<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Kumpulan Pos Kiai &#8211; Cilacap.info</title>
	<atom:link href="https://www.cilacap.info/tag/kiai/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.cilacap.info</link>
	<description>Media Online Masa Kini, Akurat, Mengedepankan Etika</description>
	<lastBuildDate>Mon, 13 Feb 2023 21:41:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	
<image>
<url>https://img.cilacap.info/images/cilacapinfo.png</url><title>Kumpulan Pos Kiai &#8211; Cilacap.info</title>
<link>https://www.cilacap.info</link>
<width>144</width><height>19</height><description>Media Online Masa Kini, Akurat, Mengedepankan Etika</description>
</image>
	<item>
		<title>Kisah dan Biografi Ulama KH Abdul Hadi Zahid</title>
		<link>https://www.cilacap.info/ci-51566/kisah-dan-biografi-ulama-kh-abdul-hadi-zahid</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Aji Setiawan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Feb 2023 01:42:27 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Biografi Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Kiai]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.cilacap.info/ci-51566/kisah-dan-biografi-ulama-kh-abdul-hadi-zahid</guid>

					<description><![CDATA[ aria-label="Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Pada awalnya, Pondok Pesantren Langitan dibangun di atas tanah ladang di tepi sebelah utara Bengawan Solo.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.cilacap.info" aria-label="Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Pada awalnya, Pondok Pesantren Langitan dibangun di atas tanah ladang di tepi sebelah utara Bengawan Solo.</p>
<p>Karena merupakan daerah yang sering terkena dampak banjir. Lokasi pesantren dipindahkan di sebelah utara Tangkis bagian utara di tepi jalan provinsi yang menghubungkan Tuban dan Babat dengan Surabaya. Pemindahan lokasi dilakukan pada 1904 M.</p>
<p>Tuban sendiri adalah kota di Pantai Utara Jawa Timur yang ramai dan penting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia.</p>
<p>Selain sebagai bandar berpengaruh, juga merupakan pusat pengembangan agama Islam selain di Sedayu, Gresik, Surabaya, dan lainnya. Daerah Widang, letak Pondok Pesantren Langitan berada, adalah daerah yang ramai.</p>
<p>Lokasinya yang dekat dengan Bengawan Solo merupakan jalur lalu lintas perdagangan dan penambangan potensial bagi masyarakat dan para pedagang dari kota-kota besar menuju kota-kota.</p>
<p>Dan tempat perdagangan yang terletak di sepanjang perairan tersebut, baik yang ada di daerah pedalaman maupun yang ada di tepi pantai.</p>
<p>Sejarah nama Pondok Pesantren Langitan memiliki beberapa versi. Namun, satu sama lainnya saling melengkapi.</p>
<p>Pertama, Langitan merupakan perubahan dari kata Ngelangitan, gabungan dari kata Ngelangi (Jawa) yang berarti berenang dan Wetan (Jawa) yang berarti Timur.</p>
<p>Hal ini dikaitkan dengan cerita adanya seseorang yang bermaksud tirakat dengan berenang di Sungai Bengawan Solo dalam tujuh kali putaran dari arah Barat ke Timur.</p>
<p>Pada putaran terakhir ia keluar dari air dan bertemu dengan Syeikh Muhammad Nur. Sejak saat itulah dinamai dengan Pesantren Ngelangitan.</p>
<p>Saat pertama kali berdiri, Pondok Pesantren Langitan hanya sebuah surau kecil di daerah Kabupaten Tuban, Jawa Timur.</p>
<p>Sang pendiri, KH Muhammad Nur, mengajar keluarga dan tetangga dekat untuk meneruskan perjuangan dalam mengusir penjajah dari tanah Jawa. KH Muhammad Nur mengasuh pondok sekitar 18 tahun mulai tahun 1852 hingga 1870.</p>
<p>Ponpes Langitan berpegang teguh pada kaidah &#8220;Al-Muhafadhotu Alal Qodimis Sholih Wal Akhdu Bil Jadidil Ashlah&#8221;. Yakni memelihara budaya-budaya klasik yang baik dan mengambil budaya-budaya yang baru yang konstruktif.</p>
<p>Itu membuat ponpes itu tidak sampai terombang-ambing oleh derasnya arus globalisasi.</p>
<p>Namun justru sebaliknya dapat menempatkan diri dalam posisi yang strategis, dan bahkan kadang-kadang dianggap sebagai alternatif.</p>
