Membangun Indonesia Dari Desa, Catatan Hadenas 2026

Membangun Indonesia Dari Desa Selamat Hari Desa Nasional (HADENAS) 2026
Membangun Indonesia Dari Desa Selamat Hari Desa Nasional (HADENAS) 2026

CILACAP.INFO — Peringatan Hari Desa Nasional (Hadenas) 2026 di Indrakilo Lapangan Desa Butuh, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Kamis, (15/1/2026), bukanlah acara seremonial tanpa makna, tapi kegiatan ini merupakan wujud kebersamaan yang kompak, berdiri sama tinggi, duduk sama rendah, tanpa menonjolkan warna yang dominan. Di sanalah kami berdiri, dalam satu ikatan pengabdian, membangun Indonesia dari desa.

Meneguhkan Kembali Undang Undang Desa

Kegiatan peringatan Hadenas ini merupakan peristiwa penting yang menegaskan pengakuan serta kepastian hukum desa dalam sistem ketatanegaraan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan kepada sejarah ditetapkannya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa pada tanggal 15 Januari 2014.

Maka tanggal penetapan UU Desa yakni 15 Januari diambil sebagai Hari Desa Nasional (Hadenas), dan secara resmi ditetapkan melalui Keputusan Presiden (Keppres) momor 23 tahun 2014, berlaku sejak Keppres ditandatangani, pada tanggal 31 Juli 2024,

Oleh karenanya Hadenas adalah momen penting peringatan atas peristiwa sejarah yang menyimpan makna besar bagi masa depan desa-desa di Indonesia.

Antusiasme Peserta HADENAS 2026

Kamis pagi, 15 Januari 2026, yang dalam penanggalan Jawa sebagai bulan kapitu yang biasanya hari dikerapi dengan hujan, kali ini rupanya alam semesta merestui, cuaca terlihat temaran, bersahabat seraya turut serta merestui pertemuan para pelayan desa seliruh Indonesia.

Dari lokasi kegiatan yang berlangsung, kami menyaksikan langsung antusiasme dari ribuan peserta yang hadir, dari beragam kalangan terpantau, dan terlihat dari pakaian yang mereka kenakan.

Pakaian batik menunjukkan pakaian kedinasan mereka, mulai Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Daerah, dan bahkan punggawa Pemerintahan Desa mulai dari kepala desa, anggota BPD, perangkat desa, lembaga kemasyarakatan desa.

Pakaian putih-putih biru yang menunjukkan seragam dari para Tenaga Pendamping Profesional (TPP) yang terdiri dari Tenaga Ahli (TA), Pendamping Desa (PD), Pendamping Lokal Desa (PLD). Adapun lainnya merupakan tamu undangan dengan pakaian kebesaran serta adat mereka, hingga bejibun banyak masyarakat yang hadir dengan wajah-wajah bersahaja dan penuh harap.

Desa menjadi Pusat Perhatian

Rasa haru-biru mereka terlihat seperti wajah langit saat itu, sulit disembunyikan. Oleh sebab karena selama ini desa kerap dipandang sebagai pelengkap, namun pada kesempatan ini, pada peringatan Hari Desa Nasional (Hadenas), Desa menjadi pusat perhatian. Pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten berkumpul bersama rakyat desa, merayakan Hari Desa Nasional dengan kesederhanaan namun sarat makna.

Hadenas merupakan ikhtiar negara untuk memaksimalkan potensi desa sekaligus mewujudkan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, demikian Menteri Desa PDT Yandri Susanto mengemukakan, khususnya cita ke-6: membangun dari desa dan dari bawah.

“Desa bukan lagi objek pembangunan, melainkan subjek utama. Kerangka ekonomi dan kebudayaan desa diarahkan menuju keadilan dan kesejahteraan yang merata di seluruh nusantara,”

“Di sinilah optimisme itu tumbuh-bahwa desa ke depan akan menjadi tulang punggung negara, menjadi masa depan bagi warga masyarakatnya, dan menjadi fondasi kuat bagi Indonesia yang berdaulat dan sejahtera.” Terangnya Mendes Yandri Susanto dalam pidato Hadenas 2026, Kamis (15/1).

Apresiasi dan Harapan

Beragam rangkaian acara Hadenas 2026 digelar guna memberi ruang apresiasi, dan harapan. Penghargaan Hari Desa Nasional 2026 diberikan kepada desa-desa berprestasi dari berbagai kategori. Di samping itu juga kepada program-program berbasis desa dari kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah.

Demikian apresiasi sebagai nilai bahwa penghargaan ini bukan tentang siapa yang paling hebat, melainkan pengakuan bahwa kerja sunyi di desa akhirnya terlihat dan dihargai. Walau hingga kini penghargaan belumlah sampai kepada pendamping desa (TPP) yang selama ini memberikan fasilitasi dan pendampingan kepada desa dalam penyelenggaraan pembangunan maupun pemberdayaan masyarakat desa.

Deklarasi Boyolali

Peringatan Hadenas 2026 jadi momen Penandatanganan Deklarasi Boyolali sebagai simbol komitmen bersama: bahwa pembangunan desa harus terus diperkuat, dijaga keberlanjutannya, dan dikerjakan dengan hati.

Ada rasa bahagia yang menyelinap, namun juga terselip kesedihan. Bahagia karena desa kini mendapat tempat terhormat. Sedih karena kita tahu, pengabdian desa tidaklah mudah. Banyak kepala desa dan perangkat desa yang bekerja dalam keterbatasan, menghadapi kritik, tekanan, bahkan salah paham. Namun Hari Desa Nasional 2026 menjadi penguat batin-bahwa pengabdian ini tidak sia-sia. Bahwa ketika desa bersatu, Indonesia akan tumbuh dengan kokoh.

Kolaborasi Semua Pihak

Acara di Indrakilo Lapangan Butuh, Mojosongo, Boyolali ini menandai kick-off Hari Desa Nasional (Hadenas) 2026 yang diprakarsai oleh kepala desa se-Jawa Tengah, asosiasi desa se-Indonesia, OPD, Forkopimda, Ketua PKK, Tenaga Pendamping Profesional (TPP) Jawa Tengah, hingga jajaran Menteri Kabinet Merah Putih.

Kolaborasi itu tentunya juga dengan berbagai pihak, termasuk jajaran pers dan media, menjadikan Hari Desa Nasional (Hadenas) bukan hanya perayaan tahunan, melainkan gerakan berkelanjutan membangun Indonesia dari desa.

Semoga semangat Hadenas (Hari Desa Nasional) 2026 menjadi gema kebangkitan pembangunan desa ke seluruh kabupaten dan kota di Indonesia, tentunya dengan semangat visi yang sama dibuktikan di daerah masing-masing.

Dari desa, kita belajar ketulusan. Dari desa, kita merawat persatuan. Dan dari desa pula, masa depan Indonesia sedang kita bangun-bersama, dengan harapan yang tak pernah padam.
Salam MERDESA. (IHA)

Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait