Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau sebagai Solusi Revitalisasi Kota: Studi Kasus Bekas TPSS Menjadi Taman Bunga di Bangko

DLH Bangko Jambi
DLH Bangko Jambi

Setelah itu, lahan diratakan menggunakan susunan batu bata dan tanah timbun agar siap ditanami. Tahap ini penting untuk memastikan tanah cukup stabil sekaligus mendukung pertumbuhan tanaman hias yang akan ditanam.

Yang menarik dari proyek ini adalah bagaimana DLH memanfaatkan sumber daya internal. Tidak ada alokasi anggaran khusus dari pemerintah daerah untuk pembangunan taman tersebut. DLH menggunakan bibit tanaman yang masih tersedia dari pengadaan sebelumnya. Pegawai DLH sendiri turun langsung melakukan penanaman dan penataan tanpa melibatkan pihak ketiga. Pendekatan mandiri ini menunjukkan kreativitas dalam mengolah modal yang ada sehingga tetap menghasilkan proyek yang berdampak luas bagi masyarakat.

Proses penanaman dilakukan secara bertahap untuk memastikan tanaman beradaptasi dengan kontur tanah yang baru. Tanaman hias dipilih terutama karena tampilannya yang menarik dan perawatannya yang relatif mudah.

Penataan tanaman juga memperhatikan estetika dan visibilitas dari jalan, sehingga taman terlihat rapi dan mencolok. Dengan begitu, taman bunga ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang hijau, tetapi juga sebagai ornamen kota yang mempercantik kawasan.

Manfaat Sosial dan Ekologis dari Taman Bunga

Revitalisasi ini membawa dampak nyata bagi lingkungan dan masyarakat Bangko. Dari sisi ekologi, tanaman yang ditanam berperan dalam meningkatkan kualitas udara. Walaupun skalanya tidak sebesar hutan kota, tetapi kehadiran vegetasi baru tetap membantu menyerap polutan dan menurunkan suhu mikro di area sekitar. Tanah yang sebelumnya tidak produktif kini kembali berfungsi sebagai media resapan air hujan, mengurangi risiko limpasan dan genangan.

Dari sisi sosial, taman bunga menjadi ruang baru yang menyenangkan bagi warga. Lokasinya yang strategis memungkinkan masyarakat menikmati suasana hijau saat melintas. Taman juga menjadi tempat warga beristirahat sejenak atau sekadar mengambil foto untuk mengabadikan momen. Ruang publik seperti ini seringkali menjadi pemicu interaksi sosial yang positif dan menumbuhkan rasa memiliki masyarakat terhadap lingkungannya.

Selain estetika dan fungsi ekologis, proyek ini juga memberikan edukasi tidak langsung kepada masyarakat. Dengan adanya taman yang tercipta dari lahan bekas TPSS, warga dapat melihat bahwa perubahan lingkungan tidak harus dilakukan dengan anggaran besar. Kesadaran warga terhadap pentingnya merawat ruang publik pun meningkat karena mereka menyaksikan sendiri manfaat adanya RTH.

Tantangan Keberlanjutan dan Harapan ke Depan

Meskipun taman bunga ini telah berhasil diwujudkan, keberlangsungannya sangat bergantung pada pemeliharaan jangka panjang. Tanpa perawatan yang rutin, tanaman berisiko layu, rusak, atau tertutup sampah dari oknum yang tidak bertanggung jawab. Karena itu, DLH Bangko perlu terus menjaga kondisi taman, baik melalui penyiraman, pemangkasan, maupun pengawasan kebersihan. Di sisi lain, partisipasi masyarakat menjadi kunci penting agar taman tetap terawat dan tidak kembali disalahgunakan sebagai tempat pembuangan sampah.

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait