Etika Jurnalis Terhadap Korban Bunuh Diri

no image
no image

Jurnalis sebagai pencari berita mengemban tugas mulia untuk menyajikan informasi kepada warga masyarakat.

Namun etika seorang jurnalis sebagai insan ciptaan Tuhan seharusnya memberikan informasi berdasarkan hati nurani bukan berdasarkan tranding, viral semata.

Kemarin, Sabtu (27/4) Cilacap dan dunia maya dihebohkan dengan pemberitaan seorang wanita berusia 32 tahun, warga dari sebuah kecamatan maos, cilacap melakukan tindakan bunuh diri dengan membaea balitanya yang baru berusia 4 bulan.

Wanita tersebut bunuh diri dengan cara terjun dari atas jembatan sungai serayu dengan bayinya.

Dalam kejadian ini, berita tersebut sangat viral di linimasa facebook, youtube, bahkan di search engine seperti google, berita ini juga dipublish oleh media-media besar ternama.

Namun kami dari Cilacapterkini.online sangat miris dengan berita yang viral ini, etika seorang jurnalis yang juga manusia seharusnya memiliki rasa melas (kasihan) dan bukan hanya mencari berita supaya viral. Bahkan di facebook, youtube ada foto jenazah tanpa blur, bahkan media ternama yang memiliki televisi mempublikasi foto dan video KTP tanpa blur.

Hal ini tentu saja membuat kami sangat miris dan resah dengan hal ini.

Bahkan sejumlah netizen juga ikut mengomentari peristiwa ini. Ada yang mengatakan itu jurnalis baru, namun kami tidak bisa hanya menyalahkan seorang jurnalis karena media dan perusahaan dari media tersebut layak untuk disalahkan.

Bagaimana konten tanpa blur bisa lolos produksi, tentu saja media seperti ini hanya mementingkan berita tranding, hot dan viral, seperti tidak punya hati.

Semoga kedepan media-media di indonesia dalam menayangkan berita seperti bunuh diri lebih mementingkan kemanusian, sebab korban bunuh diri bukanlah teroris yang diungkap secara detail hingga ke foto wajah.


Penulis : hasan
Editor : bayu

Author Info

Jumlah Artikel 210 Pos