Asal Usul Dusun Mertangga Jetis Nusawungu Cilacap

pantai jetis nusawungu cilacap
pantai jetis nusawungu cilacap

Dusun Mertangga merupakan sebuah wilayah yang terletak di Desa Jetis, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap.

Pada suatu waktu daerah di Jawa diguyur hujan yang sangat lebat. Di antar badai dan petir terjadi sebuah peperangan sengit antara penjajah Belanda dan orang-orang pribumi. Pasukan pribumi dipimpin oleh Pangeran Diponegoro. Puncaknya, pasukan Belanda mengerahkan kekuatan besar sebanyak 23.000 serdadu. Peperangan tersebut dinamakan Perang Diponegoro yang berlangsung sekitar lima tahunan, yakni pada kurun 1825 sampai dengan 1830.

Di tengah perang tersebut ada dua orang prajurit Diponegoro yang pergi melarikan diri dari peperangan. Namun, kepergian mereka diketahui oleh pasukan Belanda. Mereka berdua dikejar-kejar oleh pasukan Belanda. Dua orang prajurit Diponegoro yang pada akhirnya diketahui namanya Suryonegoro dan Cokronegoro tersebut terus berlari ke arah barat dan berhenti di sebuah daerah untuk bersembunyi. Daerah tersebut bernama Ayah. Beruntunglah kakak beradik itu karena pengejaran prajurit Belanda tidak menemukan keberadaan mereka berdua.

Setelah keadaan dirasa sudah aman, mereka menjadikan daerah Ayah sebagai tempat tinggal mereka. Mereka mulai membangun Ayah sedikit demi sedikit dengan bergotong-royong bersama warga di wilayah Ayah tersebut. Meskipun warga di wilayah Ayah tidak banyak, tetapi mereka semua giat bekerja. Dengan berjalannya waktu, Ayah menjadi daerah yang maju dan dikenal banyak orang.

Berita itu pun terdengar sampai di Kerajaan Mataram. Melihat keadaan tersebut, Suryonegoro berniat mendirikan Kadipaten Ayah.
Untuk mendirikan sebuah kadipaten tentunya harus mendapatkan restu dari Raja Mataram sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di Tanah Jawa. Oleh karena itu, Suryonegoro pergi ke Mataram untuk menghadap sang Raja, memohon restu hendak mendirikan Kadipaten Ayah.

“Ampun, Baginda Raja. Maksud kedatangan hamba ke sini adalah ingin memohon restu Paduka. Hamba hendak mendirikan sebuah kadipaten di wilayah Ayah”, pinta Suryonegoro dengan sembah hormat kepada raja Mataram.
Sang Raja yang memang sudah mengetahui maksud kedatangan Suryonegoro hanya membalas dengan senyuman khas berkharisma. Akhirnya, setelah diam beberapa saat beliau pun menjawab dengan suara yang sangat berwibawa.

“Baiklah, Suryonegoro. Aku izinkan engkau untuk membangun Kadipaten Ayah,” jawab sang raja.
Kemudian, atas izin yang telah diberikan sang raja, akhirnya Ayah menjadi sebuah kadipaten yang dipimpin oleh Suryonegoro. Setelah menjadi adipati, Suryonegoro selalu menjalankan pemerintahan dengan baik. Setiap tiga puluh enam hari sekali di Kerajaan Mataram diadakan acara pisowanan agung. Suryonegoro pun selalu hadir dalam acara tersebut.

Namun, suatu ketika sudah beberapa kali acara pisowanan Adipati Suryonegoro tidak dapat hadir di Kerajaan Mataram. Entah berapa kali ia hanya mengutus adiknya, yakni Cokronegoro, untuk mewakili dirinya mengikuti acara pisowanan tersebut. Hal tersebut membuat sang raja menjadi sangat khawatir.

Raja bertanya kepada Cokronegoro.
“Mengapa sudah beberapa kali pisowanan Adipati Ayah tidak hadir di Kerajaan?” tanya sang raja.
Cokronegoro tidak mengemukakan alasan yang jelas akan ketidakhadiran sang kakak. Jawaban Cokronegoro ini semakin membuat sang raja menjadi khawatir.

