oleh

Mengembangkan Wisata Kuliner Purbalingga

PURBALINGGA, Cilacap.info – INDONESIA memiliki segudang potensi wisata kuliner nusantara yang bisa dikembangkan. Sayangnya, akhir-akhir ini pengembangan pariwisata lebih terfokus pada destinasi alam atau buatan. Sementara potensi kuliner daerah yang tidak kalah luar biasa masih diabaikan dan dianggap remeh.

Padahal ada daerah di Indonesia yang memiliki keterbatasan destinasi wisata. Di sisi lain, potensi kuliner daerah sangat luar biasa, tapi tak pernah dikembangkan apalagi disentuh, jadi seolah-olah pariwisata ya alam, atau buatan saja.

Wisata kuliner di seluruh Indonesia selalu diremahkan. Dicontohkan Semarang. Ibu Kota Jawa Tengah itu memiliki destinasi wisata yang terbatas. Namun jika daftar kuliner di Semarang diberikan pada wisatawan untuk dicoba satu per satu, saya yakin, tiga hari tiga malam pun wisatawan tidak akan selesai mencicipi makanan yang ada.

Masakan Nusantara, memiliki ciri khas yang berbeda di masing-masing tempat. Keberagaman kuliner ini menjadi potensi luar biasa yang bisa dikembangkan untuk mendukung sektor pariwisata. Misalkan, antara masakan Bali dan Yogyakarta saja berbeda. Masakan Yogyakarta cenderung manis, sedangkan masakan Bali cenderung asin dengan bumbu rempah yang khas.

Di Bali orang selalu masak pakai jahe, cengekeh, dan pangle. Itu yang memberikan aroma berbeda. Jauh berbeda dari masakan Jawa. Coba lihat saja Mangut dan Betutu, kan jelas beda. Karena itu, kuliner nusantara tidak bisa maju di negeri sendiri, karena selama ini masih diremehkan oleh stakeholder pariwisata Indonesia.

Kondisi ini pun semakin diperparah dengan kebiasaan sekolah tata boga Indonesia yang malah mengajarkan masakan asing, utamanya Prancis. Sementara masakan lokal sendiri tidak pernah dipelajari.

Akhirnya disuruh bikin soto tidak bisa. Disuruh bikin pecel malah cemplak (tidak berasa). Berkali-kali saya disuruh mencicipi makanan Indonesia tidak ada benar, padahal di Bali ada orang asing yang benar-benar pandai memasak masakan Indonesia.

Setiap daerah pasti mempunyai potensi wisata yang ada. Bahkan tak hanya itu saja, potensi alam, budaya, kesenian dan sebuah peninggalan terkadang perlu kita perhatikan, seiring karena hal-ha tersebut saling melengkapi elemen dalam wisata.

Membiarkan saja, itu tidak akan berarti akan membuat sebuah perubahan. Adapun cara-cara mengembangkan Potensi Wisata Kuliner daerah dengan : mengenali dulu potensi yang ada secara bersama, mengajak ( seluruh anggota / warga ) agar mereka sadar akan potensi yang mereka punyai, mengkomunikasikan dengan beberapa pihak terkait, mempublikasikan baik secara langsung ataupun dengan media, mengelola dan management oleh orang-orang yang memahami / sadar akan kebutuhan wisata, melakukan monitoring terhadap segala sesuatunya.

Nah, itu dia sebuah cara untuk mengembangkan potensi wisata daerah, berdasarkan ”quot dari para pendiri wisata daerah ”.

Potensi Purbalingga

Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah berada di antara cekungan-cekungan dari beberapa rangkaian pegunungan yang ada di sekitarnya. Di sebelah Utara merupakan rangkaian pegunungan dari Gunung Slamet dan Dataran Tinggi Dieng, sedangkan bagian selatan merupakan Depresi Serayu yang dialiri oleh dua sungai besar yaitu kali dan anak sungainya yaitu Kali Pekacangan.

Baca Juga :   Bak Hewan, Seorang Ayah tega Cabuli Anak Tiri di Purbalingga

Dari Kali Pekacangan ini bertemu anak Sungai Klawing dan akhirnya bermuara menjadi satu menjadi Sungai Serayu. Saat ini potensi batu akik Sungai Klawing sedang booming, setelah pesona batu pancawarna dan Nagasui menjadi juara internasional di Majalah Gamstone.

Selain potensi batu Pancawarna Klawing, ada juga potensi batu akik bahkan batu warna yang ada di Kecamatan Karanganyar, Mrebet, Karangmoncol, dan Rembang serta sepanjang Sungai Pekacangan.

Ibu Kota Kabupaten Purbalingga yakni Purbalingga yang berada di sekitar 21 km sebelah Timur Laut Purwokerto. Di Kabupaten Purbalingga ada terdapat banyak industri, seperti industri bulu mata dan wig serta industri knalpot sebagai alternatif suku cadang murah.

Selain terdapat banyak industri, ada pula beberapa tempat wisata di Purbalingga yang terkenal sampai keluar daerah Purbalingga semacam Objek Wisata Owabong (Bojongsari), Gua Lawa (Karangreja), Monumen Jendral Sudirman (Rembang), dan lain-lain.

Namun selain objek wisata yang sudah menasional itu, ada potensi wisata yang belum digarap secara serius, yakni wisata kuliner khas Purbalingga. Menggagas lahirnya wisata kuliner di Purbalingga dengan dikemas berbagai macam keunikan dan keunggulan (baik kompetitif dan defiratif) yang ada, adalah salah satu pekerjaan rumah pemerintah untuk dapat membuka lapangan kerja baru di Purbalingga.

Wisata kuliner juga akan dapat menyentuh langsung perekonomian rakyat Purbalingga. Maka, wisata kuliner adalah gagasan yang harus dipikirkan dengan baik oleh seluruh stakeholder di Purbalingga.

Wisata kuliner menjadi semakin diminati banyak orang. Menggagas wisata kuliner di Purbalingga dapat mengangkat lebih tinggi lagi destinasi wisata di Purbalingga. Di samping itu, wisata kuliner juga dapat menarik para wisatawan baik lokal maupun nasional bahkan internasional. Hal tersebut tentu akan membawa dampak yang baik bagi perekonomian masyarakat Purbalingga. Wisata kuliner juga akan berakibat pada tumbuh dan berkembangnya ekonomi masyarakat Purbalingga.

Adalah dipandang perlu untuk menakar potensi dan promosi kuliner (makanan) lokal Purbalingga sehingga mampu menyedot wisatawan baik lokal, nasional maupun internasional untuk mencicipi panganan lokal. Makanan yang paling dikenal di Purbalingga adalah mendoan, ini adalah makanan yang dibuat dari tempe kedelai.

Istimewanya, pembuatan mendoan diproses mulai dari saat membuat tempenya, jadi mendoan tak bisa dibuat dari sembarang tempe. Tempe mendoan adalah tempe tipis yang dibuat melebar/meluas. Untuk membuat mendoan, tempe ini diberi tepung yang dibumbu garam, ketumbar dan daun bawang. Digoreng sebentar sehingga masih terasa lunak, bila digoreng agak lama akan menjadi tempe “muledi” yang sedikit agak liat. Lebih lama lagi sampai kering maka disebut tempe “keripik”.

Baca Juga :   5200 Botol Miras dan 7000 Petasan Diamankan Polres Purbalingga

Purbalingga juga dikenal sebagai tempat pabrik permen Davos Slamet, yang memproduksi permen Davos sejak tahun 1931, permen ini sangat dikenal sejak zaman dulu. Oleh-oleh istimewa lainnya apalagi kalau bukan kacang mirasa. Penampilannya bolehlah gosong dan mirip kacang kulit khas pedesaan. Tapi rasanya? Banyak orang ketagihan untuk membelinya dan membawanya sebagai oleh-oleh.

Berbeda dengan kacang kulit pabrikan, kacang mirasa dibuat dengan cara merendamnya pada air sehari semalam. Keesokan harinya dilumuri garam dan dibiarkan dalam bak selama sehari semalam juga. Besoknya baru direndam air lagi selama sehari semalam. Kemudian dijemur di bawah sinar matahari, baru setelah kering disangrai dengan pasir. Jadilah kacang khas Purbalingga yang renyah dan ‘kemlithik’.

Sroto (nama sebutan soto untuk wilayah Purbalingga dan Banyumas) juga terkenal. Perbedaan mendasar sroto dengan soto pada umumnya terletak pada sambalnya yaitu sambal kacang yang pedas legit, menggunakan ketupat bukan nasi, serta ditaburi suwiran daging dan remasan krupuk. Beda Sroto Sokaraja dengan Sroto Purbalingga juga bisa dilihat dari kerupuknya. Umumnya Sroto Sokaraja menggunakan krupuk warna warni, sedangkan Sroto Purbalingga menggunakan krupuk merah putih.

Sroto Purbalingga yang kesohor terutama sroto kriyiknya. Di sini setelah daging ayam disuwir untuk sroto maka “rongkong”nya (tulang dada) digoreng kering dan disajikan sebagai lauk sroto. Rasanya garing dan kriyik-kriyik, itu sebabnya disebut sroto kriyik.

