<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Kumpulan Pos Berita Islam &#8211; Cilacap.info</title>
	<atom:link href="https://www.cilacap.info/tag/berita-islam/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.cilacap.info</link>
	<description>Media Online Masa Kini, Akurat, Mengedepankan Etika</description>
	<lastBuildDate>Thu, 04 Jun 2026 02:59:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	
<image>
<url>https://img.cilacap.info/images/cilacapinfo.png</url><title>Kumpulan Pos Berita Islam &#8211; Cilacap.info</title>
<link>https://www.cilacap.info</link>
<width>144</width><height>19</height><description>Media Online Masa Kini, Akurat, Mengedepankan Etika</description>
</image>
	<item>
		<title>Mengenal Lebih Dekat Gerakan Pemuda Hijrah The Shift</title>
		<link>https://www.cilacap.info/ci-59152/mengenal-lebih-dekat-gerakan-pemuda-hijrah-the-shift</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 May 2024 20:56:43 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Berita Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.cilacap.info/ci-59152/mengenal-lebih-dekat-gerakan-pemuda-hijrah-the-shift</guid>

					<description><![CDATA[BANDUNG, CILACAP.INFO &#8211; Hijrah berasal dari bahasa arab هَجَرَ (red: hajara) yang artinya berpindah. Berpindah di sini jika kita merujuk pada artikel yang akan kami bahas maksudnya berpindah dari keadaan lalai atau tidak taat menjadi taat dan lebih mendekatkan diri kepada Allah Subhanu wa Taala.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>BANDUNG</strong>, <a href="https://www.cilacap.info" aria-label="Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Hijrah berasal dari bahasa arab هَجَرَ (red: hajara) yang artinya berpindah. Berpindah di sini jika kita merujuk pada artikel yang akan kami bahas maksudnya berpindah dari keadaan lalai atau tidak taat menjadi taat dan lebih mendekatkan diri kepada Allah Subhanu wa Taala.</p>
<p>Hijrah untuk menjadi pribadi yang taat sebagai ummat muslim merupakan kewajiban, sebab ini adalah bekal kita untuk menjadi pribadi yang menjalankan tuntunannya sebagai seorang hamba-Nya, juga sebagai bekal di Akhirat kelak.</p>
<p>Jika pemuda maupun pemudi taat kepada rabb-Nya dan menjalankan perintah-Nya, maka langkahnya dalam melakukan sesuatu akan lurus dan terhindar atau menghindari hal-hal yang akan menimbulkan dosa.</p>
<p>Ajakan hijrah atau bahkan seseorang yang sedang maupun telah hijrah merupakan suatu hal yang positif. Hijrah untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Taala bisa dijalankan oleh siapa saja sebelum ajal menjemput.</p>
<p>Sebab jika ajal menjemput namun lalai dan tidak taat, maka tidak ada kesempatan lagi melainkan penyesalan. Oleh sebab itu selama masih diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk hidup di dunia, maka seyogyanya gunakanlah kesempatan itu untuk taat dalam menjalankan perintah agama.</p>
<p>Meski hijrah tidak harus memandang dalam segi umur, akan tetapi lebih baik lagi jika di usia muda kita mau untuk hijrah mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan niat yang sungguh-sungguh.</p>
<p>Sebagaimana wasiat ulama sufi terkemuka Syekh Ibnu Athaillah Sekandari. &#8220;Jika kita telah berusia empat puluh tahun, maka segeralah untuk memperbanyak amal sholeh siang maupun malam. Sebab, waktu pertemuan kita dengan Allah &#8216;Azza Wa Jalla semakin dekat. Ibadah yang kita kerjakan saat ini tidak mampu menyamai ibadah seorang pemuda yang tidak menyia-nyiakan masa mudanya.&#8221;</p>
<p>Syekh Ibnu Athaillah Sekandari juga mengajak kita semua untuk selalu berdzikir mengingat Allah. Sementara dalam sebuah hadits diceritakan bahwa Rasulullah SAW saat ditanya oleh seorang Arab Badui tentang siapakah sebaik-baik manusia. Beliau menjawab: &#8220;Siapa yang paling panjang umurnya dan baik amalannya&#8221; (HR at-Tirmidzi).</p>
<p>Melihat dari wasiat syekh sufi dan hadits riwayat di atas menjadi dapat dipahami kembali bahwa semasa hidup jika dipergunakan untuk berbuat baik yang dalam hal ini adalah taat untuk menjalankan perintahNya, dan baik amalannya maka kita tergolong manusia yang mulia dan hal ini dapat dilakukan apabila seseorang lalai kemudian lekas untuk berhijrah.</p>
<p>Berbicara mengenai hijrah memang dibutuhkan tekad dan niat yang sungguh-sungguh. Selain daripada itu untuk mendukung hal ini, maka jadikan smartphone yang kita gunakan untuk mendengar dan melihat kajian-kajian yang bernuansa positif mengenai hijrah kita. Insya Allah jalan kita untuk hijrah istiqomah.</p>
<p>Sebab di era perkembangan ini, segala sesuatu dapat ditemukan melalui gadget yang kita gunakan, sehingga manfaatkanlah kemajuan teknologi dengan sebaik-baiknya.</p>
<p>Kemudian kita juga dapat mengikuti komunitas yang mengajak pada kebaikan, seperti The Shift Gerakan Pemuda Hijrah yang didirikan oleh Ustadz Hanan Attaki.</p>
<p>Sebagaimana yang diketahui The Shift adalah komunitas pemuda di Kota Bandung yang didirikan oleh Ustadz Hanan Attaki, sebagai gerakan dakwah yang didesain dengan &#8220;warna&#8221; anak muda, oleh pelaku dunia anak muda.</p>
<p>Ustadz Hanan Attaki juga yang menginisiasi terciptanya Gerakan Pemuda Hijrah. Yaitu gerakan anak muda yang ingin merubah hidupnya dari meninggalkan hal-hal yang buruk di masa lalu dan berubah menjadi lebih taat kepada Allah Subhanahu wa Taala.</p>
<p>Tertarik dengan gerakan pemuda hijrah, yuk kunjungi websitenya di laman <a href="https://pemudahijrah.com/">pemudahijrah</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2024/05/05/the-shift-gerakan-pemuda-hijrah-1200x675.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="675">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[the shift gerakan pemuda hijrah]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2024/05/05/the-shift-gerakan-pemuda-hijrah-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[the shift gerakan pemuda hijrah]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Ucapan Duka Yang Benar Khusnul Khotimah atau Husnul Khotimah, Ini Dia Jawabannya?</title>
		<link>https://www.cilacap.info/ci-43222/ucapan-duka-yang-benar-khusnul-khotimah-atau-husnul-khotimah-ini-dia-jawabannya</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Huda]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 16 Jan 2022 10:44:59 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Bacaan Do'a]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.cilacap.info/ci-43222/ucapan-duka-yang-benar-khusnul-khotimah-atau-husnul-khotimah-ini-dia-jawabannya</guid>

