Dekati Pendengar Muda, Lembaga Penyiaran Perlu Perkuat Konten Medsos

Dicky Hendro Wicaksono saat memaparkan materi pada kegiatan peningkatan SDM Penyiaran (Foto Asep)
Dicky Hendro Wicaksono saat memaparkan materi pada kegiatan peningkatan SDM Penyiaran (Foto Asep)

BANYUMAS, CILACAP.INFO  – Media penyiaran konvensional televisi dan radio saat ini perlahan mulai memasuki masa senjakala, namun tidak serta merta harus ditelan secara mentah-mentah.

Senjakala itu hanya untuk mereka yang tidak mau berevolusi dan berekspansi.

“Sudah saatnya radio sekarang berevolusi, berevolusi menjadi ruang interaksi yang lebih luas dan tanpa batas, kalau itu tidak dilakukan, non sense,” kata Dicky Hendro Wicaksono, S. T. station manager Solo Radio saat memaparkan materi strategi berjaya dan bertahan lembaga penyiaran yang diselenggarakan KPID Jawa Tengah pada Rabu, 24/06/2026 di Aston Purwokerto Hotel & Convention Center.

Evolusi dan ekspansi menjadi penting dilakukan karena masa dahulu radio dan televisi dikenal saat mereka memutar knop frekuensi, tapi sekarang radio dan televisi dikenal karena adanya interaksi di media sosial.

“Mulai umur 20 tahun sampai 30 tahun sekarang tidak mendengarkan radio, mereka tahu radio dari mana ? Dari interaksi sosial media,” ungkapnya.

Pentingnya ekspansi dari radio ke media sosial maupun sebaliknya bertujuan untuk mencari pendengar baru.

Disamping itu infrastruktur penunjang mulai dari sumber daya manusia (SDM), multiplatform, pengolahan data harus ditingkatkan.

Istilah publik masa lalu yang bahkan bagi segelintir orang menjadi bahan candaan “Menonton Radio” saat ini menjadi kenyataan.

Bukan pesawat radio yang ditonton melainkan proses siarannya aktivitas produksi radio yang ditonton melalui media sosial.

Menurut Dicky, ekspansi eksternalnya ialah dengan memanfaatkan aset yang dimiliki pemilik radio.

Semisalkan menjadi event organizer (EO) masuk ke komunitas maupun mengunjungi tempat keramaian bahkan pemanfaatan aset lokasi semisal penyewaan tower untuk provider dan sewa ruang dan tempat.

Hal krusial terjadi saat ide evolusi dari tim manajerial berbenturan dengan pemilik radio maupun televisi yang belum ingin berevolusi.

Dalam sesi tanya jawab, dijelaskan Dicky perubahan tidak harus dari pemilik, dari tim paling bawah pun bisa didiskusikan. Kuncinya ialah pemilik lembaga penyiaran harus mau mengembangkan.

“Kalau pemilik memang hitungannya margin dan margin, selama di level manajerial bisa menghitung, sehingga dari situ bisa terbentuk tugas masing-masing tim,” jelas Dicky.

Pada sesi yang sama, Prof. Dr. Suliyanto, S. E., MM akademisi Universitas Jenderal Soedirman menambahkan beberapa langkah awal dapat dimulai dengan cara duduk bersama dan mengomunikasi kepada pemilik seperti potensi dan konsekuensi apa yang didapat jika berubah dan tidak berubah.

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait