oleh

Syaikh as-Sayyid Mahfudz sudah wafat atau masih hidup?

Cilacap.info – Pertanyaan ini sering menjadi buah bibir dikalangan mantan anggota AOI, para santri dan Kyai serta pula beberapa tokoh masyarakat lainnya. Munculnya pertanyaan itu tak terlepas dari banyaknya kelebihan yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala kepada beliau dan sempat disaksikan oleh banyak kalangan.

“Syaikh Mahfudz itu dzahib ilal ghabah” Kata KH Mufidz, Pengasuh Pondok Pesantren Pandanaran, Yogyakarta.

KH ‘Ali Ma’shum, Krapyak pernah berkata, “Tidak ada seorang pun yang tau keberadaan Syaikh Mahfudz yang sebenarnya terkecuali hanya sedikit orang saja”.

“Syaikh Mahfudz iku isih sugeng (Syaikh Mahfudz itu masih hidup). Koe golekono, insyaallah ketemu (Kamu carilah beliau, insyaallah dapat ketemu)” Begitu kata Al-‘Arif Billah Simbah KH Ahmad Abdul Haq, Watucongol, Muntilan pada ayah penulis suatu saat.

Menurut beberapa saksi, secara lahiriah as-Syaikh as-Sayyid Mahfudz al-Jailani al-Hasani telah mengalami syahid di Gunung Selok, Cilacap. Tepatnya pada hari Selasa, 14 Dzulhijjah 1369 H atau 26 September 1950 sekitar pukul setengah empat sore WIB. Adapun sebab musabab yang mengantarkan pada kesyahidannya yaitu beliau terkena pecahan mortir di bagian punggung yang mengakibatkan adanya garis luka vertical sepanjang + 15 cm walau luka tersebut tidak sampai mengeluarkan darah (hanya ‘mbalur’, jw).

Dalam peristiwa tersebut, bermula ketika as-Syaikh as-Sayyid Mahfudz al-Jailani al-Hasani tengah melaksanakan qadhil hajat, tiba–tiba dari jarak sekitar 10 m dibelakang beliau, jatuh sebuah peluru mortir yang langsung meledak. Seorang santri khadam beliau bernama Qadim langsung syahid, sedang putera beliau yang masih berusia sekitar 13 tahun dan tengah berdiri disisi sampingnya terlempar sampai jarak kurang lebih 100 m. Secara selintas pandang, pada peristiwa ini as-Syaikh as-Sayyid Mahfudz al-Jailani al-Hasani tidak mengalami sebuah lukapun apalagi hal–hal yang membahayakan. Karena beliau masih tetap berada ditempat semula sampai dengan qadhil hajat-nya selesai. Putera beliau Sayyid Hanifuddin al-Jailani al-Hasani juga diberi selamat dalam peristiwa itu walau tubuhnya sempat terlontar jauh.

Luka yang dialami oleh as-Syaikh as-Sayyid Mahfudz al-Jailani al-Hasani baru ketahuan ketika beliau selesai menunaikan qadhil hajat kemudian mengambil air wudhu. Saat itu beliau melukar kaos dalamnya dan orang yang berada didekatnya dapat melihat di punggung beliau ada luka vertical namun tidaklah sampai mengeluarkan darah. Hanya warna merah saja yang nampak menggaris di punggungnya.

Baca Juga :   Curug Bandung Limbangan Wanareja Cantik Namun Mistis

Tak ada seorang pun dari pengikut beliau yang mengira jika as-Syaikh as-Sayyid Mahfudz al-Jailani al-Hasani akan syahid waktu itu. Karena sesudah berwudhu, Syaikh as-Sayyid Mahfudz al-Jailani al-Hasani masih sempat memimpin shalat dzuhur berjama’ah. Beliau juga kemudian berkhutbah, dimana dalam isi khutbahnya, beliau menyatakan hendak “beristirahat” dan meminta pada para pengikutnya agar dimanapun kelak mereka berada untuk senantiasa berjuang mengupayakan ‘izzul islam wal muslimin.

Selesai khutbah, as-Syaikh as-Sayyid Mahfudz al-Jailani al-Hasani lalu tiduran dengan bagian kepala beralaskan paha Kyai Lukman bin Ibrahim, Pengasuh Pesantren Lirap, Kebumen. Keduanya juga masih sempat ber-shouftoh (bercanda) satu dengan yang lain. Namun tak lama berselang sesudah itu, beliau lalu melantunkan suara dzikir yang membuat suasana disekitarnya menjadi hening. Banyak kepala tertunduk sambil mengikuti dzikir beliau. Namun ketika alunan dzikir mulai dirasa oleh satu dua telinga sudah tak terdengar lagi, beberapa orang seperti tersadar dan tercekat tenggorokannya lagi amat terperanjat. Oleh Sayyid Hanifuddin al-Jailani al-Hasani, mereka diberitahu jika abahnya yaitu as-Syaikh as-Sayyid Mahfudz al-Jailani al-Hasani telah syahid.

Ditengah kesadaran orang–orang yang semula mengelilingi dan berada dekat dengan beliau, tiba–tiba mereka masih dikejutkan lagi ingatannya dengan melihat jumlah orang yang bersama menjadi tinggal sedikit. “Kira–kira hanya tinggal 20-an orang dari semula ada sekitar 50-an”. Begitu ungkap H. Ridho, salah seorang saksi hidup pada peristiwa itu. H. Ridho ini tinggal di Desa Wanayasa, Banjarsari, Jawa Barat. Beliau di AOI lebih dikenal dengan nama Pardi dan bertugas memegang senjata berat jenis Karaben hasil rampasan dari tentara Belanda.

Kyai Lukman bin Ibrahim menghilang, padahal santri yang memegang jas beliau masih berada ditempatnya dengan baju jas yang masih dipegangi. Satu kompi pengawal khusus yang dipimpin oleh Danpi Abdur Rasyid (terkenal dengan nama samarannya Wagiman) juga tidak ada. Subhanallah. Ini adalah kejadian luar biasa yang sulit dicerna oleh akal manusia. Tapi itulah kenyataan yang terjadi. Jejak–jejak mereka masih berada ditempat semula. Tiada tanda–tanda yang mengarah mereka menjadi syuhada ditempat tersebut.

Berita tentang kejadian ini pada tahun 1950-an menyebar luas keberbagai tempat. Mungkin karena inilah maka para kyai dan santri banyak yang berkeyakinan as-Syaikh as-Sayyid Mahfudz al-Jailani al-Hasani masih hidup. Demikian pula Kyai Lukman bin Ibrahim, Lirap serta satu satuan kompi yang dipimpin oleh Abdur Rasyid. Karena apa yang diperbuat Allah Subhanahu wa ta’ala terhadap para kekasih-Nya adalah tidak ada sesuatu yang tidak mungkin.

Baca Juga :   Kiai Shonhaji, Ulama di Kebumen Guru Spritual Gus Dur

Beberapa tahun sesudah tahun 50-an itu, khabar masih hidupnya as-Syaikh as-Sayyid Mahfudz al-Jailani al-Hasani sempat membuat “gerah” mabes APRIS. Mereka meminta izin pada keluarga untuk membongkar makam as-Syaikh as-Sayyid Mahfudz al-Jailani al-Hasani dengan tujuan yang untuk meyakinkan benar atau tidaknya jika Syaikh as-Sayyid Mahfudz al-Jailani al-Hasani telah syahid. Karena peristiwa kesyahidan beliau tidak diketahui oleh kalangan pasukan APRIS.

Dengan disaksikan oleh dua putera as-Syaikh as-Sayyid Mahfudz al-Jailani al-Hasani yaitu Sayyid Hanifuddin al-Jailani al-Hasani dan Syarifah Hunaifiyah, dibongkarlah tempat yang semula pernah untuk memakamkan jasad beliau. Hasilnya, jasad beliau nampak masih ada dan utuh tak kurang satu apapun seperti saat baru syahidnya. Bahkan selimut yang disertakan juga tidak mengalami kerusakan. Dokumentasi diambil oleh pihak mabes APRIS. Namun ketika hasil dokumentasi beberapa waktu kemudian diserahkan pada pihak keluarga, semuanya menjadi terkejut. Menurut keluarga (termasuk Sayid Hanifuddin dan Syarifah Hunaifiyah) Foto yang tercetak itu bukanlah wajah dari as-Syaikh as-Sayyid Mahfudz al-Jailani al-Hasani. Akan tetapi foto orang lain, sekalipun postur mirip dengan beliau dan selimut yang dipakai juga sama dengan yang dikenakannya. Bahkan para mantan anggota AOI ketika melihat foto itu, meyakini bahwa foto tersebut adalah foto rekan mereka yang syahid ketika peristiwa pertempuran melawan Belanda dan dimakamkan didesa Bandung, Kebumen.