					<description><![CDATA[CILACAP.INFO &#8211; Ekspresi banyak orang di dunia maya ketika mendengar dan melihat adanya kabar duka yakni dengan belasungkawa. Tak hanya itu, teriring juga do&#8217;a supaya Almarhum atau Almarhumah diterima di sisi-Nya.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.cilacap.info" aria-label="Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Ekspresi banyak orang di dunia maya ketika mendengar dan melihat adanya kabar duka yakni dengan belasungkawa. Tak hanya itu, teriring juga do&#8217;a supaya Almarhum atau Almarhumah diterima di sisi-Nya.</p>
<p>Namun terkadang ucapan yang dilontarakan justru menjadi perdebataan kecil di Group Whatsapp atau Komentar Media Sosial lantaran ketambahan huruf yang artinya menjadi berbeda, ucapan tersebut yakni &#8216;Husnul Khatimah&#8217; dan &#8216;Khusnul Khatimah.</p>
<p>Namanya Group yang mungkin di dalamnya terdapat banyak akun, maka tak ayal jika ada salah satu yang bermaksud menasihati.</p>
<p>Alih-alih dinasihati justru yang dinasihati menjawabnya &#8220;Tapi kan niatnya dari hati mendo&#8217;akan yang baik dan tidak mendo&#8217;akan yang buruk.&#8221;</p>
<p>Sementara pengguna yang lain memilih diam, lantaran tak mau membuat kegaduhan di sebuah grop media sosial.</p>
<p>Namun bagi yang mau memberitahukan suatu ilmu dan nasihat, tak salah juga pasalnya di dalam Al Qur&#8217;an Al-‘Ashr Ayat 3, Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala Berfirman, yang Artinya: &#8220;Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasihati supaya menetapi kesabaran.&#8221;</p>
<p>Lalu mana tulisan yang benar &#8216;Husnul Khatimah&#8217; atau &#8216;Khusnul Khatimah&#8217;, berikut <a href="https://www.cilacap.info">Cilacap.info</a> akan merangkumnya.</p>
<p>Melansir <a href="https://jurnal.cilacap.info/ci-17169/ketahui-ucapan-duka-khusnul-khatimah-atau-husnul-khatimah">Jurnal Online</a>, Makna Husnul Khatimah yakni berasal dari bahasa arab yang mana kalimat asalnya adalah حسن الخاتمة. Yakni menggunakan huruf ح ditulis atau dalam indonesia &#8216;h&#8217;.</p>
<p>&#8220;Husnul&#8221; berasal dari kata &#8220;Hasan&#8221; yang berarti baik. Sedang &#8220;Husnul&#8221; artinya Terbaik. Jadi &#8220;Husnul Khatimah&#8221; artinya Meninggal dalam keadaan yang terbaik.</p>
<p>Sedangkan apabila di tulis &#8220;Khusnul Khatimah&#8221; akan menjadi berbeda arti, karena makna &#8216;Khusnul&#8217; artinya Terhina atau Terendah.</p>
<p>Jadi apabila digabungkan menjadi &#8220;Khusnul Khatimah&#8221; artinya adalah Mati dalam keadaan Terhina atau Terendah.</p>
<p>Sekarang sudah tahukan artinya dan mana penulisan yang tepat untuk mendoakan seseorang yang telah tiada, dan semoga artikel ini bisa bermanfaat.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/ilustrasi-ucapan-Husnul-Khatimah-1200x675.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="675">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[ilustrasi ucapan Husnul Khatimah]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/ilustrasi-ucapan-Husnul-Khatimah-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[ilustrasi ucapan Husnul Khatimah]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Do&#8217;a Jika Tak Bisa Move ON Karena Ditinggal Nikah Mantan</title>
		<link>https://www.cilacap.info/ci-40707/doa-jika-tak-bisa-move-karena-ditinggal-nikah-mantan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Huda]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Sep 2021 12:49:41 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Berita Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[NU Online]]></category>
		<category><![CDATA[Pasangan Muslim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.cilacap.info/ci-40707/doa-jika-tak-bisa-move-karena-ditinggal-nikah-mantan</guid>

					<description><![CDATA[CILACAP.INFO &#8211; Walau seseorang sudah menikah, terkadang hatinya masih belum bisa beranjak dari mantan yang pernah dicintai atau mencintai dirinya. Anak-anak muda sekarang menyebutnya &#8220;belum bisa move on.&#8221;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.cilacap.info" aria-label="Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Walau seseorang sudah menikah, terkadang hatinya masih belum bisa beranjak dari mantan yang pernah dicintai atau mencintai dirinya. Anak-anak muda sekarang menyebutnya &#8220;belum bisa move on.&#8221;</p>
<p>Begitu pun pasangan suami-istri yang sudah cukup lama menikah. Mereka bukan fokus mencintai pasangan tetapi malah mencintai perempuan atau pria lain. Memang cinta adalah urusan hati.</p>
<p>Sehingga seseorang terkadang kesulitan untuk mengendalikannya. Namun, perlu diingat bahwa cinta bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Ia terlahir dari perhatian dan kasih-sayang, baik dari orang yang mencinta maupun dari orang yang dicinta.</p>
<p>Ada pula yang mengatakan, cinta bukan benda mati, melainkan sesuatu yang harus diperjuangkan. Sehingga bila seorang suami atau istri sudah mulai tak cinta kepada pasangannya, mereka harus berjuang bagaimana caranya agar mampu menumbuhkan dan menyuburkan kembali cinta itu di antara mereka.</p>
<p>Lantas bagaimana seorang yang terlanjur diuji dengan rasa cinta kepada orang yang bukan pasangannya? Adakah tuntunan Rasulullah ﷺ untuk memperbaiki hatinya? Sebab, bila dibiarkan, ia justru akan memutus tali perkawinan dan merusak bangunan rumah tangga yang sudah ia bina.</p>
<p>Berbicara masalah hati, Rasulullah ﷺ pernah memberikan gambaran, &#8220;Sesungguhnya hati bani Adam yang berada di antara dua jari Dzat Yang Maha-Rahman itu bagaikan satu hati saja. Dia selalu mengubah-ubahnya sesuai dengan kehendak-Nya,&#8221; (HR al-Tirmidzi).</p>
<p>Karena itu, ketika seseorang merasa kesulitan untuk mengendalikan hatinya, maka pasrahkanlah kepada Dzat yang maha-membolak-balikkannya, yakni Allah subhanahu wata&#8217;ala.</p>
<p>Masih soal hati, dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ menyatakan, &#8220;Hati itu ibarat satu lembar bulu di atas tanah yang kosong. Ia terombang-ambing oleh angin, sehingga mudah terbolak-balik.&#8221; (HR. Ahmad).</p>