<p>Meski berawal dari surau kecil, dalam rentang satu abad Ponpes Langitan menjadi saksi sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.</p>
<p>Pondok ini ternyata pernah menjadi tempat belajar pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.</p>
<p>KH Hasyim Asy’ari, menghabiskan 3 tahun di pondok tersebut pada akhir tahun 1900-an.</p>
<p>Ada pula tokoh-tokoh NU yang pernah belajar di pesantren tersebut. Seperti KH Syamsul Arifin (ayah KH As’ad Syamsul Arifin), KH Shiddiq (ayah KH Ahmad Shiddiq), KH Wahab Hasbullah.</p>
<p>Selepas diasuh KH M Nur Estafeta berlanjut ke KH Abdul Hadi yang lahir di Desa Kauman Kecamatan Kedungpring Kabupaten Lamongan pada tanggal 17 Rabi’ul Awwal 1309 H.</p>
<p>Sejak berusia sebelas tahun beliau sudah mulai belajar di Pondok Pesantren Langitan hingga usia sembilan belas tahun.</p>
<p>Dan atas saran KH. Muhammad Khozin beliau melanjutkan studi di Pesantren Kademangan Bangkalan Madura di bawah asuhan KH. Kholil selama tiga tahun.</p>
<p>Pada usia 13 tahun, beliau belajar di Pesantren Jamsaren Solo asuhan KH. Idris. Setelah itu kembali lagi nyatri di Pondok Pesantren Langitan hingga pada usia 25 tahun, dan diambil menantu oleh KH. Muhammad Khozin, dijodohkan dengan Ning Juwairiyah.</p>
<p>Pada usia yang relatif muda, 30 tahun beliau sudah menerima tugas berat sebagai pengasuh Pondok Pesantren Langitan.</p>
<p>Namun meskipun begitu, di bawah asuhannya Pondok Pesantren Langitan saat itu mengalami peningkatan yang cukup signifikan.</p>
<p>Terbukti mulai periode ini (tahun 1949 M) mulai dikembangkan sistem pengajaran klasikal yang dahulu belum dikenal, dengan cara mendirikan madrasah ibtida’iyah dan madrasah muallimin.</p>
<p>Serta kegiatan ekstra kurikuler seperti bahsul masail lil waqiah, jamiyatul muballighin, jamiyatul qurro wal khuffadz dan lain-lain.</p>
<p>Di samping itu kegiatan rutinitas berupa pengajian kitab baik sistem sorogan maupun weton terus dilestarikan dan dikembangkan.</p>
<p>Terlebih sholat berjamaah, karena beliau adalah seorang ulama yang bertipikal sangat disiplin waktu dan terkenal keistiqomahannya.</p>
<p>Sebagaimana yang diceritakan oleh KH. M. Ihya’ Ulumuddin (seorang alumni ponpes Langitan dan pengasuh Pondok Pesantren Nurul Haromain Malang) bahwa, dia dan para santri yang lain yang bertugas jaga malam.</p>
<p>Ketika mendengar suara kriek dari pintu belakang rumah yang terbuat dari bambu karena KH. Abdul Hadi keluar untuk mengambil air wudlu itu menunjukkan jam yang tepat kira-kira jam 2 malam.</p>
<p>Waktu pun terus bergulir, bergerak menuju suratan taqdir. Mendung duka menyelimuti atmosfir Pondok Pesantren Langitan.</p>
<p>Air mata sebagai kesaksian atas cinta kepada sang guru besar jatuh menetes tak tertahankan.</p>
<p>Hari itu, 9 Shofar 1391 H. atau bertepatan dengan tanggal 5 April 1971 M. kiai panutan umat, pengemban amanat, telah kembali ke haribaan ilahi Rabbi setelah mengasuh Pondok Pesantren Langitan dalam masa yang cukup lama, 50 tahun (1921-1971 M.). Ribuan umat kehilangan tongkat, orang bijak kehilangan hikmat.</p>
<p>Dalam perkembangannya, Ponpes Langitan terus berupaya melakukan perbaikan dan kontekstualitas dalam merekonstruksi bangunan-bangunan sosio kultural, khususnya dalam hal pendidikan dan manajemen.</p>
<p>Usaha-usaha ke arah pembaharuan dan modernisasi memang sebuah konsekuensi dari sebuah dunia yang modern.</p>
<p>Namun Pondok Pesantren Langitan dalam hal ini mempunyai batasan-batasan yang konkret, pembaharuan dan modernisasi tidak boleh merubah atau mereduksi orientasi dan idealisme pesantren.(****)</p>
<p><strong>Artikel ini Merupakan Kiriman dari Penulis aslinya kepada Cilacap.info, Sehingga jika ada Kesamaan Konten diberbagai media merupakan hal wajar, terkait Klaim Konten yang dipublish di sini tidak bisa dijadikan klaim bahwa konten ini berasal dari website Anda.</strong>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2023/02/12/Makam-KH-Abdul-Hadi-Zahid.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Makam KH Abdul Hadi Zahid]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2023/02/12/Makam-KH-Abdul-Hadi-Zahid-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Makam KH Abdul Hadi Zahid]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Kyai Terbagi Menjadi 4 Golongan, Apa Saja?</title>