“Sudahlah, pulanglah kau, Cokronegoro. Sampaikan pada kakakmu untuk menghadapku segera!”, perintah sang raja menyilakan Cokronegoro kembali ke Kadipaten Ayah.
Sesampainya di kadipaten, Cokronegoro menyampaikan pesan sang raja kepada Adipati Suryonegoro. Namun, sang adipati menjawab di luar dugaan Cokronegoro.
“Adi Cokronegoro, sampaikan saja kepada raja aku tidak akan pernah datang lagi ke Kerajaan”, ketusnya.

Cokronegoro terkesiap mendengar jawaban sang kakak. Ia menjadi sangat gundah dan resah, mengapa tiba-tiba sang kakak tidak mau lagi datang ke Kerajaan. Padahal ia sangat tahu kakaknya adalah sosok adipati yang sangat rajin, patuh, dan bertanggung jawab terhadap jabatan yang dipangkunya itu.

“Baik, Kakang Suryonegoro. Esok aku akan pergi lagi menghadap sang raja dan menyampaikan pesan kakang ini,” jawab Cokronegoro masih terliputi rasa gusar, tetapi tidak berani menanyakan alasannya apa.

Keesokan harinya, Cokronegoro berangkat ke Kerajaan dengan menunggangi kuda kesayangannya dan dikawal oleh beberapa prajurit pilihan. Sesampainya di Kerajaan Mataram ia diperkenankan menghadap sang raja.

“Ampun, Baginda raja. Hamba sudah menyampaikan pesan baginda kepada kakak hamba, Adipati Ayah, Kakang Suryonegoro”, lapor Cokronegoro sembari memberi salam takzim kepada sang raja.
“Lalu, mengapa ia tidak memenuhi perintahku, wahai Cokronegoro?” tanya sang raja dengan mengernyitkan dahinya.
“Ampun, Baginda. Kakak hamba tidak dapat hadir ke kerajaan. Beliau hanya menitipkan pesan bahwa beliau tidak akan pernah datang lagi ke Kerajaan,” jawab Cokronegoro dengan sedikit rasa takut dan gusar yang teramat sangat.
“Benarkah Suryonegoro berkata demikian?”, tanya sang raja mulai terlihat marah. Ia bangkit dari singgasananya.

Dengan suara bergetar, sang raja berkata dengan lantang, “Beraninya Suryonegoro melawan perintahku. Kalau begitu, pulangkah kau Cokronegoro. Sampaikan kepada kakakmu yang sombong itu, Aku memerintahnya datang ke sini dengan membawa sekotak wayang kulit. Kalau ia masih bersikukuh tidak mau hadir ke sini, ia akan aku berhentikan sebagai Adipati Ayah,” kata sang raja penuh amarah dengan menggeram.

Singkat cerita, Cokronegoro kembali ke Kadipaten Ayah dan menceritakan kejadian tersebut pada sang kakak. Ia pun menyampaikan amanat sang raja yang memerintahkan Suryonegoro menghadap membawa sekotak wayang kulit. Cokronegoro masih bingung, untuk apa raja memerintahkan kakanya membawa sekotak wayang kulit. Apa hubungannya dengan pemanggilan kakaknya itu? Seribu tanya berkecamuk di dada dan kepala Cokronegoro.

Adipati Suryonegoro bergeming. Ia tidak melaksanakan perintah raja tersebut. Ia masih saja mengutus adiknya untuk datang ke Kerajaan dan mengantarkan sekotak wayang kulit yang diminta sang raja. Cokronegoro semakin bingung dengan sikap sang kakak. Namun, didorong rasa hormat dan patuh terhadap sang kakak, Cokronegoro berangkat lagi ke Kerajaan Mataram dengan membawa sekotak wayang kulit permintaan sang raja.

“Apa? Ia masih tidak mau menghadapku? beraninya ia!” kata sang raja penuh amarah.
Sang raja lalu membuka kotak wayang kulit pesanannya. Setelah dibuka, sang raja terkejut karena ternyata isi kotak wayang tersebut hanyalah bahan pembuat wayang kulit, yakni welulang atau kulit sapi. Sang raja menjadi marah besar karena belia merasa Adipati Suryonegoro melecehkan perintahnya.

