Kisah Rawa Baya di Cipari

cerita rakyat rawa baya di cipari
cerita rakyat rawa baya di cipari

Kisah ini terjadi pada zaman dahulu ketika Indonesia masih dalam kekuasaan penjajah Belanda. Mereka sangat kejam kepada penduduk kampung, terutama pada laki-laki dewasa. Penjajah Belanda menerapkan kerja rodi yang menguras tenaga laki-laki dewasa.

Penjajah Belanda tidak akan membiarkan mereka bebas tanpa pekerjaan. Siang dan malam tentara Belanda mengecek pekerjaan masyarakat. Apabila melihat ada orang yang menganggur, mereka tidak segan-segan menyiksanya. Tentara Belanda selalu mengadakan patroli. Banyak warga kampung yang ingin bertandang ke kampung lain sekadar mencari bahan pangan atau pun menengok saudaranya dihantui rasa takut karena patroli tersebut.

Diceritakanlah pada saat itu ada sebuah kampung yang letaknya memanjang dari arah timur ke barat, luasnya kira-kira 2 km2 yang dihuni oleh 5—10 kepala keluarga saja. Kebanyakan anak-anak yang telah dewasa dipekerjakan di luar kampung. Sudah tentu hal ini membuat kampung itu sangatlah sepi. Terdapat rawa yang mengelilingi kampung. Tumbuhan lebat hidup subur di sekitar rawa hingga membuat rawa tampak rimbun dan menyeramkan.

Keberadaan rawa tersebut membuat kampung makin senyap sehingga perekonomian masyarakat tidak berkembang dengan baik karena hanya mengandalkan sektor pertanian. Ditambah lagi jalur lalu lintas untuk keluar masuk kampung hanya ada satu jalan, yaitu melalui rawa tersebut.

Masyarakat merasa takut menyeberangi rawa ini sehingga kampung ini tidak banyak dikunjungi orang. Hanya orang-orang yang memiliki kepentingan yang memberanikan diri melewati rawa ini. Di atasnya pun banyak terdapat teratai dan enceng gondok yang tumbuh. Suara-suara hewan liar dan embusan angin menghidupkan suasana yang sunyi dan sepi membuat orang-orang bergidik saat melewatinya.

Selain melewati rawa itu, sebenarnya masih ada jalan lain yang mungkin dapat digunakan. Namun, jalan itu hanya seperti jalan tikus yang sempit. Kanan kiri jalan sempit itu masih ditumbuhi semaksemak belukar yang sangat rimbun. Jika menuju ke arah timur, jalan tersebut akan sampai ke Kecamatan Sidareja. Jika ke arah barat, jalan itu akan sampai ke Desa Gayamsari, Kecamatan Wanareja. Sebelah utara dan selatan jalan itu hanyalah rawa-rawa dan persawahan yang masih bersemak dan ditumbuhi oleh tanaman liar.

Tidak hanya tanaman liar yang membuat jalan itu sangat menyeramkan, warga takut melewatinya karena di dalam semak-semak belukar itu masih banyak binatang buas, seperti: ular, biawak, babi hutan, musang, luwak, kelabang, dan lain sebagainya. Tak jarang binatang-binatang buas yang merasa terganggu menyerang orang yang melewatinya. Suara burung gagak sering terdengar menambah suasana sekitar jalan itu makin mencekam.

Air rawa di kampung tersebut sangatlah tenang. Rawa yang ditumbuhi tanaman air menambah rasa takut orang yang akan melewatinya. Namun, warga lebih memilih jalan ini untuk lalu lintas ke luar kampung dibandingkan dengan jalan tikus yang sempit dan bersemak karena lebih leluasa. Di tengah-tengah rawa tersebut terdapat sebuah kedung. Kedung adalah lubang yang lebar dan dalam, seperti palung.

Penduduk desa tersebut menamakannya Kedung Jero, yang artinya lubang besar dan dalam. Nama ini diberikan untuk menggambarkan keadaan kedung itu. Di samping itu, dimaksudkan juga untuk memberi peringatan kepada orang yang melewatinya.

Banyak cerita yang tersimpan di balik Kedung Jero ini. Cerita ini telah banyak tersebar dan diketahui oleh masyarakat kampung. Konon lubang tersebut dihuni buaya-buaya. Terdapat sepasang buaya yang menyeramkan sehingga menambah takut dan miris mereka yang akan melewati rawa tersebut.

Buaya-buaya itu bukanlah buaya biasa. Apabila ada orang yang mengganggu buaya-buaya itu, kemalangan dapat mengganggu orang tersebut. Orang-orang yang melewati rawa tersebut sangat berhati-hati agar tidak mengganggu buaya-buaya itu.

Dikisahkan, pada suatu hari ada seorang penduduk yang bernama Kartanom akan bertandang ke rumah saudaranya yang berada di Desa Gayamsari. Kartanom ingin mengabarkan pada saudaranya yang ada di Gayamsari mengenai pernikahan putrinya. Karena dirasa sangat penting, ia ingin mengabarkannya secara langsung. Akan tetapi, hatinya merasa bimbang dan was-was memikirkan betapa sulitnya jalan untuk sampai ke Desa Gayamsari. Tentu saja Kartanom harus melewati rawa tersebut.

Desas-desus Kedung Jero telah sampai di telinganya dari obrolan-obrolan warga sekitar. Sebenarnya ia telah mengetahui jalan alternatif selain melewati rawa tersebut. Ia telah mendengar kabar itu pula dari tetangga-tetangganya. Kartanom bimbang harus memilih yang mana. Ia lalu meminta pertimbangan pada tetangga-tetangganya. Setelah mengetahui dan mempertimbangkan baik dan buruk keduanya, Kartanom memilih un tuk melewati jalur air, bukan jalur darat. Ia lalu mempersiapkan sarana transportasi guna melewati rawa itu.

Saat ia siapkan di atas rawa, aliran air rawa mulai memasuki sampannya. Beruntung hal ini segera ia ketahui. Ia lalu segera memperbaiki sampannya. Setelah beberapa hari memperbaiki, akhirnya sampannya tidak bocor seperti sebelumnya.

Dimulailah perjalanan Kartanom dengan sampannya. Sebelum itu, ia tampak ragu-ragu saat melangkahkan kaki menaiki sampan. Namun, semangatnya akan kabar gembira yang ingin ia sampaikan, meluluhkan rasa takutnya. Dengan tenang Kartanom mengayuh sampannya. Satu, dua dayungan ia ayunkan. Suasana sepi dan semilir angin merasukkan perasaan was-was kembali dalam hatinya. Di balik ketenangannya dalam mengayuh, tersimpan gemuruh di hatinya.

Tekadnya hanya satu tujuan, yaitu ia ingin segera sampai dan bertemu dengan saudaranya. Selang beberapa lama Kartanom sudah mendekati Kedung Jero. Perasaan takut dan was-was semakin bergemuruh di hatinya. Betapa tidak, ia akan melewati kedung yang konon dihuni oleh buaya. Sampan pun terus berjalan perlahan mendekati tengah-tengah rawa hingga tepat di daerah Kedung Jero. Betapa kaget dan takutnya Kartanom ketika melihat dan mendengar dengan keras suara ceburan air.

Airpun berbuih diiringi suara “Oekoek”. Suara itu terus terdengar berulang-ulang. Kondisi mencekam ini membuat bulu kuduk Kartanom berdiri. Rasa takut luar biasa menyelimuti hati Kartanom. Ia gugup dan tangannya gemetar. Gemuruh dalam hatinya semakin kuat, tubuhnya menjadi gemetar. Sampan pun terombang-ambing.

Satu, dua buaya bermunculan. Buaya-buaya itu sibuk dengan ak tivitasnya tanpa menghiraukan kehadiran Kartanom. Banyaknya buaya yang muncul membuat nyali Kartanom semakin ciut. Belum hilang rasa kaget dan takutnya setelah melihat buaya-buaya itu, ia melihat sepasang buaya putih berada di antara buaya-buaya lain. Buaya putih itu sedang bersenda gurau dengan teman-temannya. Namun, sepasang buaya putih itu tiba-tiba bergerak mendekati sampan Kartanom yang bergerak perlahan mendekati Kedung Jero. Kartanom semakin pucat. Ia terpaku.

Angin bertiup kencang diiringi kepulan asap putih membumbung tinggi mengelilingi sepasang buaya putih itu. Kemudian, dari kepulan asap itu menjelmalah sepasang suami istri yang berpakaian selayaknya bangsawan. Kartono panik melihat hal ini. Ia semakin menggigil.

Lelaki berpakaian bangsawan itu mendekat ke Kartanom. Dengan ramah dan bijak, lelaki tersebut berkata.

“Hai manusia, jangan takut! Kami juga sepertimu yang tidak ingin diganggu dan mengganggu kalian. Namun, jika kalian para manusia mengganggu ketenangan kami, sudah tentu kami merasa terusik. Jangan heran bila kami para buaya akan menyerang jika merasa terganggu. Bahkan, mungkin akan ada yang menjadi korban. Kebetulan kau melewati daerah atau istana kami. Kami para buaya ingin mengajak damai pada kalian untuk saling menghormati dan menjaga wilayah masing-masing, terutama di rawa dan Kedung Jero ini.”

Kartanom tidak dapat berkata-kata. Kerongkongannya terasa kering, mulut pun terbungkam. Ia hanya dapat menganggukkan kepala yang ia ayunkan dengan cepat karena rasa takutnya yang begitu besar. Lelaki berpakaian bangsawan itupun berkata lagi.

“Pergilah dengan tenang! Kami tidak akan menghalangi perjalananmu dan sampaikan pesan ini pada saudaramu yang lain!”
Kartanom pun mengangguk lagi dengan cepat. Mendengar pesan tersebut, rasa takut di hatinya perlahan menghilang. Ia menarik napas panjang dan mengembuskannya lagi hingga rasa was-wasnya mereda. Udara sejuk menenteramkan hatinya.

Sepasang suami istri berpakaian bangsawan itu pun kembali menjelma ke wujud semula, yaitu sepasang buaya putih. Dengan perlahan sepasang buaya putih itu kembali ke kawanannya di dekat Kedung Jero. Sepasang buaya putih itu disambut oleh kumpulan buaya-buaya itu. Ia lalu menyadari, bahwa ternyata sepasang buaya putih itu adalah raja dan ratu penghuni Kedung Jero.

Kartanom masih menyisakan rasa kaget dan heran di hatinya dengan kejadian tadi. Ia pun tersadar dan kembali mengayuh sampannya untuk melanjutkan perjalanan. Ia melewati kedung Jero tersebut dengan tenang walaupun banyak buaya di sana.

Akhirnya, Kartanom sampai ke tepi rawa dengan selamat. Bergegas Kartanom menambatkan sampannya, lalu berjalan menuju Desa Gayamsari tempat tinggal saudaranya. Kartanom disambut dengan ramah oleh saudaranya. Kehadiran Kartanom pasti membawa kabar penting. Sebelum mengabarkan tentang pernikahan putrinya, Kartanom menceritakan pengalaman yang baru saja dialaminya.

Saudara Kartanom pun merasa lega, Kartanom selamat sampai kediamannya. Selanjutnya, Kartanom kembali kepada tujuan awalnya, yakni menyampaikan kabar bahagia bahwa putrinya akan melangsungkan pernikahan.

Kartanom mengundang saudaranya agar dapat hadir dalam upacara pernikahan tersebut. Saudara Kartanom sangat bahagia mendengar berita ini dan menyanggupi datang. Kartanom menginap sehari di kediaman saudaranya. Setelah itu, ia pun kembali ke desanya.

Perjalanan keduanya melewati rawa, ia jalani dengan tenang hati tanpa rasa was-was lagi.
Ia juga mendapat dari cerita saudaranya di Gayamsari bahwa menurut penuturan warga kampung yang lain, mereka sering melihat buaya-buaya datang dan pergi dari Kedung Jero tersebut. Namun demikian, merekapun dapat hidup tenang tanpa was-was akan diserang oleh buaya karena mereka berprinsip tidak akan mengganggu ketenangan hidup buaya tersebut. Sampai saat ini tidak ada korban penyerangan buaya tersebut.

Setelah Indonesia merdeka, tokoh masyarakat kampung menamakan kampung tersebut dengan sebutan Rawa Baya karena asal usulnya adalah rawa yang dihuni oleh buaya. Sekarang buayanya sudah tidak terlihat lagi. Rawa tersebut sudah mulai menjadi daratan serta persawahan yang subur. Sementara, kampung yang dahulu sunyi senyap sekarang sudah berubah menjadi perumahan yang padat dan persawahan yang menjadi tumpuan perekonomian warga Rawa Baya tersebut. Kampung Rawa Baya berkembang dengan pesat dengan didirikannya sekolah-sekolah, baik negeri maupun swasta.

Musala-musala sudah didirikan. Jalan-jalan sudah diperbaiki dan diaspal. Semuanya menambah semarak kampung Rawa Baya.
Atas musyawarah desa dan tokoh masyarakat, kampung Rawa Baya diganti menjadi Dusun Sidadadi yang termasuk di wilayah Desa Mulyadadi, Kecamatan Cipari, Kabupaten Cilacap. Namun, daerah yang tadinya rawa dan yang terdapat Kedung Jero masih dikenal dengan sebutan Dukuh Rawa Baya sampai dengan sekarang.

Copyright: Cerita Rakyat
Balai Bahasa Jawa Tengah
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.


Author Info

Berikan Komentarmu