		<link>https://www.cilacap.info/ci-32857/kyai-terbagi-menjadi-4-golongan-apa-saja</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2020 03:13:12 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Cilacap]]></category>
		<category><![CDATA[Kiai]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.cilacap.info/ci-32857/kyai-terbagi-menjadi-4-golongan-apa-saja</guid>

					<description><![CDATA[ aria-label="Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Ada 4 golongan Kyai yang harus dipahami dan pentingnya rasa saling menghormati antara disiplin ilmu satu dengan yang lain. Ada Kyai Sumur, Kyai Tutur, Kyai Sembur dan Kyai Catur.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.cilacap.info" aria-label="Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Ada 4 golongan Kyai yang harus dipahami dan pentingnya rasa saling menghormati antara disiplin ilmu satu dengan yang lain. Ada Kyai Sumur, Kyai Tutur, Kyai Sembur dan Kyai Catur.</p>
<p>Pertama Kyai Sumur, merupakan Kyai yang memiliki Pondok Pesantren, Majlis ta&#8217;lim, guru ngaji di Mesjid dan Langgar. di identikan dengan sumur karena sumber dari ilmu Religi yang didatangi untuk selalu ditimba oleh santri dan murid ngaji.</p>
<p>Kehadiran Kyai Sumur menjadi sangat penting sebagai tempat mengaji dan menanyakan segala problematika yang ada di sekitar kita.</p>
<p>Kedua Kyai Tutur, merupakan Kyai yang memiliki kemahiran dan keahlian berceramah keagamaan. Biasanya dijuluki Singa Podium. Kata-katanya bisa menjadi maghnet dan menjadi embun penyejuk bagi jama&#8217;ah yang mengikuti kajiannya.</p>
<p>Kehadiran Kyai Tutur hari ini semakin kuat eksistensinya dengan kehadiran aplikasi Youtube. Sehingga memungkinkan kita mengaji lewat jaringan internet.</p>
<p>Ketiga Kyai Sembur, merupakan Kyai yang memiliki kemampuan Hikmah yang mendalam. Diwujudkan dalam kemampuannya menyelesaikan persoalan-persoalan dalam masyarakat yang bersifat ghoib. </p>
<p>Misal penyakit yang tak kunjung sembuh secara medis, kerasukan jin dan penangkal santet dan ilmu hitam lainnya. Eksistensi dari Kyai ini juga sangat penting harus selalu ada. Supaya masyarakat tidak lari ke dukun yang tak jelas aliran ilmunya dan mengarah pada kesesatan.</p>
<p>Dan yang terakhir, Kyai Catur. Seperti namanya Kyai Catur, identik dengan permainan Catur yang berarti dunia organisasi dan politik. Kyai Catur merupakan sosok Kyai yang memiliki pengalaman organisatoris dan politis.</p>
<p>Karena, tidak semua Kyai dan Santri mendalami perihal ini. Maka, di tengah &#8211; tengah kehidupan sosial. Seperti lahirnya UU yang berpihak pada kaum Santri dan Agamis, harus diperjuangkan melalui jalur parlemen, yaitu jalur politis.</p>
<p>Ketika ada istilah, Kyai tidak usah berpolitik itu tidak sepenuhnya salah. Karena memang tidak semua Kyai ahli dalam hal siyasah. Maka, serahkan kemampuan ini pada Kyai yang memahami kultur dan budaya organisatoris dan politis, yaitu Kyai Catur. </p>
<p>Dalam rangka hari santri ini, penulis memandang pentingnya rasa handarbeni dan saling memahami juga menghormati keahlian masing-masing. Bahwa tidak semua Kyai berada dalam satu kategori tertentu. Begitu juga para santri, belajarlah dan ngajilah sesuai cita-cita untuk menjadi mahir dalam spesialisasi tertentu.</p>
<p>Priyo Anggoro,
Alumni Ponpes Al Ihya Ulumaddin</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/IMG-20201021-WA0014.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1080"
				height="1080">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Kyai Terbagi Menjadi 4 Golongan, Apa Saja?]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/IMG-20201021-WA0014-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Kyai Terbagi Menjadi 4 Golongan, Apa Saja?]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
	</channel>
</rss>