Teka–teki tentang misteri as-Syaikh as-Sayyid Mahfudz al-Jailani al-Hasani, Kyai Lukman dan satu satuan kompi pimpinan Abdur Rasyid ini baru terkuak pada tahun 2007 kemaren. Setelah melaksanakan apa yang diarahkan oleh KH Ahmad Abdul Haq Watucongol, ayah penulis berhasil bertemu dengan kakeknya yaitu as-Syaikh as-Sayyid Mahfudz al-Jailani al-Hasani. Pertemuan ini adalah pertemuan nyata dan bukan pertemuan halusinasi atau pertemuan dengan ritual ghoib. Benar kata KH Ahmad Abdul Haq dan para sesepuh ulama bahwa Syaikh as-Sayyid Mahfudz al-Jailani al-Hasani ternyata masih hidup. Beliau kini tinggal di kota Syihr, Provinsi Hadhramaut, Yaman. Sepeninggalnya dari Indonesia, Syaikh as-Sayyid Mahfudz al-Jailani al-Hasani membangun sebuah pesantren di Syihr. Tepatnya di komplek Masjid peninggalan sahabat Mus’ab bin ‘Umair. Beliau juga mursyid Thariqah As-Syadzaliyyah terkemuka di kota tersebut. Banyak ulama–ulama khawas timur tengah yang sempat berguru pada beliau sampai dengan saat ini. Diantaranya adalah Syaikh Ibrahim Al-Asfihani yang tinggal di Suriah. Beliau adalah mursyid As-Syadzaliyyah terkenal di Suriah yang mengambil sanad silsilah thariqah dari as-Syaikh as-Sayyid Mahfudz al-Jailani al-Hasani setelah beliau tinggal di Syihr, Hadhramaut, Yaman.

Baca Juga :   Nahdliyin: Viral Valentine Day, Lupa Milad Pendiri NU

Kyai Lukman bin Ibrahim juga masih hidup. Setidak–tidaknya sampai tahun 2007. Beliau kini tinggal di Thaif, Saudi Arabia. Sementara itu Abdur Rasyid (orang yang di AOI memakai nama samaran Wagiman) beserta beberapa orang mantan anak buahnya kini tinggal di kota Doha, ibukota Qatar.

Sekian dulu, semoga saja tulisan ini bermanfaat bagi para muhibbin.

Waesalam

(Sayyid Faukhan Fawaqi al-Hasani, penulis adalah Putra Pengasuh Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu)

Tulisan Terkait :
1. Syaikh as-Sayyid Mahfudz bin Abdurrahman al-Jailani al-Hasani Tokoh Legendaris Santri dan Rakyat Kebumen (Bag I)
Oleh : Sayyid Faukhan Fawaqi al-Hasani Dalam edisi kali ini, penulis akan mencoba menyajikan biografi ringkas dari Syaikh…

2. Syaikh as-Sayyid Mahfudz bin Abdurrahman al-Jailani al-Hasani Tokoh Legendaris Santri dan Rakyat Kebumen (Bag II)
(KH ‘Ali Ma’shum Krapyak, Yogyakarta berkata, “Mencari figure sekaliber as-Syaikh as-Sayyid Mahfudz bin Abdurrahman al-Jailani al-Hasani pada zamannya sangatlah…

3. Syaikh as-Sayyid Mahfudz bin Abdurrahman al-Jailani al-Hasani Tokoh Legendaris Santri dan Rakyat Kebumen (Bag III)
(KH Maemun Zubaer, Sarang, Rembang berkata, “Pada saat itu saya berusia sekitar 16– 17 tahun….

4. Syaikh as-Sayyid Mahfudz bin Abdurrahman al-Jailani al-Hasani Tokoh Legendaris Santri dan Rakyat Kebumen (Bag IV)
Mendirikan badan kelasykaran AOI AOI adalah singkatan dari Angkatan Oemat Islam Indonesia. Merupakan sebuah badan kelasykaran…

5. Syaikh as-Sayyid Mahfudz bin Abdurrahman al-Jailani al-Hasani Tokoh Legendaris Santri dan Rakyat Kebumen (Bag V)
Dalam bagian terdahulu telah diungkapkan 4 point tujuan AOI yang termaktub dalam Anggaran Dasar-nya. Selanjutnya pada…

Desain: Mohammad Amin Fitriyadi
#alkahfisomalangu
#kebumen