Secangkir Kopi dan Membangun Ide Menulis

by
Indonesia

Di ujung senja, aku bertemu Kang Tedy wartawan Reuter dan jurnalis freelancer (penulis bebas) surat kabar ibu kota.Secangkir kopi langsung diseruput olehnya, tanpa basa-basi. Tiba-tiba ia berkata, “Bang, ini majalah apa, kok warnanya norak? Isinya apa?”

“Allah segitu saja kok repot,” kataku singkat.

Apalagi koran Jakarta ada warna dominan tidak menyejukan, menyala dan mencolok mata tajam, kesannya berani dan galak, tapi isinya ternyata pengumuman semua.

“Ha..ha inini pertama kali aku nulis di majalah BIAS, sekolah. Isinya biasa saja,” Kataku lagi. “Eh, saya kirim se Indonesia, sampeyan sudah pernah baca belum?”

“Kenapa harus plural? Tiga parpol saja cukup?

Reformasi masa memakan bapaknya? Memakan moyangnya? Menyesal??? Memang “cek kosong” kekuasaan ini. Siapa yang kuat, ia akan menang, sebagaimana hukum rimba.)

Agar kuat, maka harus terorganisir, punya pemikiran (visi dan misi) serta modal.

Perampok dan pencopet juga terorganisir. Ada filmnya..bagus banget tuh.

Lepas tahun 2000-an, kran demokrasi dibuka, banjir kebebasan penuh euforia, kemerdekaan pers dijamin, kemerdekaan berpendapat dilindugi undang-undang, termasuk kemerdekaan perpolitik. Parpol tumbuh subur, bak cendawan di musim hujan.

Apakah ini akan dibiarkan begitu saja? Hukum alam akan menyeleksi siapa yang mampu bertahan di dunia yang penuh persaingan. Laju informasi mengalir deras, tiada satupun mampu membrangusnnya. Karena kebebasan dijamin undang-undang. Tentu kebebasan yang bertanggung jawab. Kalau tidak, bukan kebebasan lagi tapi kebablasan!

Tentu tidak, informasi harus penting, jujur, akurat dan memenuhi standar keingintahuan pembaca. Lepas dari itu akan muncul opini publik,-perbincangan pembaca, para komentator berita. Beragamlah tanggapannya, menjadi standar subjektivitas ataukah objektivitas?

Tentu beragam pertimbangan dalam menentukan grand tema dalam membuat berita dari sudut pandang penulis , baik standar psikologis, psikografis (kedekatan pembaca) dan lain sebagainya.

Disinilah berita-berita itu dikemas, menjadi keshahihan dalam memperolehnya dan dikemas menjadi produk yang cantik dan menimbulkan minat keingintahuan pembaca serta kalau bisa menjadi rujukan sosial dalam menentukan setiap keputusan. Pokoknya, tai kucing, jadi serasa rasa coklat.

Komentar