasa (23/12).</p>
<p>Situs megalitik yang <a href="https://daerah.cilacap.info/ci-84386/mandala-mata-bumi-situs-megalitik-terbesar-di-jawa-tengah-ditemukan-di-dayeuhluhur-cilacap">digambarkan &#8216;Situs Sebesar Gunung&#8217; dan terbesar di Jawa Tengah</a> ini dengan keistimewaan dan keunikannya yang dimiliki, ternyata Tersembunyi di Balik Manuskrip Belanda.</p>
<p>Gunung Soebang (Gunung Subang) pertama kali dicatat oleh orang Belanda pada tahun 1806. Hal itu ditemukan berdasarkan buku berjudul<a href="https://books.google.co.id/books?id=A5RUAAAAcAAJ&amp;pg=PP7&amp;hl=id&amp;source=gbs_selected_pages&amp;cad=1#v=onepage&amp;q=Gunung%20Soebang%20(1856)%20%E2%86%92%20Tijdschrift%20voor%20Indische%20Taal-%2C%20Land-%20en%20Volkenkunde%20&amp;f=false"> &#8216;Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde&#8217;</a>.</p>
<p>Dalam buku sang penulis melaporkan bahwa puncak &#8216;Soebang Daja Louhour&#8217; terdiri dari beberapa teras bertingkat, dan memiliki makam keramat, serta tonil pemujaan atau aktivitas pertapaan.</p>
<p>Penulis buku adalah G. A. de Lange dan Dr. van Limburg Brouwer, tidak secara eksplisit menyebutkan nama situs megalitik &#8216;Mandala Mata Bumi&#8217;, walau demikan mereka menggambarkan secara umum apa yang diketahuinya berdasarkan survei waktu itu, peninjauan langsung atas potensi pegunungan di wilayah Dayaluhur-Galuh–Kuningan–Cirebon.</p>
<p>Maka jika literasi tersebut dikaji lebih dalam, menurut ahli bahasa, ada dua hal yang menjadi kunci untuk memahaminya yakni catatan yang tersurat dan pengertian yang tersirat. Dua kunci tersebut sebagai data utama dalam ilmu pembuktian sejarah.</p>
<p>Dalam manuskrip buku berjudul &#8216;Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde&#8217;. Sang penulis melaporkan bahwa &#8216;puncak Soebang Daja Louhour&#8217; (Gunung Subang Dayeuhluhur) terdiri dari beberapa teras bertingkat, dan memiliki makam keramat, serta aktivitas pertapaan&#8217;.</p>
<p>Maka jika diserap, dipahami dan disimpulkan, berdasarkan literasi naskah kuno Eropa berbahasa belanda tersebut menyiratkan informasi bahwa <a href="https://www.cilacap.info/ci-84446/mandala-mata-bumi-situs-megalitik-miliki-banyak-pintu-unik-dan-monumental">situs megalitik &#8216;Mandala Mata Bumi&#8217; yang berada di puncak Gunung Subang Dayeuhluhur</a> terdiri dari beberapa teras bertingkat (pengertiannya yakni punden berundak), dan memiliki makam keramat (pengertiannya bumi pesarean), serta aktivitas pertapaan (mandala).</p>
<p>Dalam berbagai naskah kuno Eropa, terutama dari era penjelajahan dan kolonialisme awal, memang diakui mereka banyak melakukan eksplorasi terkait potensi kekayaan alam, kebudayaan Nusantara yang berkembang saat itu, lalu mereka merekam dalam cataan-catatan, menuliskan dalam bahasa mereka, dan bahkan mendokumentasikannya.</p>
<p>Dalam dokumentasi yang kemudian disebut manuskrip maupun buku, yang memuat data kumpulan informasi, biasanya berfokus pada pos-pos perdagangan, kerajaan-kerajaan besar, atau sumber daya alam di berbagai wilayah dan budaya di seluruh dunia, termasuk Indonesia.</p>
<p>Adapun hasil penjelajahan apa yang mereka gali atas wilayah-wilayah di Nusantara, terantologi baik dalam bentuk kumpulan maupun laporan-laporan, yang disebut manuskrip atau buku. Maka manuskrip adalah produk budaya mereka yang hasilnya masih dapat kita pelajari saat ini, melalui arsip yang ditinggalkannya itulah kita mengetahui betapa peradaban kita di masa lalu begitu unggul dan tinggi.</p>
<p>Namun demikian walau tidak secara spesifik, dan detail, apalagi terperinci untuk menuliskan situs-situs peninggalan purbakala, secara tersirat melalui catatan-catatan mereka menginformasikan muatan potensi yang ada dalam suatu wilayah dengan gambaran umumnya saja.</p>