“Apa ini? Ini bukan wayang kulit pesananku. Mengapa hanya welulangnya saja. Beraninya kau Suryonegoro. Engkau telah berani melecehkan Raja Mataram! Sekarang juga engkau aku berhentikan sebagai Adipati Ayah” geram sang raja sembari mengayunkan welulang di tiang balairung Kerajaan Mataram.

Hadirin yang ada di tempat itu menghindar ketakutan melihat kemarahan sang raja. Setelah beberapa kali welulang disabetkan ke tiang, seketika itu welulang tersebut menjelma wayang kulit. Melihat keajaiban tersebut seisi Kerajaan terkejut.

“Apa yang terjadi? Mengapa semua berubah? Apa sebenarnya maumu, Suryonegoro?” teriak sang raja. “Cokronegoro, pulanglah kau dan sampaikan pesanku pada kakakmu, Suryonegoro. Ia sudah aku perintahkan berhenti menjadi Adipati Ayah. Ia harus angkat kaki dari Kadipaten Ayah!”, kata Sang Raja pada Cokronegoro.

“Baik, Paduka!” sembah Cokronegoro sembari meninggalkan Kerajaan Mataram.

Singkat cerita, Suryonegoro pergi meninggalkan Kadipaten Ayah. Ia pergi ke arah barat ke seberang sungai. Ia menyembunyikan diri di daerah tetangga dan ingin menetap di daerah itu. Pada saat itu, daerah tersebut masih berupa hutan belantara di pesisir sungai. Tidak ada penduduk, hanya ada binatang-binatang hutan dan sungai yang menemani Suryonegoro.

Ada monyet, burung, harimau, ikan, dan katak. Mereka semua seakan bersahabat dengan Suryonegoro. Setelah beberapa hari tinggal di hutan Suryonegoro berniat untuk membuka hutan menjadi sebuah tempat tinggal. untuk mengawalinya ia menanam pohon asem sebagai tanda atau lambang dari lingsem, yang artinya ‘malu’.

Suryonegoro mulai membangun daerah itu menjadi sebuah tempat tinggal dan diketahui banyak orang di berbagai tempat. Lama-kelamaan daerah itu menjadi banyak penghuninya. Karena dianggap pandai oleh masyarakat setempat, Suryonegoro diangkat menjadi pimpinan daerah dan menamakan daerahnya itu dengan nama Mertangga yang artinya ‘tinggal di daerah tetangga’.

Berkat jasa Suryonegoro daerah tersebut menjadi ramai dan semakin maju. Letaknya strategis di pinggir sungai sehingga memudahkan transportasi rakyat. Selain itu, rakyat juga memanfaatkan sungai sebagai tempat mencaari nafk ah.

Masyarakat makin luas dan berkembang. Akhirnya, mereka menamakan daerahnya dengan nama Desa Jetis yang berasal dari kata mathis yang artinya ‘mathuk atau strategis’. Namun, di tengah pesatnya desa, Suryonegoro men inggal dunia dan dimakamkan di Desa Jetis, tepatnya di pinggir sungai. Hingga saat ini makam beliau masih dapat dilihat di daerah Jetis.

Suryonegoro membuka hutan untuk membuat tempat tinggal.

Untuk mengenang jasa-jasa beliau, masyarakat setempat mengadakan suatu kegiatan yang dinamakan sedekah bumi yang dilaksanakan di depan makam Suryonegoro setiap satu tahun sekali. Lebih tepatnya setiap selesai panen raya masyarakat Desa Jetis mengadakan sedekah bumi dengan menyembelih seekor kerbau.

Kemudian, pada malam harinya masyarakat mengadakan pertunjukan seni budaya daerah yang disebut lengger. Konon, pertunjukan tersebut harus lengger tidak boleh jenis seni yang lain. Acara ini dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat terhadap hasil bumi yang telah memberi kehidupan untuk mereka. Mereka mendapat sandang, pangan, dan papan.

Copyright: Cerita Rakyat dari sebuah buku. | Penerbit: Balai Bahasa Jawa Tengah | Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.


Penulis : ayu
Editor : bayu

Author Info

Jumlah Artikel 32 Pos