<p>Karena sifatnya yang mudah berubah-ubah, hati kemudian disebut dengan kalbu atau qalbu sesuai dengan asal kata Arabnya. Karenanya, melalui doa berikut Rasulullah ﷺ selalu memohon kepada Allah agar senantiasa diberi keteguhan hati di atas agama-Nya.</p>
<p> يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ (Yâ muqallibal qulûb tsabbit qalbî ‘alâ dînika). Artinya: &#8220;Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu&#8221; (HR al-Nasai’).</p>
<p> Setelah berdoa itu, Rasulullah ﷺ kemudian menyambungnya dengan doa dari Al-Qur’an:</p>
<p> رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
(Rabbanâ lâ tuzigh qulûbanâ ba‘da idz hadaitanâ wahablanâ min ladunka rahmatan innaka anta-l-wahhâb)</p>
<p>Artinya: &#8220;Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha-Pemberi (karunia),&#8221; (Ali ‘Imran [3]: 8).</p>
<p>Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ berdoa:</p>
<p> اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا إِلَى طَاعَتِكَ (Allâhumma, musharrifal qulûb sharrif qulûbanâ ilâ thâ‘atika)</p>
<p>Artinya: &#8220;Ya Allah, Dzat yang mengurus seluruh hati, arahkanlah hati kami terhadap ketaatan kepada-Mu&#8221; (HR. Muslim).</p>
<p>Maka bagi Anda yang ingin diteguhkan hatinya oleh Allah akibat godaan rasa cinta kepada orang yang tak sepantasnya dicinta, ada baiknya sering membaca doa di atas.</p>
<p>Rasulullah ﷺ memang tidak mengkhususkan doa tersebut untuk tujuan itu, tapi untuk semua hal yang berkenaan dengan hati yang kita sudah tak mampu mengendalikannya, maka perbanyaklah membacanya.</p>
<p>Mudah-mudahan Allah menolong hamba yang senantiasa memohon pertolongan kepada-Nya, termasuk mengendalikan perasaan hati. Tetap yakinlah kepada Allah, Dzat yang maha-membolak-balikan hati, sambil terus berdoa kepada-Nya. Sampaikan permohonan walau mungkin tak menggunakan doa ini, sebab Dia Maha-Mendengar dan Maha-Mengetahui setiap yang terbesit dalam hati. Wallahu a’lam.</p>
<p>Ustadz M. Tatam Wijaya, Alumni PP Raudhatul Hafizhiyyah Sukaraja-Sukabumi, Pengasuh Majelis Taklim &#8220;Syubbanul Muttaqin&#8221; Sukanagara-Cianjur, Jawa Barat.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/ilustrasi-pasangan-muslim-1200x675.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="675">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[ilustrasi pasangan muslim]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/ilustrasi-pasangan-muslim-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[ilustrasi pasangan muslim]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Menyebut Orang Lain Dajjal dalam Pandangan Islam</title>
		<link>https://www.cilacap.info/ci-40117/menyebut-orang-lain-dajjal-dalam-pandangan-islam</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Huda]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Aug 2021 20:02:04 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Berita Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Khazanah]]></category>
		<category><![CDATA[Menjaga Lisan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.cilacap.info/ci-40117/menyebut-orang-lain-dajjal-dalam-pandangan-islam</guid>

					<description><![CDATA[CILACAP.INFO &#8211; Fenomena ucapan yang kurang berkenan ketika menyebut atau menjuluki orang lain dengan semauanya, dapat menjadi kebiasaan.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.cilacap.info" aria-label="Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Fenomena ucapan yang kurang berkenan ketika menyebut atau menjuluki orang lain dengan semauanya, dapat menjadi kebiasaan.</p>
<p>Bermula dari hanya spontan dan kebiasaan dalam menjuluki orang, julukan tersebut bisa sampai tua.</p>
<p>Hal ini bisa dijumpai di sekitar masyarakat, misalnya nama aslinya rizki tapi orang memanggilnya dengan nama-nama yang tidak terkait dengan aslinya.</p>
<p>Yang demikian ini juga dapat berlanjut ke generasi berikutnya, sehingga kawula mudanya juga ikut memanggil dengan sebutan itu, meski ada tambahan WA atau lik.</p>
<p>Jika yang demikian saja rasanya tidak ngeh, apalagi jika ada orang yang menjuluki orang lain dengan sebutan Dajjal, tentu saja sangat-sangat buruk bahkan ucapan seperti ini bisa diikuti oleh orang lain apabila jika yang mengatakan merupakan entertain.</p>
<p>Tak hanya itu, jika dia seorang muslim dia tentu tahu kisah dajjal yang mana terdapat tanda kafir di dahinya.</p>
<p>Oleh sebab itu, bilamana ada orang mengatakan orang lain dengan kata atau sebutan dajjal, otomatis orang yang dikitai juga mutlak kafir sebab dajjal memiliki tanda demikian.</p>
<p>Rasullullah SAW sebagaimana Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim &#8220;Barang siapa memanggil dengan sebutan kafir atau musuh Allah padahal yang bersangkutan tidak demikian, maka tuduhan itu akan kembali kepada penuduh.&#8221; (HR Bukhari-Muslim).</p>
<p>Jika melihat hadits di atas tentu saja sebaiknya kita harus berhati-hati
dengan ucapan, sebab ucapan seperti di atas dapat berbalik kepada diri sendiri.</p>
<p>Dan menjaga lisan ini juga dapat menyelamatkan manusia sebagaimana hadits riwayat Bukhari</p>
<p>سلامة الإنسان في حفظ اللسان</p>
<p>&#8220;Keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan.&#8221; (H.R. Al-Bukhari).</p>
<p>Di dalam Al-Qur&#8217;an Surat Al-Hujurat Ayat 11, Allah SWT Berfirman:</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ</p>
<p>Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/HR-Bukhori-Menjaga-Lisan-1200x675.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="675">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[HR Bukhori Menjaga Lisan]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/HR-Bukhori-Menjaga-Lisan-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[HR Bukhori Menjaga Lisan]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Karena Membalas Cacian, Abu Bakar Pernah Dijauhi Rasulullah</title>
		<link>https://www.cilacap.info/ci-33348/karena-membalas-cacian-abu-bakar-pernah-dijauhi-rasulullah</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2020 14:05:31 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Berita Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Khazanah]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Islami]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.cilacap.info/ci-33348/karena-membalas-cacian-abu-bakar-pernah-dijauhi-rasulullah</guid>

					<description><![CDATA[&#8220;Ketika kamu dicaci dan hanya membalas cacian itu dengan kesabaran dan diam, aku melihat malaikat datang mengelilingimu, namun ketika kamu membalas cacian tersebut, aku melihat malaikat itu pergi dan digantikan oleh iblis yang mengelilingimu.&#8221;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Ketika kamu dicaci dan hanya membalas cacian itu dengan kesabaran dan diam, aku melihat malaikat datang mengelilingimu, namun ketika kamu membalas cacian tersebut, aku melihat malaikat itu pergi dan digantikan oleh iblis yang mengelilingimu.&#8221;</p>
<p>Abu Bakar Ashiddiq adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang pertama memeluk Islam, tidak hanya itu, ia juga mertua baginda Nabi SAW, ayah dari Siti Aisyah Ummul Mu’minin.</p>
<p>Dikisahkan dalam hadis riwayat Imam Abi Dawud suatu ketika nabi sedang berkunjung ke kediaman Abu Bakar Ashiddiq, dalam riwayat lain hanya disebut nabi sedang dalam satu majlis bersama Abu Bakar, saat itu tanpa disangka datang seorang Arab Baduwi dan memaki Abu Bakar Ashiddiq.</p>
<p>Orang Arab baduwi tersebut untuk pertama kalinya mencaci dan mengolok-olok Abu Bakar dengan kasar, namun Abu Bakar tak menggubrisnya. Ia hanya diam dan tersenyum. Melihat sahabat-Nya dicaci maki namun tetap sabar dan tersenyum Nabi SAW pun ikut tersenyum.</p>
<p>Menyaksikan sasaranya hanya menanggapi dengan senyuman, orang Arab baduwi tersebut untuk yang kedua kalinya kembali mencaci maki Abu Bakar, dengan kata-kata yang lebih kotor dari sebelumya. Menanggapi hal tersebut, Abu Bakar pun hanya bersabar dan diam. Nabi SAW yang melihat perilaku Abu Bakar yang masih sabar pun ikut senang.</p>
<p>Untuk yang ketiga kalinya orang Arab baduwi tersebut kembali mencaci Abu Bakar dengan cacian dan makian yang lebih kasar dari pada sebelumnya. Menanggapi cacian untuk yang ketiga kalinya, Abu Bakar pun tidak sabar lagi dan membalas cacian orang arab baduwi tersebut.</p>
<p>Menyaksikan sahabat-Nya yang turut terpancing emosi dan membalas kembali cacian orang Arab baduwi tadi, Nabi Muhammad SAW pergi meninggalkan Abu Bakar tanpa salam dan berpamitan, lantas Abu Bakar mengejar Nabi Muhammad SAW dan bertanya! Wahai Baginda Nabi, kenapa engkau tiba-tiba pergi?.</p>
<p>Nabi SAW menjawab, &#8220;Ketika kamu dicaci maki orang arab baduwi tadi, dan kamu tetap diam dan bersabar, aku melihat malaikat datang mengelilingimu, ketika dicaci untuk yang kedua kalinya dan kamu juga masih bersabar dan hanya membalas dengan diam, aku melihat jumlah malaikat yang datang mengelilingimu bertambah banyak.&#8221;</p>
<p>Nabi SAW melanjutkan, &#8220;Namun ketika dicaci untuk yang ketiga kalinya dan kamu membalas cacian tersebut, aku melihat malaikat yang tadi berkumpul mengelilingimu pergi meninggalkanmu dan digantikan oleh iblis-iblis yang datang mengelingimu, aku tidak bisa berkumpul dengan Iblis, oleh sebab itu aku memilih pergi meninggalkanmu.&#8221;</p>
<p>Kejadian yang menimpa Abu Bakar Ashiddiq tersebut bisa menimpa siapa saja, baik itu rakyat jelata ataupun pejabat negara, santri atau pun kiyai, terlebih kita hidup di era media sosial. Caci maki tidak saja disaksikan oleh orang satu komplek atau desa, melainkan bisa tersebar secara cepat dan mancanegara.</p>
<p>Al-Qur’an memberikan tips dan cara agar kita terhindar dan tidak terpancing ketika dihina dan dicaci maki orang: Adapun hamba-hamba Tuhan yang Maha Pengasih itu adalah mereka yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa, mencela dan mencaci mereka, mereka menjawabnya dengan &#8220;salam&#8221;(Al Furqon:63), dengan artian menjawab makian tersebut dengan doa keselamatan atas orang yang mencelanya.</p>
<p>Atau jika kita tidak bisa membalasnya dengan salam maka lebih baik bersabarlah terhadap apa yang mereka katakan dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik (Al-Muzzammil:10). Semoga kita semua dihindarkan dari segala jenis cacian dan perbuatan tercela. (AN)</p>
<p>Wallahu A’lam.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/ilustrasi-musafir-1200x675.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="675">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[ilustrasi musafir]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/ilustrasi-musafir-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[ilustrasi musafir]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Sejarah Awal Mula Masuknya Tarekat atau Thoriqoh ke Indonesia</title>
		<link>https://www.cilacap.info/ci-33168/sejarah-awal-mula-masuknya-tarekat-atau-thoriqoh-ke-indonesia</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Hasan Bahtiar]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Nov 2020 10:36:01 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Berita Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Khazanah]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Thoriqoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.cilacap.info/ci-33168/sejarah-awal-mula-masuknya-tarekat-atau-thoriqoh-ke-indonesia</guid>

					<description><![CDATA[CILACAP.INFO &#8211; Seiring kepulangan santri Jawa yang telah selesai belajar di tanah suci, menjelang akhir abad delapan belas, berbagai thariqah telah tersebar luas di nusantara. Sepeninggal Nabi SAW, fitnah besar terjadi di separuh terakhir masa pemerintahan Al-Khulafaur Rasyidun, dan semakin menghebat pada masa daulah Bani Umayyah, di mana sistem pemerintahan telah mirip dengan kerajaan. Penguasa memiliki kekuasaan yang tak terbatas, yang cenderung lebih mengutamakan kepentingan pribadi mereka, keluarga atau kelompoknya dan mengalahkan kepentingan rakyat kebanyakan. Dan akhirnya berujung pada munculnya &#8220;pemberontakan&#8221; yang digerakkan oleh golongan khawarij, syiah, dan zuhhad.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.cilacap.info" aria-label="Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Seiring kepulangan santri Jawa yang telah selesai belajar di tanah suci, menjelang akhir abad delapan belas, berbagai thariqah telah tersebar luas di nusantara. Sepeninggal Nabi SAW, fitnah besar terjadi di separuh terakhir masa pemerintahan Al-Khulafaur Rasyidun, dan semakin menghebat pada masa daulah Bani Umayyah, di mana sistem pemerintahan telah mirip dengan kerajaan. Penguasa memiliki kekuasaan yang tak terbatas, yang cenderung lebih mengutamakan kepentingan pribadi mereka, keluarga atau kelompoknya dan mengalahkan kepentingan rakyat kebanyakan. Dan akhirnya berujung pada munculnya &#8220;pemberontakan&#8221; yang digerakkan oleh golongan khawarij, syiah, dan zuhhad.</p>
