oleh

Haedar Nashir Imbau Cendekiawan Muhammadiyah Seperti Syaikh Ahmad Dahlan

MALANG, Cilacap.info – Prof Dr KH Haedar Nashir, M.Si imbau cendekiawan muhammadiyah agar seperti Syaikh Ahmad Dahlan. Yakni berfikir tidak hanya zahiriyah (lahiriah) melainkan juga harus kearah hakikat.

Hal itu disampaikannya di Universitas Muhammadiyah Malang pada Jumat 6 Maret 2020 pagi tadi.

Dalam sambutannya di Universitas tersebut, Haedar Nashir mengisahkan riwayat tentang Kiai Ahmad Dahlan.

Haedar mengisahkan bahwa pada tahun 1897 saat KH. Ahmad Dahlan dalam usia yang relatif muda, beliau telah melakukan pembaharuan di bidang keagamaan. Ide-ide pencerahan pendiri Muhammadiyah itu pada mulanya mendapatkan banyak penolakan dari para tetua Kauman, Yogyakarta. Salah satu ide yang menjadi kontroversi adalah tentang pembentulan arah kiblat.

“Dahlan muda saat itu dia lahir dalam kultur santri yang tradisional, namun setelah itu beliau hadir sebagai seorang pembaharu. Beliau juga dia ke Mekkah, Arab. Saat itu di Arab sedang ranum dengan wahabiyah, tapi Dahlan pulang ke tanah air dan tidak terjebak dengan wahabiyah dia pulang menjadi seorang mujaddid.” Terang Haedar.

Haedar mengatakan bahwa KH. Ahmad Dahlan merupakan seorang cendekiawan yang mampu mengkapitalisasi ilmu yang dimilikinya untuk membaca arah zaman yang akan dihadapi. Setelah membaca kompas zaman, menurut Haedar, KH. Ahmad Dahlan mampu mengkonstruksikannya menjadi mesin yang berkemajuan.

“Harus seperti Kyai Dahlan, kaum cendekiawan mesti berpikir subtantif sampai pada tahap hakikat. Sekarang kita berada dalam simulakra. Di mana banyak realitas buatan. Kalau tidak hati-hati, maka kita hanya akan melihat apa yang nampak, dan melupakan apa yang tidak nampak, yang sebetulnya itu hakikat dari kebenaran. Karena itu, cendekiawan Muhammadiyah harus berpikir jernih mampu melihat hakikat segala realitas.” Tegas Haedar seperti yang dirilis Muhammadiyah Online.