Pimpinan Ponpes di Pekalongan Diamankan Polisi Buntut Dugaan Asusila ke Santriwati

Unit Reskrim Polres Pekalongan tangkap Pimpin Ponpes atas dugaan asusila ke Santriwati
Unit Reskrim Polres Pekalongan tangkap Pimpin Ponpes atas dugaan asusila ke Santriwati

PEKALONGAN, CILACAP.INFO – Viral berbulan-bulan video dan narasi seorang santrawati jebolan ponpes Padang Ati Pekalongan berinisial F (22) hamil dan melahirkan tanpa ditiduri lelaki.

Tidak hanya pengakuan mengejutkan yang terkesan mistis, Santriwati F beserta orang tuanya bahkan menolak ketika pihak kepolisian membujuk F untuk melakukan tes DNA.

Baik orang tua maupun anak mengaku pasrah, tapi netizen menimpali, mereka mengatkan begitu janggal. “Jika Bayi itu adalah anugerah dan Kuasa Illahi, ko bisa bayi yang lahir dari rahimnya sendiri malah diadopsikan ke orang Banjarnegara, bukannya ajaib malah terkesan aib,” ujar salah satu warganet mengomentari unggahan yang viral di linimasa sosial media.

Namun pihak kepolisian tidak berhenti sampai di sana, kepolisian yang dalam hal ini Polres Pekalongan mencoba menggali informasi, yang ternyata didapati ada 6 santriwati lain mengakui pernah mendapat perlakuan tak terpuji.

Keenam santriwati itu mengaku bahwa dirinya pernah dilecehkan oleh Kiai pengasuh pondok pesantren (ponpes) nya sendiri.

Kapolres Pekalongan Kota AKBP Riki Yariandi menyatakan bahwa pengungkapan kasus ini sempat menghadapi kendala dikarenakan informasi yang beredar sangat terbatas.

Polisi kemudian menginstruksikan jajaran Satreskrim untuk melakukan pendekatan secara langsung kepada keluarga-keluarga korban.

“Awalnya, informasi mengenai kasus ini sangat sulit diperoleh. Kami meminta jajaran reskrim untuk mendekati para keluarga korban secara pribadi. Alhamdulillah, akhirnya beberapa korban bersedia untuk melapor,” ungkapnya.

Dari pemeriksaan awal, para korban melaporkan mengalami pelecehan seksual dengan cara yang sama.

Terduga pelaku disebut sering meminta santriwati untuk memijat tubuhnya.

Dalam kondisi tersebut, korban diminta untuk memegang bagian intim pelaku.

Sejumlah korban juga melaporkan pernah mengalami perabaan di area dada dan genital.

Riki menduga jumlah korban dapat meningkat. Saat ini, polisi terus berusaha mengajak korban lain untuk berani melapor, termasuk seorang perempuan yang diduga pernah hamil dan melahirkan akibat kasus serupa.

“Jumlah korban bisa saja bertambah. Ada informasi mengenai salah satu korban yang sampai hamil dan melahirkan, namun yang bersangkutan masih enggan untuk berbicara. Ia berada di Kabupaten Pekalongan,” tambahnya.

Untuk mempermudah proses pelaporan, pihak kepolisian telah membuka posko pengaduan serta menyediakan layanan pendampingan psikologis bagi para korban.

Sementara itu, area pondok pesantren telah diberi garis polisi. Semua kegiatan belajar mengajar di lokasi tersebut ditangguhkan untuk kepentingan penyidikan.

Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait