<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Kumpulan Pos Covid-19 &#8211; Cilacap.info</title>
	<atom:link href="https://www.cilacap.info/tag/covid-19/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.cilacap.info</link>
	<description>Media Online Masa Kini, Akurat, Mengedepankan Etika</description>
	<lastBuildDate>Mon, 04 Sep 2023 15:27:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	
<image>
<url>https://img.cilacap.info/images/cilacapinfo.png</url><title>Kumpulan Pos Covid-19 &#8211; Cilacap.info</title>
<link>https://www.cilacap.info</link>
<width>144</width><height>19</height><description>Media Online Masa Kini, Akurat, Mengedepankan Etika</description>
</image>
	<item>
		<title>Covid-19 itu Nyata</title>
		<link>https://www.cilacap.info/ci-32458/covid-19-itu-nyata</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 28 Sep 2020 13:38:29 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Covid-19]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.cilacap.info/ci-32458/covid-19-itu-nyata</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Ustadz Ahmad Atho]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Ustadz Ahmad Atho</p>
<p>Karena banyak sahabat yang bertanya dan meminta saya menceritakan pengalaman saya bergelut dengan virus corona covid-19, maka saya tuliskan di sini, semoga bisa menjadi pelajaran bagi pembaca.</p>
<p>-•×•-</p>
<p>Sebenarnya sudah sejak awal bulan Agustus lalu saya sakit, tepatnya sejak tanggal 3 Agustus. Pada awalnya saya pikir hanya sakit karena kecapekan saja, capek setelah ngurus penyembelihan kurban. Tanggal 5 Agustus, ketika Abah mertua membawa saya ke mantri langganannya pun Pak Mantri mengatakan hal yang sama, sakit saya karena kecapekan saja, karena keluhan saya saat itu memang hanya demam dan pegal di seluruh badan. </p>
<p>Beberapa hari setelah dari mantri ternyata sakit saya tidak kunjung mereda, Bahkan saya merasa nafas saya sedikit berat. Maka tanggal 10 Agustus, saya periksa ke Puskesmas, saya minta tes darah juga di Puskesmas itu. Hasil tes lab menyatakan saya sakit tyfus, kata dokter. Saya diberi obat jalan, tidak perlu opname karena tyfus saya tidak parah, katanya.</p>
<p>Beberapa hari setelah periksa itu ternyata lagi² tidak ada perbaikan kondisi saya, Bahkan saya merasa bertambah parah, karena nafas saya semakin sesak, bertambah hari bertambah sesak, nafas pendek² dan cepat, nafas memburu. Saya membaca Al Fatihah saja tidak mampu washal, setiap ayat harus waqaf, nafas saya tidak kuat. Badan pun semakin lemah, berjalan baru sekitar lima langkah pun sudah harus berhenti, duduk istirahat, karena tidak kuat, mungkin efek nafas yang semakin sesak itu. </p>
<p>Malam Jum&#8217;at tanggal 13 Agustus, saya bilang ke keluarga bahwa saya harus opname di RS, agar ditangani dokter. Sebagian anggota keluarga ada yang keberatan, khawatir saya divonis Corona, tapi saya tidak peduli, mau divonis Corona atau penyakit apapun yang jelas kondisi saya butuh penanganan dokter, saya memaksa, maka malam itu juga, setelah shalat Isya&#8217;, saya dibawa ke sebuah RSI di Kota Malang. Masuk IGD RSI saya langsung di ambil darah untuk rapid test dan difoto Thorax. Kata dokter, sekitar 3 jam kemudian setelah hasilnya keluar, rapid saya ternyata nonreaktif, tapi hasil foto Thorax menyatakan saya sakit pneumonia/ radang paru2.
&#8220;Pneumonia bisa disebabkan bakteri atau virus, Pak. Karena sekarang masa pandemi seperti ini maka besar kemungkinan ini karena virus. Jika bapak opname maka harus opname di ruang isolasi&#8221;, kata dokternya.
&#8220;Boleh ditunggu, Dok?&#8221;, tanya istri saya.
&#8220;Tidak boleh, Bu.&#8221;
Mendengar jawaban itu, seketika istri saya mulai menangis, tidak mau dan tidak tega kalo kondisi saya yang selemah itu harus dirawat tanpa ditunggui. Bagaimana nanti kalo saya butuh ke kamar kecil, butuh makan atau minum, siapa yang akan membantu saya, pikirnya.
&#8220;Kita ke RS lain saja, mungkin hasilnya beda atau ada keringanan boleh ditunggu&#8221;, minta istri saya ke kakak ipar.</p>
<p>Malam itu juga, sekitar jam satu malam, kami pindah rumah sakit, ke sebuah RSU di kota Malang. di RSU ini pun sama, saya di rapid test dan foto Thorax lagi, juga ditest dengan oxymeter, untuk mengetahui saturasi oksigen dalam tubuh saya, yang ternyata memang di bawah normal, saturasi oksigen yang seharusnya 95-100% tapi oxymeter menunjukkan saturasi saya kurang dari 90%.
Jam 2.30 pagi hasil rapid tes dan foto Thorax sudah keluar. Hasilnya? Sama dengan RS sebelumnya, radang paru-paru, Bahkan kali ini rapid test saya pun reaktif, meski hanya berselang sekitar 5 jam dari rapid test pertama. Artinya memang saya harus dirawat di gedung/ ruang isolasi, karena indikasi semakin kuat bahwa saya terinfeksi virus.
&#8220;Boleh ditunggu, Dok?&#8221;, pertanyaan yang sama dari istri saya.
&#8220;Boleh, tapi penunggu akan diperlakukan sama seperti pasien, tidak boleh ke luar dari tempat isolasi, tidak boleh dijenguk, dan nanti pulang juga harus isolasi mandiri, 14 hari.&#8221;
&#8220;Ngga apa², Dok&#8221;, jawab istri saya tampak lega.</p>
<p>Sebenarnya saya tidak tega kalo istri saya harus menunggu saya di ruang isolasi, 24 jam sehari berkumpul satu ruangan dengan pasien positif covid-19, tapi semakin saya cegah ia semakin keras menangis, Bahkan sampai saya ikut menangis memohonnya agar di rumah saja, karena saya juga mengkhawatirkan janin yang dikandungnya, khawatir kondisinya jadi melemah sehingga mudah tertular. Namun usaha saya mencegahnya tidak berhasil, istri saya mengambil surat pernyataan kesanggupan menunggu saya di ruang isolasi, entah apa isinya saya tidak ditunjukkannya.
Saya pun pasrah, hanya bisa berdo&#8217;a dan tawakkal pada Allah ta&#8217;ala.
اللهم إني أستحفظك وأستودعك زوجتي والجنين الذي تحمله..
Saya baca do&#8217;a itu berkali-kali dengan semantap-mantapnya, sekhusyu&#8217;-khusyu&#8217;nya, saya benar² pasrah. Saya berharap sebagaimana harapan seorang suami dalam kisah yang pernah saya tulis beberapa hari sebelum saya sakit ini, ()</p>
<p>Pagi itu, Jum&#8217;at 14 Agustus, saya langsung dibawa ke gedung isolasi, diangkut dengan mobil ambulance, karena gedung isolasi terpisah dari RS, sekitar 100-200 meter.
Hari pertama itu saya langsung dipasang infus, diberi obat tablet dan kapsul entah apa saja, dan disuntikkan 3 obat cair ke tubuh saya lewat selang infus, yang rasa sakitnya minta ampun itu. Pengobatan seperti itu dilakukan tiga kali sehari, artinya tiga kali dalam sehari pula saya harus menahan sakitnya suntikan cairan lewat selang infus di tangan kiri saya. Setelah 3 atau 4 hari tangan saya tidak kuat lagi menahan sakitnya, tangan saya sudah bengkak, saya minta jarum infus dipindah ke tangan kanan saja. Rasanya benar2 bikin saya kapok, Bahkan sakit di tangan itu hingga dua minggu belum juga hilang.</p>
<p>Alhamdulillah hari demi hari selama di ruang isolasi kondisi saya semakin membaik, tensi darah semakin stabil normal, demam sudah turun, dan saturasi oksigen saya juga sudah dalam angka normal, akhirnya di hari ke lima atau ke enam infus saya pun dilepas, obat minum juga dikurangi. Tapi meski sudah dinyatakan sehat pada hari ke lima, saya belum boleh pulang, harus menunggu hasil swab, yang katanya baru ke luar setelah 10 hari sejak pengambilan sampel.</p>
<p>Kog lama sekali hingga 10 hari?, Iya, sebenarnya pada bulan² sebelumnya hasil swab bisa diketahui hanya dalam waktu sehari atau dua hari, tapi semakin hari semakin lama seiring dengan semakin banyaknya sampel yang harus diteliti di laboratorium, harus antri.
Karena saya terhitung pasien dari Kabupaten Malang, bukan Kota Malang, maka sampel saya dikirim ke laboratorium di Tulungagung, bukan di Malang sendiri. Mungkin itu yang menyebabkan antrian semakin lama, karena tentunya tidak hanya sampel yang dikirim dari Kabupaten Malang saja yang harus diteliti di laboratorium itu.
Di sini saya berfikir tentang ramai isu &#8220;dicoronakan oleh dokter&#8221; yang membuat banyak masyarakat takut untuk memeriksakan diri ke rumah sakit itu. Tiap ada yang berkata pada saya &#8220;Jangan² sampean dicoronakan?&#8221;, saya katakan &#8220;Tidak mungkin, saya percaya pada dokter&#8221;.
Kenapa?, karena vonis positif atau negatif Corona bukan ditangan dokter, tapi ditangan peneliti yang ada di laboratorium Tulungagung sana, dokter di RS hanya mengabarkan hasil lab di sana saja. Jadi sangat aneh menurut saya ada istilah &#8220;dicoronakan dokter&#8221;, setidaknya pada kasus saya.</p>
<p>Hari yang dinanti pun tiba. Setelah sepuluh hari dikarantina, tanggal 24 Agustus, hasil swab keluar. Dua kali swab menunjukkan saya positif covid-19. Mendengar kabar positif covid-19 itu sebenarnya saya sama sekali tidak merasa kaget ataupun terpukul, mungkin karena saya sudah menduga akan demikian hasilnya, mengingat gejala² yang saya rasakan sebelumnya. Saya kuat tapi ternyata istri saya yang tidak kuat menahan tangisnya, mendengar vonis positif covid-19 itu istri saya menangis, khawatir akan kondisi dan keselamatan saya. Namun dokter dan para perawat yang baik dan selalu ramah sejak awal isolasi saya itu lalu memberi penjelasan ke istri saya, mensupport dan menguatkan kami, sehingga saya pun semakin optimis segera sembuh dan sehat kembali, dan istri saya pun tidak begitu takut dan khawatir lagi.</p>
<p>Dari sini saya belajar bahwa dukungan moril dan support orang sekitar itu sangat penting untuk pasien penderita penyakit ini, pastinya juga penderita penyakit lainnya.
Karena ternyata masih banyak masyarakat kita yang menganggap penyakit Corona ini adalah aib, sehingga jangankan mensupport atau menguatkan mental penderita, yang ada justru mereka menstigma negatif, &#8216;ngerasani&#8217; Bahkan mengucilkan para penderita itu.
Dan hal ini juga yang terjadi pada kami. Saat saya selesai masa karantina di RS dan diantar pulang dengan ambulance, sontak geger lah para &#8216;Bu Tejo&#8217; di grup² WA warga. Hingga salah satu keluarga saya yang masuk salah satu grup itu langsung telfon ke Ibu saya sambil nangis, tidak tahan dengan &#8216;rasan²&#8217; anggota grup lainnya, kog tega tetangga² itu &#8216;rasan²&#8217; hingga mengada-ada cerita.
Stigma negatif itu pula yang membuat banyak orang enggan memeriksakan diri ke dokter meski ia merasakan gejala² penyakit ini. Akhirnya mereka yang bergejala namun lebih memilih selamat dari omongan tetangga daripada menyelamatkan kesehatannya ini yang justru semakin membuat virus itu menyebar luas tidak terdeteksi. </p>
<p>Khawatir Ibu saya sakit karena memikirkan berita² &#8216;kecangkeman&#8217; itu, saya pun langsung menulis klarifikasi kondisi saya dan memberi pengertian tentang penyakit yang saya derita, di antara yang saya sampaikan adalah bahwa penyakit ini bukan aib, jadi tidak perlu dipergunjingkan. Saya kirimkan tulisan itu ke grup pemuda kampung dan saya minta bantuan untuk disebar ke grup² jama&#8217;ah rasan² di WA, Alhamdulillah langsung reda omongan² miring itu hingga akhirnya banyak yang japri langsung ke saya. </p>
<p>Banyak yang tanya ke saya, dari mana saya tertular? Cluster mana/ apa?, saya katakan saya tidak tau, karena aktivitas² saya memang potensial tertular virus ini. Setiap hari kecuali hari Jum&#8217;at sejak pagi hingga sebelum zhuhur saya buka toko di pasar, habis zhuhur hingga Maghrib saya ngaji bareng anak2, dan dua atau tiga kali dalam seminggu saya belanja stok toko ke pasar besar, sedangkan daerah saya, apalagi di pasar, terlebih Pasar Besar Malang, termasuk zona merah.</p>
<p>Lalu kenapa baru sekarang?, Wa Allah A&#8217;lam, secara logika mungkin saya sebenarnya sudah terpapar virus ini sejak beberapa bulan lalu, tapi berhubung kondisi tubuh saya selalu vit maka virus tidak ngefek, virus ini in-aktif. Sedangkan kemarin itu saya sedang drop, setelah kecapekan ngurus kurban, maka virus ini pun menjadi aktif menginfeksi tubuh saya, terbukti sesak nafas itu saya rasakan baru beberapa hari setelah saya sakit demam dan kecapekan itu.
Jadi, menurut saya yang paling penting kita lakukan dalam menghadapi &#8216;pagebluk&#8217; ini adalah dengan menjaga vitalitas tubuh kita dan memperkuat imunitasnya, perkuat antibodi kita. Rutin olahraga, istirahat teratur, berjemur pagi hari, jangan makan/minum sembarangan, dan kalo perlu minum madu atau suplemen lainnya. Dan juga yang tidak kalah penting adalah selalu berdo&#8217;a dan tawakkal dengan sungguh².</p>
<p>Dua hal terakhir ini setidaknya benar² saya rasakan dan saksikan keampuhannya. Yaitu apa yang terjadi pada istri saya. 24 jam dalam sehari selama sepuluh hari di tempat isolasi selalu berinteraksi dengan pasien positif covid-19 tapi Alhamdulillah istri saya aman. Bahkan, ketika masih di rumah sering sekali perutnya mual² hingga muntah, tapi selama dikarantina sama sekali tidak merasakan keduanya, tidak pernah mual apalagi muntah. Dan anehnya, begitu kami pulang dari karantina, baru masuk rumah beberapa menit istri saya langsung mual² lagi. Bi idznillah hingga sekarang istri saya sehat, dan semoga sehat terus. Dan semoga kita beserta keluarga kita dihindarkan dan diselamatkan dari penyakit ini, semoga Allah ta&#8217;ala memberi taufiq dan kekuatan kepada pemerintah dan tenaga medis untuk menangani wabah ini dengan baik dan secepatnya.</p>
<p>AHMAD ATHO&#8217;ILLAH
Penyintas Covid-19</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/119940480_1815540745266276_5356102479008082499_n.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="720"
				height="536">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[119940480 1815540745266276 5356102479008082499 n]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/119940480_1815540745266276_5356102479008082499_n-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[119940480 1815540745266276 5356102479008082499 n]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Penolak Pemakaman Jenazah Covid-19 di Banyumas, Divonis 3 Bulan 15 Hari</title>
		<link>https://www.cilacap.info/ci-29804/penolak-pemakaman-jenazah-covid-19-di-banyumas-divonis-3-bulan-15-hari</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Aug 2020 09:00:28 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Banyumas]]></category>
		<category><![CDATA[Covid-19]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.cilacap.info/ci-29804/penolak-pemakaman-jenazah-covid-19-di-banyumas-divonis-3-bulan-15-hari</guid>

					<description><![CDATA[BANYUMAS,  aria-label="Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Majelis Hakim Pengadilan Negeri Banyumas menjatuhkan vonis 3 bulan 15 hari dan denda Rp500 ribu kepada salah seorang terdakwa kasus penolakan pemakaman jenazah pasien terkonfirmasi positif COVID-19 di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>BANYUMAS, <a href="https://www.cilacap.info" aria-label="Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Majelis Hakim Pengadilan Negeri Banyumas menjatuhkan vonis 3 bulan 15 hari dan denda Rp500 ribu kepada salah seorang terdakwa kasus penolakan pemakaman jenazah pasien terkonfirmasi positif COVID-19 di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.</p>
<p>Sidang dengan agenda pembacaan putusan yang dipimpin Hakim Ketua Ardhianti Prihastuti serta Hakim Anggota Randi Jastian Afandi dan Suryo Negoro di Ruang Sidang I PN Banyumas, Kamis, digelar secara daring melalui konferensi video.</p>
<p>Dalam hal ini, terdakwa atas nama Khudlori mengikuti sidang dari Ruang Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Kota Banyumas di Purwokerto, Jaksa Penuntut Umum Dimas Sigit Tanugraha di Kejaksaan Negeri Banyumas, dan penasihat hukum terdakwa, yakni Sarjono di PN Banyumas.</p>
<p>Saat membacakan putusan, Hakim Ketua Ardhianti Prihastuti menyatakan bahwa terdakwa Khudlori telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana menghalangi pelaksanaan penanggulangan wabah sebagaimana diatur dalam undang-undang.</p>
<p>Terdakwa dinyatakan melakukan tindak pidana sebagaimana ketentuan Pasal 14 Ayat 1 Undang-Undang RI Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Menular seperti yang tercantum dalam dakwaan ketiga.</p>
<p>&#8220;Menjatuhkan pidana kepada terdakwa dengan pidana 3 bulan 15 hari dan denda Rp500 ribu, dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar, diganti dengan pidana kurungan selama 1 bulan,&#8221; katanya.Menurut dia, Majelis Hakim juga menetapkan pidana yang dijatuhkan tersebut dikurangi dengan masa tahanan yang telah dijalani terdakwa.</p>
<p>Setelah membacakan putusan, Hakim Ketua Ardhianti Prihastuti mempersilakan terdakwa Khudlori untuk menyampaikan menerima, menolak, atau pikir-pikir atas putusan tersebut.</p>
<p>Terkait dengan putusan tersebut, penasihat hukum terdakwa, Sarjono menyatakan pikir-pikir. &#8220;Kami akan pikir-pikir dalam waktu tujuh hari,&#8221; katanya.</p>
<p>Sementara Jaksa Penuntut Umum Dimas Sigit Tanugraha juga menyatakan pikir-pikir atas putusan tersebut.</p>
<p>Saat ditemui wartawan usai sidang, penasihat hukum terdakwa, Sarjono menilai putusan tersebut cukup baik jika dilihat dari sisi kemanusiaan karena lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum, yakni pidana penjara selama 7 bulan.</p>
<p>&#8220;Dari sisi hukum, kami punya waktu tujuh hari untuk pikir-pikir, apakah nanti akan mengadakan upaya hukum lagi, apakah menerima. Kami perlu koordinasi lagi dengan terdakwa yang sekarang di tempat lain, yaitu di Polresta Banyumas,&#8221; katanya.</p>
<p>Ia mengatakan dakwaan ketiga yang menurut Majelis Hakim terbukti, bagi penasihat hukum tidaklah terbukti, contohnya berdasarkan keterangan saksi, jarak pemakaman dengan balai desa sejauh 100 meter.</p>
<p>&#8220;Jarak itu (sebenarnya) diukur sekitar 20-30 meter. Kenapa terdakwa mengajukan keberatan, karena terlalu dekat dengan permukiman penduduk,&#8221; katanya.</p>
<p>Seperti diwartakan, kasus penolakan pemakaman jenazah pasien positif COVID-19 tersebut terjadi pada Selasa (31/3) sore, di Desa Kedungwringin, dan selanjutnya dipindahkan ke Desa Tumiyang, Kecamatan Pekuncen pada malam harinya.</p>
<p>Tetapi jenazah yang baru dimakamkam di Desa Tumiyang pada Selasa (31/3) malam, akhirnya dibongkar kembali pada Rabu (1/4), karena ada penolakan dari warga setempat dan desa tetangga, yakni Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok.</p>
<p>Pembongkaran makam tersebut dipimpin langsung oleh Bupati Banyumas Achmad Husein dan selanjutnya dimakamkan ke desa lainnya.</p>
<p>Polresta Banyumas memecah kasus penolakan pemakaman jenazah pasien positif COVID-19 itu dalam dua TKP, karena Desa Kedungwringin, Kecamatan Patikraja masuk wilayah Kejaksaan Negeri Banyumas dan Pengadilan Negeri Banyumas, sedangkan Desa Tumiyang, Kecamatan Pekuncen masuk wilayah Kejari Purwokerto dan PN Purwokerto.</p>
<p>Dalam hal ini, sebanyak empat tersangka dilimpahkan Polresta Banyumas ke Kejari Banyumas, tiga orang di antaranya telah di sidangkan di PN Banyumas (termasuk yang telah divonis) dengan tiga berkas perkara berbeda dan satu orang masih pemberkasan.</p>
<p>Sementara tiga tersangka lainnya telah dilimpahkan ke Kejari Purwokerto dan saat ini masih dalam proses persidangan di PN Purwokerto.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[cilacap info featured]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[cilacap info featured]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Di Indonesia Sudah ada 3.512 Kasus Positif Corona</title>
		<link>https://www.cilacap.info/ci-25039/di-indonesia-sudah-ada-3-512-kasus-positif-corona</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 10 Apr 2020 12:34:15 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.cilacap.info/ci-25039/di-indonesia-sudah-ada-3-512-kasus-positif-corona</guid>

					<description><![CDATA[JAKARTA,  aria-label="Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Pemerintah Indonesia melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 mencatat bahwa virus Corona telah menginfeksi manusia di 34 Provinsi di Indonesia. Hal itu diketahui setelah Gorontalo mencatat satu kasus terbarunya sehingga total kasus positif di Indonesia sebanyak 3.512 pada Jumat (10/4).]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>JAKARTA, <a href="https://www.cilacap.info" aria-label="Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Pemerintah Indonesia melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 mencatat bahwa virus Corona telah menginfeksi manusia di 34 Provinsi di Indonesia. Hal itu diketahui setelah Gorontalo mencatat satu kasus terbarunya sehingga total kasus positif di Indonesia sebanyak 3.512 pada Jumat (10/4).</p>
<p>Sementara itu ada penambahan pasien sembuh hingga total menjadi 282 dan sebanyak 306 orang meninggal dunia akibat COVID-19. &#8220;Ada penambahan kasus positif sebanyak 219 kasus baru sehingga total 3.512 kasus, sementara yang sembuh bertambah 30 pasien dan angka kematian naik 26 kasus.&#8221; Kata Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Achmad Yurianto dalam konferensi pers Jumat (10/4).</p>
<p>Pada Kamis (9/4) tercatat 3.293 kasus positif COVID-19 dengan 252 pasien sembuh dan 280 pasien lainnya meninggal dunia. Berdasarkan data yang dihimpun Kementerian Kesehatan, Provinsi Gorontalo mencatatkan satu kasus pertama. Sehingga seluruh 34 wilayah provinsi di Indonesia tercatat telah terjangkit virus tersebut.</p>
<p>Dalam hal ini, Provinsi DKI Jakarta masih menjadi episentrum wabah di Indonesia dengan catatan kasus sekitar 50 persen dari jumlah nasional. Yakni sebanyak 1.753 kasus infeksi dan 154 kasus kematian.</p>
<p>Dalam kurun waktu 24 jam, dilaporkan sebanyak 47 orang terinfeksi dan 12 pasien meninggal dunia di Jakarta. Mengingat angkanya per hari kemarin masing-masing 1.706 kasus positif COVID-19 dan 142 kasus kematian.</p>
<p>Dari data Kemenkes juga terlihat bahwa penambahan kasus terbanyak selanjutnya terjadi di Jawa Timur dengan 33 kasus baru dan Sulawesi Selatan dengan 29 kasus baru. Kemudian di Banten dan Jawa Barat dengan penambahan masing-masing sebanyak 25 dan 12 kasus baru.</p>
<p>Adapun rincian total kasus positif COVID-19 di Indonesia yaitu Aceh lima kasus, Bali 75 kasus, Banten 243 kasus, Bangka Belitung tiga kasus, DI Yogyakarta 41 kasus, DKI Jakarta 1.753 kasus, Jambi dua kasus.</p>
<p>Jawa Barat 388 kasus, Jawa Tengah 144 kasus, Jawa Timur 256 kasus, Kalimantan Barat 10 kasus, Kalimantan Timur 35 kasus, Kalimantan Tengah 24 kasus, Kalimantan Selatan 29 kasus, Kalimantan Utara 16 kasus.</p>
<p>Kemudian di Kepulauan Riau 21 kasus, NTB 25 kasus, Sumatera Selatan 21 kasus, Sumatera Barat 31 kasus, Sulawesi Utara 13 kasus, Sulawesi Tenggara 15 kasus, Sulawesi Selatan 167 kasus, Sulawesi Tengah 14 kasus dan Sumatera Utara 59 kasus.</p>
<p>Selanjutnya di Lampung 20 kasus, Riau 13 kasus, Maluku Utara dua kasus, Maluku tiga kasus, Papua Barat dua kasus, Papua 38, Sulawesi Barat tiga kasus, NTT satu kasus serta Gorontalo satu kasus.</p>
<p>Agus Wibowo
Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB</p>
<p style="text-align: right!">Sumber: Covid19.go.id</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[cilacap info featured]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[cilacap info featured]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Tak Hanya Manusia, Harimau Malaya di New York juga Kena Corona</title>
		<link>https://www.cilacap.info/ci-24942/tak-hanya-manusia-harimau-malaya-di-new-york-juga-kena-corona</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Apr 2020 15:39:24 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Amerika Serikat]]></category>
		<category><![CDATA[Bronx Zoo]]></category>
		<category><![CDATA[Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia Binatang]]></category>
		<category><![CDATA[Harimau]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.cilacap.info/ci-24942/tak-hanya-manusia-harimau-malaya-di-new-york-juga-kena-corona</guid>

					<description><![CDATA[WASHINGTON,  aria-label="Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Nadia nama harimau di sebuah kebun binatang (Zoo) Bronx di New York Amerika Serikat dikabarkan positif terjangkit Coronavirus. The Malayan Tigris itu dinyatakan positif oleh departemen Pertanian Amerika Serikat (AS) pada Minggu (5/4).]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>WASHINGTON, <a href="https://www.cilacap.info" aria-label="Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Nadia nama harimau di sebuah kebun binatang (Zoo) Bronx di New York Amerika Serikat dikabarkan positif terjangkit Coronavirus. The Malayan Tigris itu dinyatakan positif oleh departemen Pertanian Amerika Serikat (AS) pada Minggu (5/4).</p>
<p>Harimau Melayu yang positif Covid-19 itu adalah yang pertama kalinya dikebun binatang itu dan sekaligus yang pertama kalinya di dunia dalam ras kucing besar.</p>
<p>Kepala Dokter Spesialis Hewan di kebun binatang Bronx, Calle mengatakan. Dampak dari terjangkitnya harimau ras melayu itu, sementara ini kebun bintang tersebut telah ditututup.</p>
<p>&#8220;Kebun binatang ini telah ditutup, 1 harimau dinyatakan positif terinfeksi covid-19 dengan 6 harimau lainnya mengalami gejala corona.&#8221; Katanya.</p>
<p>Dilansir National Geographic, bahwa Harimau bernama Nadia itu sempat mengalami batuk kering pada akhir Maret, harimau Malaysia berusia empat tahun itu kemudian dites virusnya pada 2 April.</p>
<p>Sedangkan Harimau lainnya yakni, dua harimau Siberia, dan tiga singa Afrika juga menderita batuk dan kehilangan nafsu makan, meskipun mereka belum diuji. &#8220;Kebun binatang ini memiliki tujuh kucing yang dalam perawatan oleh dokter hewan dan kami mengharapkan agar mereka pulih.&#8221; Ungkap Calle.</p>
<p>Calle menyampaikan, berdasarkan dari Wildlife Conservation Society, Kebun Binatang Bronx, bahwa dalam siaran pers rilis. Mereka juga tidak mengetahui bagaimana penyakit corona dapat berkembang pada hewan seperti yang terjadi pada ras kucing besar harimau melayu.</p>
<p>&#8220;Mengingat apa yang terjadi di New York City, kami tentu saja melakukan pengujian COVID pada sejumlah hewan. Ketika Nadia dites dengan mengambil menjinakannya terlebih dahulu dan kemudian mengambil sampel darahnya. ternyata ketika diuji di lab, dia menunjukkan gejala positif Covid-19.&#8221; Katanya.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[cilacap info featured]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[cilacap info featured]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Facebook Investasikan $100 Juta untuk Mendukung Industri Berita Selama Krisis Coronavirus</title>
		<link>https://www.cilacap.info/ci-24733/facebook-investasikan-100-juta-untuk-mendukung-industri-berita-selama-krisis-coronavirus</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 31 Mar 2020 11:36:29 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[Facebook]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.cilacap.info/ci-24733/facebook-investasikan-100-juta-untuk-mendukung-industri-berita-selama-krisis-coronavirus</guid>

					<description><![CDATA[WASHINGTON,  aria-label="Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Industri berita bekerja dalam kondisi luar biasa untuk membuat orang mendapat informasi selama pandemi COVID-19. Pada saat jurnalisme dibutuhkan lebih dari sebelumnya, pendapatan iklan menurun karena dampak ekonomi virus.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>WASHINGTON, <a href="https://www.cilacap.info" aria-label="Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Industri berita bekerja dalam kondisi luar biasa untuk membuat orang mendapat informasi selama pandemi COVID-19. Pada saat jurnalisme dibutuhkan lebih dari sebelumnya, pendapatan iklan menurun karena dampak ekonomi virus.</p>
<p>Wartawan lokal sangat terpukul, Bahkan ketika orang-orang meminta informasi kritis untuk menjaga teman, keluarga, dan komunitas mereka tetap aman.</p>
<p>Hari ini kami mengumumkan investasi tambahan $ 100 juta untuk mendukung industri berita &#8211; $ 25 juta dalam dana hibah darurat untuk berita lokal melalui Proyek Jurnalisme Facebook, dan $ 75 juta dalam pengeluaran pemasaran tambahan untuk memindahkan uang ke organisasi-organisasi berita di seluruh dunia.</p>
<p>Melalui program hibah COVID-19 Community Network, pendanaan langsung membantu jurnalis meliput berita-berita penting ketika kita semua sangat membutuhkannya. Kami sedang membangun pekerjaan ini dan akan mengarahkan sebagian dana ini ke penerbit yang paling membutuhkan di negara-negara yang paling terpukul.</p>
<p>Putaran pertama dari hibah ini pergi ke 50 ruang redaksi lokal di AS dan Kanada. Berikut adalah beberapa contoh bagaimana mereka menggunakan dana tersebut untuk mendukung liputan berita COVID-19 mereka:</p>
<p>&#8211; The Post and Courier, Carolina Selatan
Merobohkan paywall-nya untuk riwayat coronavirus. Ini akan menggunakan hibah untuk menutup biaya perjalanan dan kemampuan kerja jarak jauh untuk memperluas cakupan ke bagian-bagian pedesaan negara bagian yang terpencil.</p>
<p>&#8211; Missourian Tenggara, Missouri Menerbitkan buletin email yang menyoroti jangkauan coronavirus. Surat kabar itu akan menggunakan dana bantuannya untuk mendukung teknologi pekerjaan jarak jauh dan tentang rencana darurat untuk menjangkau pembaca yang berusia lanjut jika distribusi cetak terganggu.</p>
<p>&#8211; El Paso Matters, Texas Organisasi berita online lokal baru diluncurkan awal tahun ini oleh mantan editor El Paso Times, Bob Moore. Tim akan menggunakan hibah mereka untuk mempekerjakan wartawan lepas dan penerjemah untuk memperluas cakupan virus corona di El Paso dan melintasi perbatasan di Ciudad Juarez, Meksiko.</p>
<p>&#8220;Uang ini tidak hanya akan membantu jurnalis membuat laporan saat ini di tengah krisis, dana juga akan mendorong peluang bagi media lokal untuk mempercepat transformasi bisnis menuju pijakan digital yang lebih berkelanjutan,&#8221; kata Nancy Lane, CEO dari Asosiasi Media Lokal.</p>
<p>&#8220;Organisasi berita lokal, terutama organisasi berita hiper-lokal termasuk mereka yang melayani komunitas kulit hitam dan masyarakat kurang terlayani lainnya, telah mengalami tantangan dengan keberlanjutan dan distribusi berita dan informasi di lingkungan media saat ini. COVID-19 telah memperburuk krisis yang sudah ada dan pekerjaan kami baru saja menjadi lebih keras. Dengan infus yang cukup besar dari Facebook, organisasi berita lokal di seluruh negeri akan mendapat manfaat seperti halnya pembaca, pemirsa, dan pendengar kami,&#8221; kata Janis Ware, penerbit The Atlanta Voice.</p>
<p>Komitmen ini dibangun di atas $ 300 juta yang telah kami komit untuk melayani jurnalis di seluruh dunia melalui program dan kemitraan berita yang beragam dan inklusif, termasuk Laporan untuk Amerika, Pusat Pulitzer, Proyek Berita Komunitas dan program pelatihan Akselerator Berita Lokal Proyek Jurnalisme Facebook.</p>
<p>Jika orang membutuhkan lebih banyak bukti bahwa jurnalisme lokal adalah layanan publik yang vital, mereka mendapatkannya sekarang. Dan sementara hampir semua bisnis menghadapi dampak keuangan yang merugikan dari krisis ini, kami menyadari bahwa kami berada dalam posisi yang lebih istimewa daripada kebanyakan, dan kami ingin membantu. (*)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[cilacap info featured]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[cilacap info featured]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Pakistan Tidak Menutup Masjid Selama Pencegahan Corona Dituduh Fundamentalis</title>
		<link>https://www.cilacap.info/ci-24410/pakistan-tidak-menutup-masjid-selama-pencegahan-corona-dituduh-fundamentalis</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 29 Mar 2020 01:14:58 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[Pakistan]]></category>
		<category><![CDATA[Virus Corona]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.cilacap.info/ci-24410/pakistan-tidak-menutup-masjid-selama-pencegahan-corona-dituduh-fundamentalis</guid>

					<description><![CDATA[ISLAMABAD,  aria-label="Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Negara mayoritas muslim seperti Arab Saudi dan Iran melalui pemerintahnya telah melarang warganya untuk beribadah di masjid-masjid.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>ISLAMABAD, <a href="https://www.cilacap.info" aria-label="Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Negara mayoritas muslim seperti Arab Saudi dan Iran melalui pemerintahnya telah melarang warganya untuk beribadah di masjid-masjid.</p>
<p>Hal itu guna mencegah dan meminimalisir penyebaran covid-19, namun lain halnya negara pakistan.</p>
<p>Ketika banyak negara islam melarang kegiatan atau aktifitas ibadah di dalam masjid, pakistan justru tidak menutupnya.</p>
<p>Padahal di negara tersebut telah ada 1.200 kasus dengan 11 orang meninggal dunia.</p>
<p>Adapun tentara pakistan tidak bisa berbuat banyak karena tak ingin membuat warga pakistan marah.</p>
<p>Namun karena hal ini, sejumlah media di india mengatakan bahwa militer atau tentara pakistan pro kaum fundamentalis dan menentang kepemerintahan pakistan di bawah kepemimpinan Imran.</p>
<p>Pasalnya kaum fundamentalis itu akan dikerakahkan dan disiapkan di camp-camp mereka untuk menyerang india dan menguasai kasmir.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[cilacap info featured]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[cilacap info featured]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
	</channel>
</rss>
