Aku Sudah Tidak Mau Meliput Lagi

by

Mental Prajurit. Sudah lama aku pensiun dini. Aku sudah tidak mau meliput lagi. Cost nya sangat besar, tidak sepadan dengan yang diterima. Bahkan media sekarang tidak membayar penulisnya. Nulis gratis.

Media sedang mengalami resesi global. Iklan yang dipasang belum mampu menutup biaya produksi. Seorang penulis, kata senior saya berangkat dari reporter.

Kamu harus meliputnya jam sekian, tempatnya di sana, ketemu dengan siapa, yang dibahas ini itu dan biayanya kamu minta ke kantor redaksi. Idealnya memang begitu.

Sejak itu, metode paparazi tentu bukan hal elok. Freelancer, freelencer, penulis lepas dan bebas bisa jadi sebagai salah satu sarana membuka ruang kebebasan untuk berekspresi menyatakan pendapat, sembari ketemu orang.

Ketika media tidak mampu lagi mewadahi banyak orang. media itu akan ditinggalkan khalayak pelan pelan. Oplah akan menurun, dan pengiklan akan lari.

Media itu itu tengah sakaratul maut yang sangat panjang dan tak berkesudahan. Kawan saya seorang wartawan perang. Di tahun akhir 90 an, seorang teman saya di kirim ke bekas negara pecahan uni Soviet, Afganistan, Irak dan tak jauh lah dari negeri orang, di dalam negeri sendiri Gerakan Aceh Merdeka (GAM) saat itu dipuncak eskalasi kecamuk perang frontal.

Sebagai wartawan perang, yang dibutuhkan adalah semangat, keberanian, kemampuan mendengar dan mampu memotret suasana serta menuliskannya dengan runtut dan sistematis.

Menulis berdasar fakta, merangkai kata dan bermain bahasa melalui narasi dan semacam itu menjadi jurnalistik realism. Aliran yang tidak sekedar menulis berita. Tidak sekedar investigasi dan melacak akar masalah serta kejadian.

Saya pertama kali menulis investigasi reporting ketika terjadi situasi yang hampir persis seperti sekarang, ketika nelayan tradisional kebanyakan tidak punya penghasilan dan banyak terjerat hutang. Malang melintang hampir sebulan keliling pantai Utara Jawa, naik Alfa ku bersama sahabat sahabat seperjuangan.