Selain sroto kriyik, ada juga sroto so yang tak kalah nikmat. Sroto So ini mirip pada umumnya sroto khas Purbalingga, hanya saja ada tambahan daun melinjo atau yang biasa disebut ‘so’ yang menambah cita rasa unik makanan berkuah ini, lokasinya sekitar 4 KM dari pusat kota yaitu berada di desa Bojong. Sroto khas lainnya biasa disebut sesuai lokasinya, seperti Sroto Bancar dan Sroto Jatisaba.

Ada lagi makanan khas yang sering diburu orang ketika bertandang ke Purbalingga, yaitu buntil. Buntil ini dibuat dari kukusan daun keladi, daun pepaya atau daun singkong yang diisi parutan kelapa dicampur ikan teri, diberi bumbu bawang, cabai, lengkuas, asam, garam, dan sebagainya. Cara penyajiannya, buntil disiram kuah pedas berbahan utama santan dan cabai merah, lengkap dengan cabai rawit dibiarkan utuh, tidak diiris. Sangat nikmat dimakan saat hangat dengan nasi yang baru tanak.

Untuk oleh-oleh, sebaiknya beli buntil yang tidak bersantan, karena bisa tahan sampai seminggu. Buntil hampir selalu tersedia di setiap pasar pagi di berbagai pelosok Kabupaten Purbalingga. Namun yang paling terkenal Buntil Pasar Kutasari. Untuk mendapatkan semangkuk buntil di Pasar Kutasari, orang rela mengantre sejak pagi.

Baca Juga :   Parah, Situasi Pandemi dan Ramadan Malah Digunakan Remaja Purbalingga Konsumsi Miras dan Balapan

Sate Blater juga bisa menjadi menu pilihan lain yang khas dari Purbalingga. Disebut Sate Blater karena asal muasal sate ini dari Desa Blater, Kecamatan Kalimanah. Meski sama-sama sate ayam, Sate Blater sedikit berbeda dengan sate madura atau sate ayam lainnya. Perbedaannya terletak pada cara memasaknya.

Jika pada umumnya sate dibakar saat daging masih mentah, kalau sate Blater sebelum dibakar harus direndam dalam bumbu rahasia racikan khas orang-orang Desa Blater, dan saat dibakarpun masih berkali-kali dilumuri bumbu yang sama. Sehingga cita rasanya memang sangat terasa hingga gigitan terakhir. Proses memasak yang berbeda, membuat sate ini juga kuat disimpan hingga tiga hari. bahkan jika disimpan di lemari pendingin bisa lebih lama lagi.

Selain makanan, Purbalingga juga dikenal dengan es duriannya yang selalu membuat kangen. Meskipun saat ini banyak yang meniru, tidak ada yang menandingi rasa khas es durian Tugu Bancar racikan Pak Kasdi. Di dalam semangkuk es durian, daging buah durian disiram gula merah cair dan santan kelapa segar, ditambah serutan es batu hingga menggunung.

Tak berhenti sampai di situ, gunungan es durian itu masih disiram susu kental manis dan sesendok cokelat panas.
Ada juga kue Nopia, asalnya juga dari Purbalingga, sekitar tahun 50-an keluarga Ting Lie Liang memulai usaha bikin penganan nopia yang juga disebut telor gajah. Bentuknya putih dari tepung terigu berisi gula Jawa. Ada juga nopia mini yang biasa disebut mino. Baik nopia maupun mino tersedia dalam berbagai rasa, seperti rasa durian, rasa nana, rasa stroberi dan yang rasanya paling unik rasa bawang merah.

Jajan makanan tradisional lainnnya adalah wajik dan jenang Kedungjati. Sekitar 16 kilometer dari pusat kota ke arah timur berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara, tepatnya di Desa Kedungjati Kecamatan Bukateja Kabupaten Purbalingga. Panganan yang terbuat dari campuran beras ketan, gula kelapa dan parutan gula kelapa bercita rasa manis ini juga bisa menjadi oleh-oleh untuk keluarga.

Masih di Kecamatan Bukateja, 1,5 kilometer arah selatan, tepatnya dari perempatan Brak Kembangan ke barat ada Ondol Teya, Desa Tidu. Ondol yang terbuat dari parutan ketela dicampur bumbu rempah dan dibentuk bulatan sebesar bakso kemudian digoreng garing ini banyak diminati oleh masyarakat, selain murah, enak dan gurih juga bisa tahan sampai seminggu, pantas untuk dibawa sebagai oleh-oleh khas dari Purbalingga.(*)

* Oleh: Aji Setiawan