<p>Apalagi situs megalitik yang berada di ketinggian gunung dan pedalaman seperti &#8216;Mandala Mata Bumi&#8217; Daja Loehoeur, sepertinya di luar konteks mereka yang lebih luas.</p>
<p>Banyak yang menganggap bahwa situs megalitik sebagai warisan budaya yang mencerminkan karakter dan budaya bangsa, serta peradaban masa lalu, yang bernilai bagi kepentingan sejarah dan pendidikan, yang lebih sering didokumentasikan dan dikaji ke dalam konteks arkeologi dan sejarah lokal Indonesia, baik melalui penelitian yang dilakukan oleh para arkeolog baik kedinasan maupun lembaga pendidikan, dari kajian ilmiah para akademisi seperti yang tercatat dalam berbagai jurnal dan repositori budaya nasional.</p>
<p>Namun hal terkait situs megalitik &#8216;Mandala Mata Bumi&#8217; Gunung Subang wilayah Kuta Agung, Dayeuhluhur, Cilacap ini setelah berselancar ke mana-mana, redaksi <a href="https://www.cilacap.info" aria-label="Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> tidak menemukannya.</p>
<p>Walhasil redaksi mendapatkan informasi secara langsung dari masyarakat setempat, masyarakat yang disebut &#8216;Dayaluhur&#8217; yang betapa kuat dan secara ketat menjaga nilai tradisi budayanya, mereka secara turun menurun mewarisi budaya e-book.</p>
<p>E-book yang menandaskan pesan ingatan bahwa apa kata nenek moyang adalah ilmu yang bernilai bagi pendidikan dan sejarah, dan yang harus dipercayai. Mereka menjaga nilai kepercayaan itu ke dalam laku hidup mereka sehari-hari, bahwa tradisi budaya tutur dan lisan menjadi karakter khas masyarakat budaya Dayeuhluhur ini.</p>
<p>Sementara itu, Situs megalitik Gunung Padang Cianjur dilaporkan pada tahun 1914. Situs ini ditulis oleh N. J. Krom, arkeolog dari Oudheidkundige Dienst (Dinas Purbakala Hindia-Belanda), dalam laporan resminya tentang peninggalan purbakala di Jawa.</p>
<p>Dalam literatur ilmiah Eropa sebagaimana tersebut di atas, maka ada rentang waktu yang cukup jauh yakni satu abad kemudian, setelah Situs Megalitik Gunung Subang Daja Louhour (1806) atau situs Mandala Mata Bumi terlaporkan.</p>
<p>Jadi, dalam arsip kolonial, Gunung Soebang tercatat lebih lebih awal dari pada Gunung Padang (1914) sebagaimana dikemukakan oleh manuskrip berjudul &#8216;Rapporten van den Oudheidkundige Dienst in Nederlandsch-Indië&#8217;</p>
<p>Catatan redaksi kali ini berikhtiar menggali informasi dan data yang kaitannya Situs Purbakala Gunung Subang dengan Manuskrip Belanda, Meskipun detail spesifik mengenainya masih jarang dan samar ditemukan, tapi narasi utama menunjukkan bahwa keberadaan situs megalitik &#8216;Mandala Mata Bumi&#8217; yang sebelumnya tersembunyi atau kurang dikenal oleh publik, memungkinkan akan terbuka dengan anggapan bahwa sejarah itu berlangsung secara dinamis.</p>
<p>Maka sebelum akhirnya ditemukan dan diteliti lebih dalam dan secara formal. Penemuan ini membuka kembali diskusi tentang keberadaan situs-situs megalitik yang tersembunyi sebagai perhatian penting bagi entitas warisan budaya dan identitas peradaban bangsa, dan umat manusia yang selama ini luput dari perhatian. (IHA)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2025/12/28/Situs-Megalitik-G.Subang-dalam-Manuskrip-Belanda.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1600"
				height="976">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Situs Megalitik G Subang dalam Manuskrip Belanda]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2025/12/28/Situs-Megalitik-G.Subang-dalam-Manuskrip-Belanda-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Situs Megalitik G Subang dalam Manuskrip Belanda]]></media:description>
													<media:copyright>Imam Hamidi Antassalam</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Mandala Mata Bumi, Situs Megalitik Miliki Banyak Pintu, Unik, dan Monumental</title>
		<link>https://www.cilacap.info/ci-84446/mandala-mata-bumi-situs-megalitik-miliki-banyak-pintu-unik-dan-monumental</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Imam Hamidi Antassalam]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Dec 2025 09:26:29 +0000</pubDate>
				
		
		<category><![CDATA[Berita Jawa Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[cagar budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cilacap]]></category>
		<category><![CDATA[Dayeuhluhur]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Situs Keramat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.cilacap.info/ci-84446/mandala-mata-bumi-situs-megalitik-miliki-banyak-pintu-unik-dan-monumental</guid>

					<description><![CDATA[ aria-label="Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8212; Situs megalitik Mandala Mata Bumi yang baru-baru ini ditemukan di puncak pegunungan Subang, wilayah Desa Kuta Agung, Kecamatan Dayeuhluhur, Kabupaten Cilacap, selain disebut situs terbesar di Jawa Tengah dengan keistimewaan dan keunikan pada arsitektur punden berundaknya yang tidak biasa, berada di dataran tinggi.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.cilacap.info" aria-label="Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8212; Situs megalitik Mandala Mata Bumi yang baru-baru ini ditemukan di puncak pegunungan Subang, wilayah Desa Kuta Agung, Kecamatan Dayeuhluhur, Kabupaten Cilacap, selain disebut <a href="https://daerah.cilacap.info/ci-84386/mandala-mata-bumi-situs-megalitik-terbesar-di-jawa-tengah-ditemukan-di-dayeuhluhur-cilacap">situs terbesar di Jawa Tengah</a> dengan keistimewaan dan keunikan pada arsitektur punden berundaknya yang tidak biasa, berada di dataran tinggi.</p>
<p>Situs prasejarah ini juga disebut monumental, pasalnya situs &#8216;Mandala Mata Bumi&#8217; ini memiliki banyak pintu masuk, juga adanya batu ukir, batu relief berpasangan, di sisi kanan dan sisi kiri situs.</p>
<p>&#8220;Saya lihat, dan tidak ada di wilayah lain, di Jawa Tengah, adapun di Kabupaten Karanganyar itu satu, di sekitar kawasan tersebut yang kemudian ditemukan Candi Cetho dan Candi Sukuh, itu dulunya merupakan punden berundak, sama,&#8221;</p>
<p>&#8220;Bedanya, Situs Mandala Mata Bumi ini pintu masuknya banyak, ini unik, suatu hal yang istimewa, dan menjadi keunikan utama, adanya batu berelief, dua batu, berdiri di sisi kanan dan kiri, berpasang-pasangan, ini monumental, dan saya tidak menemukan di tempat lain,&#8221; terang ahli arkeologi Kementerian Kebudayaan, Wahyu Broto Raharjo SS.M.Hum usai melakukan observasi, peninjauan lapangan sekaligus kajian ilmiah bersama tim, pada Selasa, (23/12/2025).</p>
<p>Tenaga ahli arkeologi dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X dengan wilayah kerja Provinsi Jawa Tengah dan DI Yogyakarta tersebut mengemukakan bahwa situs prasejarah Mandala Mata Bumi ini jelas merupakan warisan budaya bangsa yang harus dilindungi undang-undang sebagai benda cagar budaya.</p>
<p>&#8220;Dari segi regulasi, Undang-Undang Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya, mengamanatkan perlindungan, pelestarian, pengembangan serta pemanfaatannya untuk melestarikan warisan budaya bangsa dalam rangka memperkuat identitas kepribadian bangsa, dan umat manusia,&#8221; katanya</p>
<p>&#8220;Oleh karenanya, dalam Undang-undang Cagar Budaya, dengan kriteria-kriteria yang disebutkan, bahwa benda yang bernilai sejarah budaya bangsa, dan berusia minimal 50 tahun, maka situs Mandala Mata Bumi, sudah pasti, dan jelas lebih dari itu,&#8221; lanjutnya.</p>
<p>Dia pun menjelaskan bahwa punden berundak pada situs &#8216;Mandala Mata Bumi&#8217; ini sebagai warisan budaya peninggalan purbakala telah berlangsung jauh sebelum adanya agama-agama.</p>
<p>&#8220;Budaya punden berundak sudah ada di Nusantara, di Indonesia, jauh sebelum ada agama-agama,&#8221; terangnya.</p>
<p>Dia menjelaskan bahwa punden berundak adalah struktur pemujaan kuno yang dibangun oleh masyarakat tradisi megalitik, masa Neolitikum, sekitar 2500–1500 Sebelum Masehi.</p>
<p>&#8220;Tradisi itu berlangsung lalu berkembang di Indonesia jauh sebelum masuknya pengaruh agama, Hindu, Buddha, Kristen, maupun Islam yang datang belakangan ke Nusantara,&#8221; imbuhnya.</p>
<p>Adapun fungsi utama punden berundak terkait erat dengan kepercayaan lokal, animisme dan dinamisme, yang merupakan <em>local genuine,</em> sistem kepercayaan orang asli Nusantara, bukan agama dalam pengertian sekarang.</p>
<p>&#8220;Fungsi punden berundak digunakan sebagai sarana pemujaan roh nenek moyang. Masyarakat prasejarah percaya bahwa arwah leluhur bersemayam di tempat yang tinggi (gunung atau bukit), sehingga mereka membangun struktur bertingkat sebagai media komunikasi ritualnya,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Ketika agama-agama masuk ke Nusantara, konsep bangunan berundak ini kemudian berasimilasi, untuk selanjutnya berpadu dengan unsur-unsur arsitektur keagamaan baru.</p>
<p>Dia mencontohkan, Budha-Hindu, bahkan Islam sekalipun, dengan candi-candi seperti Candi Borobudur, Prambanan, Masjid Menara Kudus, Masjid Indrapuri Aceh dan lainnya itu memiliki struktur yang menyerupai punden berundak, menunjukkan adanya kesinambungan budaya dari masa prasejarah ke masa sejarah.</p>
<p>&#8220;Dengan demikian, adanya punden berundak beserta stuktur kawasannya, dan unsur lainnya, kompleksitas arsitektur, dan adanya batu relief, adalah bukti fisik adanya sistem kepercayaan dan peradaban yang berkembang di masa lalu, jaman prasejarah di Gunung Subang ini, situs &#8216;Mandala Mata Bumi&#8217; ini ada dan berkembang, jauh sebelum &#8216;agama-agama formal&#8217; datang,&#8221; pungkasnya.</p>
<p>Dia menambahkan, adapun terkait adanya dugaan perkampungan purba yang berkaitan dengan situs megalitik ini belum tereksplorasi secara menyeluruh,</p>
<p>&#8220;Sehingga kawasan warisan budaya purbakala ini harus dipahami sebagai satu kesatuan lanskap budaya yang kompleks dengan layar kebudayaannya yang luas, bukan hanya satu titik atau satu struktur saja,&#8221; imbuhnya.</p>
<p>Diketahui bahwa situs megalitik yang kaya nilai tradisi budaya dan unik, bahkan keutuhannya masih terjaga hingga kini. <a href="https://www.cilacap.info/ci-84504/mandala-mata-bumi-situs-megalitik-yang-tersembunyi-di-balik-manuskrip-belanda">Situs Mandala Mata Bumi berada di puncak pegunungan Subang dengan ketinggian sekitar 1.210 meter di atas permukaan laut, dengan luasan sekitar 150 Ha, berada di kawasan hutan primer wilayah Desa Kuta Agung.</a></p>
<p>Selain situs tertutup oleh vegetasi hutan yang lebat, keberadaannya yang tidak biasa, hampir tidak tersentuh aktivitas manusia selama berabad-abad, demikian akses menuju lokasi pun betapa ekstrem, dan begitu sangat sulit, maka sangat disarankan untuk menggunakan jasa pemandu lokal.</p>
<p>Pemandu lokal tidak hanya memberikan jasa layanan pendampingan atau informasi sejarah, tetapi juga konteks budaya dan adat istiadat setempat yang penting untuk dihormati saat mengunjungi situs sakral ini.  (IHA)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2025/12/26/Mandala-Mata-Bumi-Situs-Megalitik-Unik-Monumental.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1260"
				height="718">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Mandala Mata Bumi; Situs Megalitik Unik Monumental]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2025/12/26/Mandala-Mata-Bumi-Situs-Megalitik-Unik-Monumental-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Mandala Mata Bumi; Situs Megalitik Unik Monumental]]></media:description>
													<media:copyright>Imam Hamidi Antassalam</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
	</channel>
</rss>