<p>Dua golongan pertama memberontak dengan motivasi politik: merebut kekuasaan dan jabatan. Sementara golongan terakhir melakukan &#8220;pemberontakan&#8221; untuk mengingatkan para penguasa agar kembali kepada ajaran agama dan kembali memakmurkan kehidupan rohani. Mereka berpendapat bahwa kehidupan rohani yang terjaga dan terpelihara dengan baik akan dapat memadamkan api fitnah, iri dengki dan dendam.</p>
<p>Fitnah yang muncul dari iri dan dengki yang lahir karena perasaan hubbud dunya wa karahiyatul maut (terlalu cinta pada kehidupan duniawi dan takut mati) itu pula yang belakangan mereka yakini telah menghancur leburkan Daulat Bani Umayyah dan Daulat Bani Abbasiyyah. Meski keduanya pernah termasyhur sebagai merupakan pemerintahan yang terbesar di dunia,dengan wilayah kekuasaan yang terbentang dari daratan Asia dan Afrika di bagian timur sampai daratan Spanyol Eropa di bagian barat.</p>
<p>Gerakan para Zuhhad pada mulanya merupakan kegiatan sebagian kaum muslimin yang semata- mata berusaha mengendalikan jiwa mereka dan menempuh cara hidup unuk mencapai ridlo Allah Swt, agar tidak terpengaruh dan terpedaya oleh tipuan dan godaan duniawi (materi). Lama kelamaan cara kehidupan rohani yang mereka tempuh berkembang menjadi alat unuk mencapai tujuan yang lebih murni, Bahkan lebih mendalam, yaitu mencapai hakekat ketuhanan dan ma&#8217;rifat (mengenal) kepada Allah yang sebenar-benarnya, melalui riyadhah (laku pihatin), mujahadah (perjuangan batin yang sungguh-sungguh), mukasyafah (tersingkapnya tabir antara dirinya dan Allah), musyahadah (penyaksian terhadap keberadaan Allah).</p>
<p>Dengan isilah lain, laku batin yang mereka tempuh dimulai dengan takhalli (mengosongkan hati dari sifat-sifat tercela), lalu tahalli (menghiasi hati dengan sifat yang terpuji), lalu tajalli (mendapatkan pencerahan dari Allah SWT). Tata caa kehidupan rohani tersebut kemudian tumbuh berkembang di kalangan masarakat muslim, yang akhirnya menjadi disiplin keilmuan tersendiri, yang dikenal dengan ilmu Tashawuf atau sufisme.</p>
<p>Bersamaan munculnya Tasawuf di akhir abad kedua hijriah, lahir juga istilah thariqah yang perlahan mulai menemukan bentuknya sebagai sebuah sistem dan metodologi yang terdiri dari sekumpulan aqidah, akhlak, dan seperangkat aturan terentu bagi kaum sufi. Thariqah Shufiyyah, metode kaum sufi, saat itu menjadi penyeimbang terhadap Thariqah Arbabil Aql wal fikr, metode penalaran kelompok orang yang menggunakan akal dan pikiran. Thariqah yang pertama lebih menekankan pada dzauq (rasa) sedangkan yang kedua lebih menekankan pada burhan (bukti nyata /empiris). Istilah thariqah juga digunakan untuk menyebut suatu pembimbingan pribadi dan perilaku yang dilakukan oleh seorang guru musyid kepada muridnya. Pengertian terakhir inilah yang lebih banyak difahami orang banyak ketika mendengar kata thariqah atau tarekat.</p>
<p>Pada perkembangan berikutnya, berkembang perbedaan metode laku batin yang diamalkan dan diajarkan para tokoh sufi kepada muridnya, yang disebabkan perbadaan pengalaman dan rasa antar masing-masing tokoh, meski tujuan akhir mereka semua tetap sama: menggapai ridha dan cinta Allah SWT. Perbedaan metode itulah yang akhirnya memunculkan aliran-aliran thariqah yang namanya diambil dari tokoh-tokoh sentral aliran tersebut, seperti Qadiriyah, Rifa&#8217;iyyah, Syadziliyyah, Dasuqiyyah/Barahamiyyah, Zainiyyah, Tijaniyyah, Naqsabandiyyah, Alawiyyah dan lain sebagainya.</p>
<p>Mursyid Thariqah</p>
<p>Mursyid adalah sebutan untuk seorang guru pembimbing thariqah yang telah memperoleh izin dan ijazah dari guru mursyid di atasnya, yang terus bersambung sanadnya sampai kepada Rasulullah SAW sebagai Shahibuth Thariqah, untuk men-talqin-kan dzikir atau wirid thariqah kepada orang-orang yang datang meminta bimbingannya (murid). Dalam thariqah Tijaniyyah, sebutan untuk mursyid adalah muqaddam.</p>
<p>Mursyid mempunyai kedudukan yang penting dalam ilmu thariqah. Karena ia tidak saja pembimbing yang mengawasi murid-muridnya dalam kehidupan lahiriah sehari-hari agar tidak menyimpang dari ajaran Islam dan terjerumus dalam kemaksiatan, tetapi ia juga merupakan pemimpin kerohanian bagi para muridnya agar bisa wushul (terhubung) dengan Allah SWT. Karena ia merupakan washilah (perantara) antara si murid dengan Allah Swt. Demikian keyakinan yang terdapat dikalangan ahli thariqah.</p>
<p>Oleh karena itu, jabatan ini tidak boleh dipangku oleh sembarang orang, sekalipun pengetahuannya tentang ilmu thariqah cukup lengkap. Tetapi yang terpenting ia harus memiliki kebersihan rohani dan kehidupan batin yang tulus dan suci. Syaikh Muhammad Amin Al-Kurdy, salah seorang tokoh Thariqah Naqsyabandiyah yang bermazhab Syafi&#8217;i, menyatakan, yang dinamakan Syaikh/Mursyid adalah orang yang sudah mencapai maqom Rijalul Kamal, seorang yang sudah sempurna suluk/lakunya dalam syari&#8217;at dan hakikat menurut Al Qur&#8217;an, sunnah dan ijma&#8217;. Hal yang demikian itu baru terjadi sesudah sempurna pengajarannya dari seorang mursyid yang mempunyai maqam (kedudukan) yang lebih tinggi darinya, yang terus bersambung sampai kepada Rasulullah Muhammad SAW, yang bersumber dari Allah SWT dengan melakukan ikatan-ikatan janji dan wasiat (bai&#8217;at) dan memperoleh izin maupun ijazah untuk menyampaikan ajaran suluk dzikir itu kepada orang lain.</p>
<p>Seorang mursyid yang mu&#8217;tabar, diakui keabsahanya, itu tidak boleh diangkat dari seorang yang bodoh, yang hanya ingin menduduki jabatan itu karena nafsu. Mursyid merupakan penghubung antara para muridnya dengan Allah SWT, juga merupakan pintu yang harus dilalui oleh setiap muridnya untuk menuju kepada Allah SWT. Seorang syaikh/mursyid yang tidak mempunyai mursyid yang benar di atasnya, menurut Al-Kurdy, maka mursyidnya adalah syetan. Seseorang tidak boleh melakukan irsyad (bimbingan) dzikir kepada orang lain kecuali setelah memperoleh pengajaran yang sempurna dan mendapat izin atau ijazah dari guru mursyid di atasnya yang berhak dan mempunyai silsilah yang benar sampai kepada Rasulullah SAW.</p>
<p>Sementara Syaikh Abdul Qadir Jailani, sebagaimana dikutip oleh Syaikh Ja&#8217;far bin Abdul Karim Al-Barzanji, menetapkan syarat menjadi mursyid lebih luas lagi: memiliki keilmuan standar para ulama, kearifan para ahli hikmah, dan wawasan serta nalar politik seperti para politisi.</p>
<p>Pra syarat yang cukup berat ini menunjukkan bahwa selain membimbing dalam urusan agama, seorang mursyid juga menjadi penasehat bagi murid-muridnya dalam hampir seluruh aspek kehidupannya: politik, ekonomi, budaya, sosial dan pendidikan.</p>
<p>Di luar urusan pendidikan dan kapasitas personal, kalangan thariqah juga meyakini, bahwa terpilihnya seorang sufi menjadi guru mursyid adalah anugerah sekaligus ujian hidup yang luar biasa. Karena itu pemilihan seseorang mursyid bukan sekedar hasil pemikiran dan ijtihad dari gurunya, melainkan hasil petunjuk dari Allah Ta&#8217;ala dan Rasulullah, sebagai pemilik dan guru sejati ilmu thariqah. Karena pengangkatannya bersumber dari petunjuk atau isyarah yang diberikan Allah, kemursyidan seseorang sufi biasanya diketahui secara spiritual oleh mursyid-mursyid mu&#8217;tabar lain di thariqahnya.</p>
<p>Selain penjagaan otentisitas sanad kemursyidan melalui jalur spiritual, upaya penjagaan lahiriah juga diupayakan para guru mursyid dengan selalu menghadirkan empat orang saksi dalam prosesi pengangkatan seorang murid menjadi mursyid, dan belakangan dengan surat keterangan tertulis. Ini semua dalam rangka menghindari fitnah-fitnah atau pengakuan palsu mengenai kemursyidan seseorang, yang berpotensi merugikan umat Islam yang ingin mempelajari dan mengikuti thariqah shufiyyah.</p>
<p>Karena prosesnya yang diyakini murni bersumber dari petunjuk Allah SWT dan Rasulullah SAW itu pula proses regenerasi kemursyidan tidak berjalan dengan mudah dan terus mengalir secara otomatis. Jika ada seorang ulama yang menjadi mursyid, tidak otomatis bisa diharapkan anaknya akan menggantikannya sebagai mursyid kelak sepeninggal sang ayah. Juga tidak dengan mudah diharapkan, jika ada seorang mursyid yang memiliki banyak murid maka akan dengan mudah mengangangkat banyak pengganti. Karena itu tak jarang, seorang mursyid yang sangat terkenal sampai wafatnya tidak mengangkat mursyid baru atau mursyid penggantinya, sehingga garis kemursyidannya pun terputus.</p>
<p>Selain Mursyid atau Muqaddam, yang berhak mengajarkan thariqah, menerima bai&#8217;at dan mengangkat mursyid baru, dalam tradisi thariqah –termasuk Syadziliyyah—di Indonesia juga dikenal sebutan Khalifah dan Badal Mursyid. Khalifah adalah seorang sufi yang mendapat ijazah untuk mengajarkan thariqah dan menerima pembai&#8217;atan, kepada umat Islam, tetapi tidak berhak mengangkat mursyid baru. Sedangkan Badal adalah seorang sufi, murid senior dari seorang mursyid, yang membantu proses pengajaran thariqah dan menerima pemba&#8217;aiatan atas nama dan dengan ijin mursyid. Jadi badal tidak berhak membuka pembai&#8217;atan dan pengajaran sendiri, secara mandiri. Ketika seorang guru mursyid wafat dan tidak mengangkat pengganti, maka demi keberlangsungan suluknya, para murid diharuskan melanjutkan pelajaran, bai&#8217;at dan suluknya kepada guru mursyid lain.</p>
<p>Sejarah thariqah di Indonesia diyakini sama tuanya dengan sejarah masuknya Islam ke nusantara itu sendiri. Proses islamisasi nusantara secara besar-besaran terjadi pada penghujung abad 14 atau awal abad 15, bersamaan dengan masa keemasan perkembangan tasawuf akhlaqi yang ditandai dengan munculnya aliran-aliran thariqah di Timur Tengah.</p>
<p>Fase itu sendiri telah dimulai sejak Imam Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali (wafat 1111 M) merumuskan konsep tasawuf moderat yang memadukan keseimbangan unsur akhlaq, syariat, dan filsafat. Konsep itu diterima secara terbuka oleh kaum fuqaha yang sebelumnya menentang habis-habisan ajaran tasawuf falsafi yang kontroversial.</p>
<p>Setelah Al-Ghazali sukses dengan konsep tasawuf moderatnya yang dianggap selaras dengan syariat, berturut-turut muncul tokoh-tokoh sufi yang mendirikan zawiyyah pengajaran tasawuf akhlaqi di berbagai tempat. Sebut saja Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani (wafat 1166 M), yang ajaran tasawufnya menjadi dasar Thariqah Qadiriyyah. Ada juga Syaikh Najmudin Kubra (wafat 1221 M), sufi Asia Tengah pendiri Thariqah Kubrawiyyah! Syaikh Abul Hasan Ali Asy-Syadzili (wafat 1258), pendiri Thariqah Syadziliyyah asal Maghribi, Afrika Utara! Ahmad Ar-Rifa&#8217;i (wafat 1320) yang mendirikan Thariqah Rifa&#8217;iyyah. Selain itu, awal abad keempat belas juga menjadi fase pertumbuhan Thariqah Naqsyabandiyyah yang didirikan oleh Syaikh Muhammad Bahauddin An-Naqsyabandi (wafat 1389) dan Thariqah Syathariyyah yang didirikan Syaikh Abdullah Asy-Syaththari (wafat 1428 M). Kedua thariqah tersebut belakangan menjadi yang thariqah besar yang memiliki banyak pengikut di tanah air.</p>
<p>Para sejarawan barat meyakini, Islam bercorak sufistik itulah yang membuat penduduk nusantara yang semula beragama Hindu dan Buddha menjadi sangat tertarik. Tradisi dua agama asal India yang kaya dengan dimensi metafisik dan spiritualitas itu dianggap lebih dekat dan lebih mudah beradaptasi dengan tradisi thariqah yang dibawa para wali. Sayangnya dokumen sejarah islam sebelum abad 17 cukup sulit dilacak. Meski begitu, beberapa catatan tradisional di keraton-keraton sedikit banyak bercerita tentang aktivitas thariqah di kalangan keluarga istana raja-raja muslim.</p>
<p>Salah satu referensi keterkaitan para wali dengan dunia thariqah adalah Serat Banten Rante-rante, sejarah Banten kuno. Dalam karya sastra yang ditulis di awal berdirinya kesultanan Banten itu disebutkan, pada fase belajarnya Sunan Gunung Jati pernah melakukan perjalanan ke tanah Suci dan berjumpa dengan Syaikh Najmuddin Kubra dan Syaikh Abu Hasan Asy- Syadzili. Dari kedua tokoh berlainan masa itu sang sunan konon memperoleh ijazah kemursyidan Thariqah Kubrawiyyah dan Syadziliyyah. Meski jika mengacu pada data kronologi sejarah tentu saja pertemuan fisik antara Sunan Gunung Jati yang hidup di abad 16 dengan Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili yang wafat di abad 13, apalagi dengan Syaikh Najmudin Kubra yang wafat pada tahun 1221 M, tidaklah mungkin.</p>
