Celah Pasar Online Produk Pertanian

by
Indonesia

OLEH : AJI SETIAWAN

PANDEMI COVID-19 DISEBUT TELAH MENGAKSELERASI PENGGUNAAN TEKNOLOGI DARING DENGAN MEMANFAATKAN KANAL PENJUALAN DIGITAL. PELAKU UMKM DIMINTA MEMANFAATKANNYA SECARA OPTIMAL TERLEBIH DENGAN TERJADINYA PERUBAHAN PERILAKU KONSUMEN SELAMA PANDEMI.

Digitalisasi dalam bidang pertanian (digital Farming ) menjadi kebutuhan karena ini berkaitan dengan penerapan era new normal, ada perubahan perilaku ke digital, memang ada beragam aspek yang dipertimbangkan, tapi ini merupakan tantangan sekaligus peluang terutama bagi pengembangan bisnis.

Inovasi teknologi digital yang baru dilaunching adalah sistem informasi berbasis manajemen mulai dari produksi pertanian, manajemen pengelolaan, informasi seputar kelompok bisnis, prospek hasil pertanian hingga tata cara memasarkan hasilnya (marketing)

Komoditi yang dijual dari hasil pertanian berbasis daring yang sedang marak di Indonesia merupakan kualitas ekspor seperti brokoli, buncis, buncis kenya dan lettuce head, di samping memberikan kemudahan masyarakat dalam mengakses bahan pangan lainnya. Data yang disampaikan menyebutkan bahwa peralihan ke penggunaan teknologi digital itu mencapai 36 persen, terutama di kalangan UMKM. Tren tersebut diyakini terus meningkat mengingat jumlah pengguna internet yang cukup berlimpah. Ceruk ini harus benar-benar bisa dimanfaatkan.

Tidak saja ceruk pasar luar negeri, ceruk pasar dalam negeri juga bisa digarap seperti sayur online dengan bekerja sama dengan ojol. Tentu saja teknologi daring, ini hampir sama dengan konsep Just In Time (JIT), bekerja saat diperlukan, jadi barang produksi langsung dikirim ke konsumen pada saat diperlukan sesuai jumlah pesanan sehingga tidak ada penumpukan barang di gudang yang mengakibatkan pembusukan produk hasil pertanian.

Manajemen tepat waktu, produk yang segar dalam kemasan, harga yang terjangkau dan mudah di dapat menjadi salah satu keunggulan produk daring hasil pertanian walau terpisah jarak dan semua tinggal pesan via online.

Komentar