BMKG: La Nina Pengaruhi Curah Hujan Naik 20 – 40 Persen, Waspada Bencana Alam

oleh

TEMANGGUNG, CILACAP.INFO – Sejumlah wilayah di Indonesia telah diguyur Hujan dari sedang hingga tinggi, bahkan berdampak terjadinya Banjir dan Longsor, seperti di Sukabumi dan Garut baru-baru ini.

Hal itu disinyalir karena adanya fenomena La Nina di Indonesia, seperti yang dikatakan Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati.

Berdasarkan keterangannya dalam rilis BMKG.GO.ID, bahwa kondisi tersebut dapat berpotensi meningkatnya curah hujan 20%-40% di sebagian besar wilayah Indonesia. Bahkan presiden pun sudah mengingatkan untuk mewaspadai bencana hidrometeorologi yang dapat dipicu oleh dampak adanya La Nina.

“BMKG sudah menghitung seberapa besar dampak La Nina terhadap potensi peningkatan curah hujan, termasuk di wilayah Jawa. Yang akan mengalami kenaikan 20% – 40% tersebut sebagian besar di wilayah Jawa bagian selatan dan timur. Untuk wilayah Temanggung, alhamdulillah Pak Bupati, peningkatannya tidak signifikan. Namun meskipun begitu tetap harus waspada, karena tanpa La Nina pun curah hujan bulanan di Wilayah Kabupaten Temanggung termasuk kategori tinggi, sehingga beberapa titik di wilayah Temanggung rawan longsor saat musim hujan, terutama pada lereng-lereng gunung/pegunungan.” Jelas Dwikorita di Temanggung.

Baca Juga :   Update Prakiraan Cuaca di Kabupaten Kebumen Jum'at 14 Februari 2020

Lebih lanjut, Dwikorita menegaskan “Berdasarkan informasi tersebut maka perlu diwaspadai bersama potensi curah hujan yang akan terjadi dan dampaknya terhadap kegiatan pertanian. Sehingga penting kiranya untuk dapat melakukan perencanaan dan upaya intervensi untuk mencegah kerusakan maupun dampak lainnya. Sehingga produksi pertanian dapat tumbuh secara optimal.” Ucapnya.

Sebelumnya, BMKG juga merilis tentang La Nina, bahwa Hingga akhir September 2020 lalu pemantauan terhadap anomali iklim global di Samudera Pasifik Ekuator menunjukkan bahwa anomali iklim La-Nina sedang berkembang.

Indeks ENSO (El Nino-Southern Oscillation) menunjukkan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik tengah dan timur dalam kondisi dingin selama enam dasarian terakhir dengan nilai anomali telah melewati angka -0.5°C, yang menjadi ambang batas kategori La Nina. Perkembangan nilai anomali suhu muka laut di wilayah tersebut masing-masing adalah -0.6°C pada bulan Agustus, dan -0.9°C pada bulan September 2020.

Baca Juga :   Cilacap Raih Juara 1 Java’s Potential Investment Challenge 2019

BMKG dan pusat layanan iklim lainnya seperti NOAA (Amerika Serikat), BoM (Australia), JMA (Jepang) memperkirakan La Nina dapat berkembang terus hingga mencapai intensitas La Nina Moderate pada akhir tahun 2020, diperkirakan akan mulai meluruh pada Januari-Februari dan berakhir di sekitar Maret-April 2021.

Catatan historis menunjukkan bahwa La Nina dapat menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi jumlah curah hujan bulanan di Indonesia hingga 40% di atas normalnya. Namun demikian dampak La Nina tidak seragam di seluruh Indonesia. Pada Bulan Oktober-November, peningkatan curah hujan bulanan akibat La Nina dapat terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia kecuali Sumatera. Selanjutnya pada Bulan Desember hingga Februari 2021, peningkatan curah hujan akibat La Nina dapat terjadi di Kalimantan bagian timur, Sulawesi, Maluku-Maluku Utara dan Papua.

Baca Juga :   TNI Polri Razia Pengguna Jalan yang tak Pakai Masker di Kesugihan

Pada Bulan Oktober ini beberapa zona musim di wilayah Indonesia diperkirakan akan memasuki Musim Hujan, di antaranya: Pesisir timur Aceh, sebagian Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Pulau Bangka, Lampung, Banten, sebagian Jawa Barat, sebagian Jawa tengah, sebagian kecil Jawa Timur, sebagian Kalimantan Barat, sebagian Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, sebagian Kalimantan Timur, sebagian Kalimantan Utara, sebagian kecil Sulawesi, Maluku Utara dan sebagian kecil Nusa Tenggara Barat. Peningkatan curah hujan seiring dengan awal musim hujan disertai peningkatan akumulasi curah hujan akibat La Nina berpotensi menjadi pemicu terjadinya bencana hidro-meteorologis seperti banjir dan tanah longsor.

Para pemangku kepentingan diharapkan dapat lebih optimal melakukan pengelolaan tata air terintegrasi dari hulu hingga hilir misalnya dengan penyiapan kapasitas sungai dan kanal untuk antisipasi debit air yang berlebih.

Masyarakat diimbau agar terus memperbaharui perkembangan informasi dari BMKG dengan memanfaatkan kanal media sosial infoBMKG, atau langsung menghubungi kantor BMKG terdekat.