<p>Terlepas dari kebenaran cerita pertemuan Sunan Gunung Jati dengan dua pendiri thariqah dalam Serat Banten Rante-rante, pendiri Kesultanan Cirebon itu diyakini sebagai orang pertama yang membawa Thariqah Kubrawiyyah dan Syadziliyyah ke tanah Jawa. Thariqah lain yang masuk nusantara pada periode awal adalah Thariqah Qadiriyyah, Syaththariyyah dan Rifa&#8217;iyyah. Ketiga thariqah tersebut masuk ke Sumatra sepanjang abad 16 dan 17 secara susul menyusul.</p>
<p>Setelah era Syaikh Al-Qusyasyi dan Al-Kurani, pada abad 18, tokoh ulama sufi yang menjadi tujuan belajar utama santri Jawa adalah Syaikh Muhammad bin Abdul Karim As-Sammani (wafat 1775 M), penjaga makam Rasulullah SAW, yang produktif menulis dan mengajarkan perpaduan ajaran thariqah Khalwatiyyah, Qadiriyyah, Naqsyabandiyyah dan Syadziliyyah. Sufi yang dikenal banyak memiliki karamah itu juga menyusun sebuah ratib dan mengajarkan metode berzikir baru yang belakangan dikenal sebagai wirid Thariqah Sammaniyyah.</p>
<p>Seiring kepulangan santri Jawa yang telah selesai belajar di tanah suci, menjelang akhir abad delapan belas, berbagai thariqah telah tersebar luas di nusantara. Setiap daerah memiliki kekhasan thariqahnya sendiri, sesuai yang dianut petinggi agama setempat. Beberapa daerah juga memiliki tradisi yang merupakan perpaduan dari berbagai thariqah terkenal.</p>
<p>Jejak Thariqah Qadiriyyah dan Rifa&#8217;iyyah, misalnya, bisa dikenali lewat kesenian debus yang tersebar mulai di berbagai kesultanan seperti Aceh, Kedah, Perak, Minangkabau, Banten, Cirebon, Maluku, dan Sulawesi Selatan. Bahkan kesenian yang mengedepankan aspek kesaktian itu juga dikenal di komunitas Melayu di Cape Town, Afrika Selatan, yang mungkin mendapatkannya dari Syaikh Yusuf Al-Makassari dan murid-muridnya.</p>
<p>Selain dua thariqah tersebut, debus juga dijadikan media penyebaran dan perjuangan Thariqah Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah (TQN), tarekat baru yang didirikan oleh ulama sufi Makkah asal Kalimantan Barat, Syaikh Ahmad Khatib As-Sambasi (wafat 1878). Sufi besar itu mempunyai tiga orang khalifah (asisten, yang kelak bisa menggantikan sebagai guru utama), yakni Syaikh Abdul Karim Banten, Syaikh Tholhah Cirebon dan Syaikh Ahmad Hasbullah Madura (tinggal di Makkah).</p>
<p>Thariqah Alawiyyah sendiri diasas oleh Al Faqih Al Muqaddam Muhammad bin Ali Ba&#8217;alawi (574 H/1178M-653H/1255 M Tarim-Yaman) .Ada dua jalur keilmuan dan thariqah yang diambilnya. Pertama ia mengambilnya dari jejak leluhurnya yakni lewat ayah, kakek dan terus bersambung sampai Rasulullah SAW. Jalur yang kedua ia mengambil dari ulama sufi, yakni Syaikh Abu Madyan Syu&#8217;aib dimana sanad mata rantai keilmuannya juga akhirnya sambung sinambung sampai Rasulullah SAW. di Kemudian hari, keluarga Ba&#8217;alawi ini sebagian ada masuk ke wilayah Nusantara seiring gelombang penyebaran Islam ke bumi Nusantara. Apalagi saat itu, Nusantara menjadi objek kunjungan dagang, melalui Bandar Malaka.</p>
<p>Thariqah besar lain yang ikut mewarnai khazanah muslim nusantara adalah Thariqah Tijaniyyah yang didirikan oleh Syaikh Ahmad At-Tijani (1737 – 1815) Sufi dari Afrika Utara. Karena usianya yang masih muda, thariqah ini baru masuk Indonesia setelah tahun 1920an, melalui Jawa Barat. Pembawanya adalah Syaikh Ali bin Abdullah At-Thayyib Al-Azhari, ulama pengembara kelahiran Makkah.</p>
<p>Selain thariqah-thariqah yang sudah disebut di muka, ada lagi beberapa thariqah yang masuk ke nusantara di seputar abad 19-20. Seperti Nama Al-Idrisiyyah dinisbatkan kepada salah seorang Mursyid Al-Idrisiyyah yang bernama Syekh Ahmad bin Idris Ali Al-Masyisyi Al-Yamlakhi Al-Hasani. (1760 – 1837), salah seorang Mujaddid (Neo Sufisme) yang berasal dari Maroko (Maghribi). Idris, yang kepadanya dinisbatkan nama tarekat ini adalah nama ayah dari pendirinya. Syekh Ahmad bin Idris dikenal sebagai sosok Ulama yang berhasil memadukan dua aspek lahir (syari&#8217;at) dan batin (hakikat). Ia juga dikenal sebagai pembaharu dalam dunia tasawuf dari penyelewengan kaum kebatinan seperti tahayul, khurafat, dll.</p>
<p>Tarekat Sanusiyyah dibawa ke Indonesia oleh Asy-Syekh Al-Akbar Abdul Fattah tahun 1932. Dia menerimanya dari Syekh Ahmad Syarif As-Sanusi (1875-1933) di Jabal Qubais (Mekkah) dan berguru selama 4 tahun. Kemudian dengan beberapa alasan Asy-Syekh Al-Akbar Abdul Fattah mengganti nama tarekatnya menjadi Tarekat Idrisiyyah.Sejak masuknya ke Indonesia pada masa penjajahan, Tarekat ini sudah mengalami 4 kepemimpinan. Saat ini tampuk pimpinan tarekat dipegang oleh Syekh Muhammad Fathurahman, M.Ag. Dalam masa kepemimpinannya Al-Idrisiyyah telah berkembang hingga memiliki 50 Zawiyah yang tersebar pada 12 Propinsi di Indonesia.</p>
<p>Yang paling besar tentu saja Thariqah Naqsyabandiyyah Chalidiyyah (TNC), hasil pembaruan dari thariqah Naqsyabandiyyah yang dilakukan oleh Maulana Khalid Al-Mujaddid Al-Baghdadi. Thariqah ini, menurut berbagai sumber yang dikutip Martin Van Bruinessen, dalam buku Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia, masuk nusantara untuk kali pertama melalui Syaikh Ismail Al-Minangkabawi, yang mengajar di Singapura, di abad 19. Melalui tokoh mendapat ijazah dari Syaikh Abdullah Barzanjani (khalifah Maula Khalid) itu TNK-pun menyebar ke Kerajaan Riau, Kerajaan Minang kemudian seluruh tanah air.</p>
<p>Thariqah Naqsyabandiyyah Khalidiyyah semakin berkembang pesat di tanah air melalui jamaah haji sejak Syaikh Sulaiman Zuhdi, khalifah thariqah tersebut membuka zawiyyah di Jabal Abi Qubais, Makkah Al-Mukarramah. Untuk wilayah Jawa, misalnya, Syaikh Sulaiman menunjuk tiga khalifah: Syaikh Abdullah Kepatihan (Tegal), Syaikh Muhammad Ilyas Sokaraja (Banyumas), dan Syaikh Muhammad Hadi, Girikusumo (Salatiga).</p>
<p>Setidaknya ada 45 Thariqah NU yang berstandar, yakni Thariqah yang Mu&#8217;tabarah. Hanya mereka yang memenuhi standar saja yang diperkenankan masuk menjadi Banom NU dalam JATMAN, Jamiyyah Ahluth Thariqah Al Mu&#8217;tabarah Al Nahdliyyah.</p>
<p>Seperti apa standar Thariqah versi NU? KH Aziz Masyhuri, pengasuh Pondok Pesantren Al-Aziziyah Denanyar pernah melakukan penelitian tentang aliran Thariqah di Indonesia. Kesimpulan yang didapat! keberadaan Thariqah di tanah air ini ada sekitar ribuan. Jumlah itu dianggap wajar seiring dengan dinamika yang mengelilinginya.</p>
<p>Secara singkat, Kiai Aziz mengemukakan bahwa kriteria ke mu&#8217;tabaran sebuah Thariqah adalah dapat dilihat dari sanad para Mursyidnya yang muttashil sampai kepada Rasulullah SAW. Demikian pula yang tidak bisa ditawar adalah ajaran yang disampaikan harus berpedoman pada pakem NU! yakni dalam fiqh mengikuti salah satu imam empat. Dalam aqidah mengikuti Imam Asy&#8217;ari dan Maturidi.</p>
<p>Jika di andaikan sebuah rumah, maka Thariqat adalah pondasi paling bawah yang menjadi dasar bangunan besar Nahdlatul ulama. Kemudian pesantren, di lapis kedua, dari struktur bangunan organisasi kemasyarakatan NU. &#8220;Karena masuknya Islam ke bumi Nusantara, di awali dengan masuknya thariqat, jadi thariqat adalah peletak dasar bangunan NU. Kekuatan inilah yang menjadikan NU mengakar di tengah-tengah jama&#8217;ah dan jamiyyahnya,&#8221; demikian diungkapkan Ro&#8217;is A&#8217;am Jam&#8217;iyyah Ahli Thariqah Al-Mu&#8217;Tabarah An Nahdliyah, KH. Habib Luthfiy Ali bin Yahya.</p>
<p>Menurutnya, sejarah membuktikan bahwa agama Islam di berbagai belahan dunia berkembang berkat jasa para ulama yang kemudian dikenal sebagai Wali Allah, seperti di India, Afrika Utara dan Afrika Selatan Bahkan di Indonesia. di Aceh terkenal dengan serambi Mekkah, suatu gelar yang diberikan untuk menggambarkan betapa pesatnya kemajuan Ilmu-ilmu Islam di daerah itu, seperti Syekh Nuruddin Ar Raniri, Syekh Abdurrauf Singkly, Syekh Syamsuddin Sumatrani, dan masih banyak lagi! sebagai orang-orang yang sangat berjasa dalam pengembangan Islam di sana. Demikian pula di Jawa, terkenal dengan Walisongonya sebagai ulama yang berjasa dalam pengembangan Islam. Dan masih banyak lagi yang dapat disebutkan hanya untuk menjelaskan bahwa ulama-ulama tasawuflah yang banyak jasa dan pengorbanannya dalam pengembangan Islam di dunia. Karena dimanapun tempat mereka berada, walaupun berbeda adat dan budaya maupun bahasa mereka berbaur dengan masyarakat dengan hati dan jiwa suci sehingga dengan mudahlah ajaran Allah dan Rasul-Nya difahami.</p>
<p>&#8220;Jadi sufisme atau dalam Islam diberi nama tasawuf, bertujuan untuk memperoleh hubungan langsung dengan Tuhan. Intisari sufisme, adalah kesadaran akan adanya komunikasi rohaniah antara manusia dengan Tuhan lewat jalan kontemplasi. Jalan kontemplasi tersebut, dalam dunia tasawuf dikenal dengan istilah tarekat,&#8221; urai habib yang memiliki puluhan juta jama&#8217;aah ini. (***)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/ilustrasi-berdoa-1200x675.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="675">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[ilustrasi berdoa]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/ilustrasi-berdoa-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[ilustrasi berdoa]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Komitmen Arab Saudi dalam Mengusung Islam Moderat</title>
		<link>https://www.cilacap.info/ci-16912/komitmen-arab-saudi-dalam-mengusung-islam-moderat</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Hasan Bahtiar]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 Aug 2019 16:53:24 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Berita Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Saudi Arabia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.cilacap.info/ci-16912/komitmen-arab-saudi-dalam-mengusung-islam-moderat</guid>

					<description><![CDATA[CILACAP.INFO &#8211; Komitmen Arab Saudi<br>
dalam Mengusung Islam Moderat (Wasathi) dijelaskan oleh Kiai Haji Ali M. Abdillah M.A.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.cilacap.info" aria-label="Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Komitmen Arab Saudi
dalam Mengusung Islam Moderat (Wasathi) dijelaskan oleh Kiai Haji Ali M. Abdillah M.A.</p>
<p>Kemarin delegasi Amirul Haji Indonesia diundang oleh dua lembaga di Arab Saudi: Museum Kehidupan Sahabat dan Pameran Haji dari masa ke masa. Walau terlambat karena penghancuran situs-situs pada masa lalu namun Pemerintah Arab Saudi saat ini sedang berusaha menghidupkan kembali peninggalan pada zaman dahulu.</p>
<p>Ada yang menarik saat mengunjungi ruang pameran yang menjelaskan peta masa depan Arab Saudi. di situ terpampang jelas bahwa Arab Saudi hingga tahun 2030 akan menyebarkan ajaran Islam wasathi (moderat), i&#8217;tidal (tegak lurus), melawan radikalisme dan ektrimisme dan membangun ukhuwah Islamiyah. Prinsip ini sebagai duplikasi dari prinsip dasar NU yang tawasuth, tawazun, tasamuh, dan i&#8217;tidal.</p>
<p>Komitmen Arab Saudi dalam mengusung Islam moderat dilakukan secara serius dengan melakukan tindakan nyata seperti:</p>
<p>1. Pemecatan para ustadz dan ulama yang berpaham radikal dan provokatif.</p>
<p>2. Pemerintah arab saudi sudah tidak lagi menyebarkan buku2 secara masif yang berpaham wahabi kepada Jamaah haji dan umroh. Hal ini sebagai respon terhadap protes kerasnya Ketua Umum PBNU Kyai Said Aqil Siroj yang disampaikan kepada Duta Besar Arab Saudi sekitar tahun 2017 saat pertemuan dengan PBNU. Selain itu, Kemenag juga melayangkan surat protes terhadap penyebaran ajaran wahabi melalui buku2 yang dibagikan scr gratis kepada Jamaah haji dan umroh.</p>
<p>3. Lembaga2 pendidikan atau madrasah di Arab Saudi sudah diberi kebebasan membaca shalawat Nabi atau al-Barjanji. Ketika pengurus lembaga pendidikan ditanya kenapa sekarang membaca shalawat Nabi ? bukannya wahabi melarang ? Mereka menjawab, kami bukan wahabi tapi ahlus sunnah wal jamaah. </p>
<p>Kami berharap semoga ke depan Masjidil Haram bisa dikembalikan seperti zaman dulu yaitu sebagai pusat kajian fikih empat madzhab dan kajian tasawuf dan tarekat. Semoga harapan kami bisa didengar oleh Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Arab Saudi Kyai Agus Maftuh Abegebriel supaya disampaikan kepada Khadimul Haramain.</p>
<p>Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Al-Rabbani Islamic College dan Ketua Mahasiswa Ahlit Thariqah Al-Mu&#8217;tabarah An-Nahdliyyah (MATAN) DKI Jakarta (Dr. K.H. Ali M. Abdillah M.A.)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured-1200x675.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="675">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[cilacap info featured]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[cilacap info featured]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
	</channel>
</rss>
